Sudah menjadi tradisi di bumi ini, pergantian tahun dimeriahkan dan disambut dengan gegap gempita melalui perayaan malam tahun baru. Kalau boleh bertanya, sebenarnya yang dirayakan itu apa? Pertanyaan dan uraian dalam Hikmah Jumat kali ini sepertinya sangat tidak populer, karena berlawanan dengan arus utama kultur manusia. Pada dasarnya beda dengan arus utama itu tidak masalah, asal punya prinsip yang bisa dipertanggung jawabkan di dunia dan utamanya di akhirat. Prinsip seperti itu, misalnya seperti tersirat di dalam slogan yang berseliweran di medsos berikut ini.
إذا أصبح البلد غابة ليس شرطا أن تصبح أنت حيوانا. الإنسان هو من يبقى على إنسانيته حتى لو تحول كل من حوله وحوشا
Ketika sebuah desa/daerah/negeri telah menjadi hutan belantara, tidak berarti Anda harus menjadi binatang. Karena sejatinya manusia itu adalah mereka yang masih tetap konsisten dengan kemanusiaannya walaupun orang di sekelilingnya telah menjadi binatang buas.
Raya yang artinya agung adalah asal kata perayaan. Merayakan berarti memuliakan, memperingati, mempestakan suatu peristiwa penting atau agung. Perayaan berarti acara yang diselenggarakan untuk memuliakan suatu peristiwa penting atau agung. Ada perayaan Hari Kemerdekaan, karena agungnya peristiwa kemerdekaan bagi suatu bangsa. Perayaan Maulid Nabi, karena kelahiran Kanjeng Nabi adalah sesuatu yang agung. Perayaan Hari Jadi Kota tertentu, karena momentum kelahiran Kota adalah hal yang sangat penting dalam laku sejarah masyarakat tertentu.
Nah, kalau pada Perayaan Malam Tahun Baru, apa yang dirayakan? Ada yang mengatakan tahun baru adalah datangnya harapan baru. Ini sedikit ada benarnya, karena manusia memang harus menatap masa depan dengan optimisme, meskipun harapan itu sesuatu yang belum pasti kehadirannya. Harapan, idealnya disambut dengan muhasabah, usaha dan doa, bukan dengan pesta-pora. Sementara itu yang dilakukan dalam Perayaan Malam Tahun Baru, justru kebalikannya. Yang dilakukan jika bukan kemaksiatan setidaknya kemubadziran. Menurut berbagai sumber, perayaan malam tahun baru (2019) di berbagai negara ada yang menghabiskan ratusan miliar rupiah, hanya sekedar untuk menyalakan kembang api, atau hanya untuk nyumet mrecon. Perayaan malam tahun baru, tentu boleh-boleh saja dan mengisinya dengan acara yang positif yang jauh dari kemubadziran dan kemasiatan tentu akan lebih bermakna. Misalnya, perayaannya dengan mendatangkan para fakir-miskin, anak terlantar, yatim-piatu untuk disantuni bersama-sama, berdoa besama, tumpengan bersama, tentu akan membawa berkah dalam menyambut harapan. Meskipun tawaran seperti ini amat sangat terlalu tidak populer, tapi tidak ada salahnya untuk dipopulerkan.
Yang terjadi selama ini, Perayaan Malam Tahun Baru identik dengan pesta-pora, hura-hura yang tanpa makna. Di malam tahun baru, hampir di seluruh belahan dunia sebagian besar manusia sangat ringan membuang uang untuk hal tak berguna, di malam tahun baru pula sebagian orang juga sangat ringan melakukan dosa. Oleh sebagian orang perbuatan maksiat seakan tak lagi dipandang dosa, tapi hal biasa di malam tahun baru itu. Rasulullah dalam sebuah hadisnya pernah mengingatkan bahwa meremehkan perbuatan dosa akan membinasakan pelakunya. Untungnya untuk tahun ini karena pandemi, perayaan semacam itu dilarang karena mengundang kerumunan yang potensial menularkan virus. Ternyata tanpa perayaan malam tahun baru-pun, paginya juga biasa-biasa saja. Orang Jawa mengatakan, ternyata tanpa perayaan pun juga tidak patheken.
Dalam konteks yang agak berbeda, Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Tahdzib Madaarij as-Saalikin pernah menjelaskan bahwa menganggap masih sedikit maksiat dan menganggap sudah banyak ketaatannya adalah suatu perbuatan dosa. Hla, apalagi menganggap enteng terhadap maksiat, kan lebih parah lagi itu. Berikut kutipan penjelasan beliau.
