Site icon Baladena.ID

Hikmah Covid 19: Mengubah Mindset Katrok Belajar Anti Google

Sudah dua tahun lalu, wabah virus corona menyerang masyarakat Indonesia. Hal ini mengakibatkan banyak aktivitas yang terhambat sehingga terjadi penurunan dari beberapa aspek kehidupan sehari hari. Banyak aktivitas di luar ruangan yang kemudian dihentikan karena ada kebijakan jaga jarak aman atau social distancing. Apakah itu merugikan atau tidak?

Virus yang dinamakan dengan covid 19 ini, sejak bulan Mei 2019 telah memakan banyak korban jiwa. Penularan dari virus ini sangat rentan sekali sehingga harus benar benar tetap waspada.

Banyak pihak yang merasa dirugikan karena aktivitas yang biasa mereka kerjakan terhenti, sebab terbatas oleh ruang yang tidak bisa diterobos karena kesadaran akan penularan sudah banyak dirasakan oleh mereka. Namun dengan adanya corona, masyarakat Indonesia merasa sadar bahwa perkembangan teknologi sangat berperan dan mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Misalnya untuk sistem pendidikan saat ini. Banyak orang yang dulunya anti akut dengan google, bisa dikatakan bahwa ada beberapa orang awam yang menganggap bahwa belajar harus bertatap muka dan ada sanad dengan guru maupun ustadz. Akan tetapi, saat adanya perkembangan virus corona ini, orang tersadar bahwa mau tidak mau mereka harus mengikuti perkembangan teknologi dan tidak bisa menafikkan untuk belajar melalui google maupun media yang lain.

Padahal, teknologi yang ada saat ini, memiliki pengaruh besar terhadap kemajuan sistem belajar para pelajar dang pengajar atau guru. Kemudahan yang disediakan saat ini meminimalisir adanya alasan kebodohan akibat kurang adanya wawasan karena terbatasnya literasi.

Menurut Badan Pusat Statistik, perkembangan indikator TIK yang paling pesat terlihat pada penggunaan internet dalam rumah tangga yang mencapai angka 78,18 persen. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk yang menggunakan internet mengalami peningkatan.

Maka dari itu, dengan adanya covid 19 disamping merugikan pihak yang melakukan aktivitas diluar ruangan, justru memberikan capaian terhadap masyarakat akan mudahnya mendapatkan informasi tanpa harus menggendong buku.

Selama covid 19, seluruh Wilayah di Indonesia menerapkan sistem pembelajaran secara daring atau biasa dikatakan dalam jaringan. Jadi, kegiatan belajar dan mengajarkan dilakukan secara online melalui perantara smartphone dengan menggunakan berbagai aplikasi yang tersedia dalam smartphone misalnya ruang google meet, whatsapp video, zoom meeteng dan masih banyak lainya.

Dengan itu semua, pelajar mampu mengakses kapanpun dan dimanapun. Kegiatan pembelajaranpun tidak harus dilakukan dengan cara datang kemudian duduk mendengarkan penjelasan dari guru. Sehingga pelajar mampu belajar mandiri dan mampu memcari materi pembelajaran yang dirasa sulit.

Bisa dibilang pembelajaran melalui jaringan ini tidak efektif karena tidak maksimal dalam pengontrolan dalam proses belajar berlangsung. Akan tetapi, dengan menggunakan kebijakan online tersebut pelajar dapat memanfaatkan waktu yang seharusnya digunakan untuk duduk didalam kelas dialihkan keaktivitas yang bisa dikerjakan dalam waktu yang bersamaan sehingga terciptanya waktu yang produktif. Misalnya untuk membaca al-qur’an dan berwirausaha.

Masa perkembangan internet saat ini, masih saja ada kalangan yang anti untuk menggunakannya. Dengan dalih bahwa belajar harus ada gurunya dan belajar harus ada sanadnya. Lalu bagaimana dengan google?

Pernyataan tersebut sampai sekarang masih ada yang memperbincangkan. Padahal kita tahu bahwa dengan adanya google atau internet saat ini, sangat membantu pelajar untuk mandiri dalam belajar sehari hari. Selain itu, literasi yang didapatkan sangat banyak dan cukup luas cakupannya.

 

 

Exit mobile version