Site icon Baladena.ID

Hikmah Jum’at-120: Bermuhasabah dengan Umur (Bagian ke-2/Habis)

Hikmah Jum’at kali ini lanjutan dari uraian pekan lalu, dengan inspirasi yang sama. Pekan lalu telah disampaikan QS. Fathir [35]: 37 yang menjelaskan bahwa bagi yang telah dipanjangkan umurnya, sebenarnya telah didatangkan kepadanya pemberi peringatan* atau an-nadziir. Para ulama tafsir berbeda pendapat dalam menjelaskan makna pemberi peringatan tersebut. Salah satu tafsirnya seperti dijelaskan dalam Tafsir al-Qurthubiy bahwa peringatan itu dimaksudkan misalnya tumbuhnya uban, lalu banyaknya kerabat, keluarga, teman sejawat yang telah meninggal dunia, dan juga telah datangnya penyakit yang salah satunya seringnya nggregesi (al-huma). Peringatan-peringatan semacam itu bagaikan alarm bagi manusia bahwa waktu singgahnya di dunia telah hampir habis, maka harus bersegera untuk menyiapkan diri dengan bekal yang akan digunakan untuk melanjutkan perjalanan di tahap berikutnya. Jangan lagi ber-asyiq-ma’syuuq dengan kepentingan duniawiyah yang penuh intrik.

Kanjeng Nabi, pernah menjelaskan bahwa hidup di dunia ini seperti orang yang bepergian jauh, lalu di tengah perjalanan ia berteduh sejenak di bawah pohon kemudian pohon tersebut ditinggalkannya lagi. Berikut ini kutipan hadis dimaksud sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidizi.
عن إبراهيم عن علقمة عن عبد الله قال: نام رسول الله صلى الله عليه وسلم على حصير, فقام وقد اثر في جنبه فقلنا: يا رسول الله, لو اتخذنا لك وطاء، فقال: ما لي وما للدنيا ما انا في الدنيا إلا كراكب استظل تحت شجرة ثم راح وتركها
Dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah dia berkata: Rasulullah tidur di atas tikar, lalu Rasullah bangun dan tikar tersebut membekas dibahunya. Mandanganu kami berkata: Wahai Rasulullah perkanankan kami untuk membuatkan Engkau sofa. Lalu Rasulullah bersabda: Apa urusanku dengan dunia? Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, untuk beristirahat sejenak lalu meninggalkannya.

Makna hidup di dunia sebagai persinggahan semacam itu, tampaknya telah menjadi pengetahuan bersama umat manusia. Di Jawa juga dikenal istilah hidup di dunia ini ibarat hanya mampir ngombe (singgah untuk minum). Intinya sama seperti yang disampaikan oleh Rasulullah di atas, amat sangat singkat dan ia bukan tujuan. Akan tetapi pengetahuan akan kesementaraan hidup di dunia ini, tidak serta merta menyadarkan semua manusia untuk menyiapkan bekal bagi perjalanan selanjutnya yang melelahkan dan tak bertepi itu.

Dengan berbagai alasan, misalnya ada yang mengatakan bahwa manusia di usia lanjutnya justru masih bisa mengoptimalkan produktivitasnya. Bahkan ada sementara kalangan berkeyakinan bahwa pada usia 60-70 tahun ke atas, manusia tak kalah produktifitasnya dengan usia-usia di bawah 60 tahunan. Maka di usia senja manusia harus tetap produktif. Keyakinan semacam itu sah-sah saja. Yang jadi soal adalah ukuran produktifitas. Jika produktifitas di usia senja masih diukur dengan standar duniawi, maka kerugian diri yang akan menanti. *lParadigma produktifitas di usia 60-70 tahun sudah harus digeser dari produktif materiil duniawiyah menjadi produktif spiritual-ukhrawiyah. Tingkat produktifitasnya tidak lagi diukur dengan hitungan material duniawi, namun diukur dengan sejauh mana dirinya mendatangkan manfaat untuk orang lain dan menjadikan dirinya dekat dengan Rabb-nya. Riilnya, jika dulunya produktifitas diukur dengan berapa uang yang dihasilkan dalam sehari, maka harusnya sudah bergeser berapa juz al-Qur’an telah dibaca dan berapa uang telah diinfakkan di jalan Allah, misalnya.

