Kita awali uraian ini dengan fragmen dialog Sayyidina Ali dengan muridnya yang sangat bermakna berikut ini. Beliau bertanya kepada muridnya begini: Jika di tangan saya ada uang sepuluh dirham, lalu saya sedekahkan tiga dirham, berapa sisa uang saya? Muridnya menjawab: Masih tujuh dirham. Sayyidina Ali berkata: Salah, yang benar uang saya masih tiga dirham karena apa yang saya sedekahkan itulah yang sudah pasti tercatat sebagai amal saleh, sementara selebihnya belum tentu. Selain itu, taujih dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah berikut ini juga sangat menarik untuk direnungkan. Beliau menjelaskan bahwa setiap nafas yang terhembus bukan untuk bertaqarrub kepada Allah, adalah sebuah penyesalan kelak di hari akhir.
Meskipun pendek dan simpel, dua quote di atas mengandung kejelasan orientasi dan makna hidup. Menggambarkan adanya hasrat untuk mencapainya, yakni hidup yang bermakna. Sebuah orientasi dan makna hidup yang menuntun bagaimana seharusnya memperlakukan dunia, bagaimana manusia berperilaku di dunia, apa makna hidup di dunia ini dan bagaimana menggapai hidup yang bermakna. Tidak banyak orang yang mencoba bertanya kepada dirinya sendiri atau berdialog secara imajiner tentang apa sebenarnya makna hidupnya, bagaimana hidup yang bermakna itu, masihkah dirinya punya hasrat untuk hidup bermakna? Setidaknya itulah yang dialami penulis. Kehidupan ini dijalani hanya bagaikan sebuah roda yang berputar menjalankan rutinitasnya. Karena itu ada baiknya dialog imajiner ini, penulis tuangkan dalam Hikmah Jum’at kali ini, siapa tahu di luaran sana ada yang sama dengan penulis.
Fiktor Frankl seorang tokoh Yahudi, melalui teori Logoterapinya pernah menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kebebasan untuk menentukan sikap (freedom to take stand). Dalam arti untuk menentukan kehidupannya menjadi lebih baik dan berkualitas. Karena manusia pada dasarnya adalah the self determining being. Dalam konteks ini manusia bisa menentukan dan memilih makna hidupnya dan memilih untuk hidup bermakna atau tidak. Lalu, secara kodrati manusia di-setting dengan hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning). Jadi jika manusia hidup hanya menjalani rutinitas yang tanpa makna, sejatinya sedang menyalahi kodratnya sendiri. Hasrat demikian itu akan menuntun pada kehidupan manusia yang bermakna (meaningful life).
Apa yang diteorikan oleh Fiktor Frankl di atas tampaknya sebagai sesuatu yang sifatnya given pada diri manusia. Dalam bahasa yang lain, Islam mejelaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi kemanusiaan. Dengan demikian Hidup yang Bermakna menurut Islam adalah yang memberikan manfaat bagi lainnya. Hal itu sebagaimana hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Aththabraniy berikut ini.
عن ابن عمر رضي الله عنهما: أن رجلا جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله أيُّ الناس أحبُّ إلى الله فقال: أحبُّ الناس إلى الله أنفعهم للناس، وأحبُّ الأعمال إلى الله عز وجل، سرور تدخله على مسلم، تكشف عنه كربة، أو تقضي عنه دينا، أو تطرد عنه جوعا، ولأن أمشي مع أخ في حاجة، أحبُّ إلي من أن أعتكف في هذا المسجد، يعني مسجد المدينة شهرا
Dari Ibnu Umar ra. ”Ada seorang lelaki sowan kepada Kanjeng Rasul saw. lalu bertanya: Wahai Rasulullah, manusia macam apakah yang paling dicintai oleh Allah? Rasulullah bersabda: Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Sedangkan amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang membuat seorang muslim merasa senang atau bahagia. Yakni amal yang bisa menjadi solusi atau menyelesaikan, menuntaskan persoalan yang dihadapi oleh orang lain, atau membayarkan hutangnya, atau mengatasi kelaparannya. Dan sungguh bahwa saya lebih senang ketika beramal untuk memenuhi kebutuhan saudara (orang lain) dari pada beri’tikaf sebulan lamanya di masjid ini yakni masjid Nabawiy.
Jika demikian, maka makna hidup adalah kemanfaatan hidup bagi kemanusiaan. Itu sejatinya dan idealnya. Sederhananya Rasulullah telah memberikan penjelasan bahwa hidup bermanfaat itu, beramal yang bisa membuat orang lain senang atau bahagia. Misalnya, yang terbiasa cemberut biasakan dengan tersenyum. Asalkan jangan senyam-senyum sendiri. Mengucapkan terima kasih atas informasi yang diberikan oleh seseorang meskipun kita sudah tahu lebih dulu. Itu contoh sederhana perbuatan yang menyenangkan orang lain, dan itu menjadikan hidupnya bermanfaat. Masalahnya adalah, sekedar ucapan terima kasih-pun kadangkala berat diucap untuk informasi yang sudah ditahu lebih dulu. Tidak jarang orang berat menjawab dengan terima kasih dan memilih menjawab saya sudah lebih duluan tahu, untuk informasi yang diberikan oleh orang lain. Jadi, hidup bermakna (meaningful life) itu sejatinya bisa dimulai dari hal yang paling sederhana sekalipun, tentu dengan agak mengesampingkan egoisme-nya terlebih dahulu.
Senang dan bahagia yang dirasakan oleh orang lain akibat dari perilaku dan perbuatan kita itu, sebenarnya adalah apa yang akan dicari oleh setiap manusia. Terlepas dia beragama atau ateis, terlepas dia muslim atau non muslim. Semua orang pasti ingin bahagia. Berkenaan dengan ini, di dalam The Art of Happiness yang ditulis oleh Dalai Lama bersama Howard C. Culter. M.D dinyatakan sebagai berikut;
I believe that the very purpose of our life is to seek happiness. That is clear. Whether one believes in religion or not, whether one believes in this religion or that religion, we all are seeking something better in life. So I think the very motion of our life is towards happiness.
Senang dan bahagia adalah idealisme manusia. Jika kita bisa sedikit memberikan rasa senang atau bahagia kepada orang lain, itu berarti kita telah memboboti hidup kita dengan makna, karena meskipun sedikit kita telah berusaha memberikan sesuatu yang dicari oleh manusia. Terakhir, jika hidup kita belum bisa bermakna dengan cara membuat orang lain bahagia, setidaknya janganlah kita membuat orang lain susah dan bersedih. Jika kita belum bisa menjadi bagian dari solusi setidaknya janganlah kita menjadi bagian dari masalah.
Demikain Hikmah Jum’at kali ini, semoga bermanfaat dan semoga hidup kita bermakna dan bermanfaat tidak hanya bagi diri kita tapi juga bagi orang lain dan kebahagiaan semoga senantiasa membersamai kita semua. Aamiin. Billaahi fii sabiililaah.