من استقلال المعصية ذنب كما ان استكثر الطاعة ذنب. والعارف من صغرت حسناته في عينه وعظمت ذنوبه عنده
Sesiapa yang menganggap sedikit maksiatnya, itu adalah dosa, sebagaimana orang yang menganggap sudah melakukan banyak ketaatan itu juga dosa. Orang yang arif adalah yang memandang masih sedikit kebaikannya di satu sisi dan sudah besar dosanya di sisi lainnya.
Jika dihayati lebih dalam, hakikat dari datangnya tahun baru adalah berkurangnya kontrak hidup manusia. Seandainya kontrak umurnya 65 tahun, maka setiap kali datang tahun baru setiap kali itu pula kontrak umurnya berkurang. Itu artinya, kematiannya semakin dekat untuk menjemputnya. Oleh karena itu aneh, orang yang semakin dekat kematiannya, dekat dengan hisabnya mandanganu kok malah dirayakan dengan berpesta pora. Inilah kamuflase terbesar dari Perayaan Malam Tahun Baru tersebut. Tapi begitulah kenyataannya, sebagaimana Allah telah ingatkan dalam QS. al-Anbiya [21]: 1.
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَـبُهُمْ وَهُمْ فِى غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ
Telah dekat kepada manusia hari hisab amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).
Karena kebanyakan manusia terhegemoni oleh budaya dan kebiasaan yang telah berjalan turun temurun, hal semacam itu berlangsung terus-menerus. Kuatnya pusaran budaya-kebiasaan yang ada, mengakibatkan hanya sedikit dari mereka yang mampu melihat daya rusak dari kebiasaan tersebut. Seakan semuanya baik-baik saja adanya, karena begitulah yang telah berjalan selama ini. Tidak adanya nalar kritis terhadap kultur yang tidak baik, dan juga karena kecenderungan untuk mengikutinya menjadikan kultur tersebut kontra produktif bagi kesalihan sebuah generasi. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu al-Jauziy (bukan Ibnul Qayyim al-Jauziyah) dalam Talbis al-Iblis berikut ini.
وقد لبس الإبليس على جمهور العوام بالجريان مع العادات وذلك من أكثر أسباب هلاكهم فمن ذلك أنهم يقلدون الأباء والأسلاف في إعتقادهم علي ما نشئوا عليه من العادة فترى الرجل منهم يعيش خمسين سنة على ما كان عليه أبوه ولا ينظر أكان على صواب أم على خطاء
Iblis berusaha mengacaukan mayoritas orang awam dengan cara ikut-ikutan menjalankan adat kebiasaan. Hal itu salah satu dari penyebab kehancuran mereka. Di antara bentuknya, mereka hanya bertaqlid (mengikuti saja) orang tua dan para pendahulu mereka dalam hal keyakinan, di mana mereka hidup di dalam adat kebiasaan tersebut. Anda bisa saksikan seseorang dari mereka yang hidup selama 50 tahun, hanya mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh orang tuanya, tanpa melihat hal itu benar atau salah.
Kalau toh Perayaan Malam Tahun Baru itu jan sayang banget untuk ditinggalkan, ya sebaiknya isilah dengan kegiatan yang bermanfaat. Hindari kemubadziran dan kemaksiatan. Karena menurut Rasulullah bagusnya keislaman seseorang dilhat dari sejauh mana ia dapat meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat. Semakin banyak ketidak-manfaatan yang dapat dihindari, maka semakin baik keislamannya.
من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه
Salah satu ukuran bagusnya kesilaman seseorang adalah ditentukan oleh sejauh mana ia mampu meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat.
Terakhir, taujih dari Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam Madarij as-Saalikin berikut ini, sangat bagus untuk direnungkan guna menatap tahun 2021 mendatang.
وكل نفس يخرج في غير ما يقرب إلي الله تعالى هو حسرة على العبد في معاده
Setiap nafas yang dihembuskan bukan untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala adalah suatu penyesalan bagi seorang hamba kelak di hari kiamat.
Demikain Hikmah Jumat kali ini, semoga bermanfaat dan semoga kita dimasukkan oleh Allah menjadi bagian dari golongan orang-orang yang beruntung dulu, sekarang dan selamanya hingga kelak di Hari Akhir. Aamiin. Billaahi fii sabiililaah.