Itulah produktifitas spiritaul-ukhrawiyah, sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan panjang, terjal, penuh liku yang melelahkan dan tak diketahui di mana ujungnya itu. Jika di usia uzur seseorang telah menggeser paradigma produktifitasnya semacam itu, maka sejatinya dirinya sedang menjadi orang cerdas dan bijak yang sejati. Ini seperti dijelaskan Rasulullah dalam sebuah hadisnya, sebagaimana dikutip oleh Syaikh Zainuddin Abdurrahman bin Rajab al-Hanbali dalam buku Kitab Ahwaal al-Qubuur wa Ahwaal Ahlihaa ilaa an-Nusyuur.
الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت والعاجز من اتبع نفسه هواها وتمنى على الله
Orang cerdas-bijak adalah orang yang mampu menundukkan nafsunya, dan ia beramal untuk bekal setelah kematiannya. Sedangkan orang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, namun dia mengharap atas (ridha-pahala) Allah.

Agar menjadi cerdas (terlebih di usia senja) seperti pesan Rasulullah yakni mempersiapkan diri dengan kehidupan setelah mati, dan tidak memperturutkan diri pada keinginan dan kepentingan duniawi lagi, nasihat Syaikh Nawawi al-Bantani dalam buku Nihayat az-Zain perlu direnungkan dalam-dalam. Beliau menjelaskan tentang bagaimana berat dan terjalnya perjuangan seorang manusia ketika sedang memasuki miqat kehidupan barunya, menuju alam kematian. Manusia berjuang sendirian menghadapi fitnah, godaan setan yang merayunya agar keluar dari keislamannya, yakni di saat seorang manusia tak mampu berbuat apapun juga. Yakni dalam keadaan sakaratulmaut. Karena itu disinilah pentingnya menemani orang yang sedang mengalami sakaratulmaut dengan menuntun lafadz laa ilaaha illa Allah. Karena kalimah thayyibah tersebut menjadi passcode seseorang menuju kehidupan selanjutnya. Berikut kutipan penjelasan Syaikh Nawawiy al-Bantaniy.

أن المحتضر إذا بلغت روحه التراقى تعرض عليه الفتن. وذالك أن إبليس لعنه الله قد أنفذ أعوانه إلي هذا الانسان خاصة واستعملهم عليه ووكلهم به وأكدعليهم بالإجتهاد في إغوائه فيأتون المرء وهو في تلك الغمرات يمثلون له في صورة أحبائه ميتين الذين كانوا يحبونه في دار الدنيا كالاب والأم والأخ والأخت والصديق الحميم فيقولون له: أنت تموت يافلان وقد سبقناك في هذا الشأن فمت يهوديا فهو دين المقبول عند الله تعالى …

Sesungguhnya orang yang sedang mengalami sakaratulmaut, ketika ruhnya sudah naik sampai ke tulang selangka, maka akan datang berbagai ujian berat kepadanya. Pada saat itu, Iblis laknatullah telah menyusupkan para pembantunya kepada manusia yang sedang mengalami sakaratulmaut ini. Iblis menggunakan mereka dan menyerahkan kepada mereka atas manusia yang sedang sakaratulmaut tersebut. Iblis mensupport bala tentaranya itu untuk bersungguh-sungguh dalam rangka menggodanya. Para setan mendatangi manusia di saat ia sedang merasakan kesengsaraan sakaratul maut tadi. Datang membo-membo (menyerupai) sebagai orang-orang yang dicintainya dan mencintainya yang mana mereka telah mendahuluinya. Setan membo-membo menjadi Ayahandanya, Ibundanya, Saudaranya atau teman-teman karibnya. Lalu mereka (merayu agar keluar dari agama Islam) mengatakan kepadanya: Nak, saat ini kamu sedang menuju kematian, dan sungguh kami telah mendahului mu dalam urusan ini. Maka meninggal lah kamu dalam keadaan Yahudi, karena agama Yahudi adalah yang diterima di sisi Allah Ta’ala

Nasehat Syaikh Nawawiy al-Bantaniy di atas tidak seharusnya membuat seorang muslim nglokro dan tak bersemangat mencari dunia, tapi idealnya justru mampu merubah cara pandang dunia seseorang (terlebih di usia uzur) bahwa dunia harus menjadi bekal ketika seseorang telah memasuki miqat kehidupan yang baru yang tak ada seorang manusia pun bisa menghindarinya.

Demikian, semoga uraian pendek Hikmah Jum’at kali ini bermanfaat. Senantiasa bermuhassabah dengan umur diri kita masing-masing, agar tak lalai dari perjalanan panjang di etape berikutnya, sehingga bisa selamat ketika memasuki miqat kehidupan baru nanti. Billaahi fii sabiilil haq. Aamiin

Exit mobile version