Hari Sarjana Nasional: Santri Milineal Bergelar Sarjana di Era Digital
Tepat pada tanggal 29 September, Hari Sarjana Nasional menjadi bukti bahwa
perkembangan pendidikan di Indonesia ini mengalami kemajuan yang bisa dilihat dengan
banyaknya jumlah gelar yang disandang oleh para pencari ilmu. Selain itu, jika dibandingkan
dengan zaman sebelum adanya kemajuan kemajuan yang berbasis teknologi dan sains,
jumlah Sarjana bisa dihitung dan bisa dikatakan sngat minim. Karena pada saat itu belum
adanya jaringan dan masih sedikitnya keterbukaan secara berfikir untuk jauh melangkah
menempuh pendidikan. Di samping itu, pembedaan antara Sarjana dengan santri sangat
terlihat. Karena banyak yang menganggap bahwa Santri kerjaannya ngaji dan bersarung
bahkan jarang santri yang menempuh pendidikan Sarjana. Sedangkan mereka yang
menempub gelar sarjana identik dengan mereka yang menempuh ilmu pengetahuan umum.
Hal ini terlihat sekali seperti ada sekte antara santri dan para pencari gelar sarjana.
Namun di era serba canggih dengan dan ya kemajuan teknologi memudahkan para pencari
ilmu untuk menempuh pendidikan tinggi. Bahkan sekarang ini banyak santri yang menempuh
Sarjana hingga bahkan sampai pada doktor.
Bukan hal yang aneh lagi jika seorang santri menempuh pendidikan di perguruan
tinggi.Karena justru dengan kesadaran akan menempuh pendidikan tinggi, mereka akan bisa
mengintrrgasikan antara kajian islaminya yang terdapat orientasi masa depan digunakan
untuk memahami sains dan kemajuan teknologi yang berkembang pada saat ini. Sehingga
implementasi dari menempuh pendidikan tersebut dapat menunjang untuk mengembangkan
ilmunya, selanjutnya akan terlahir nya santri yang berpendidikan umum dan sadar akan
kemajuan sains dan teknologi. Jika yang ada pada saat ini ialah Santri bersajana yang mampu
mengintegrasikan ilmunya, maka tidak perlu cemas lagi dengan urusan pekerjaan. Akan
tetapi, itu semua tidak menjamin juga untuk mendapatkan penghasilan yang berorientasi pada
material.
Sebagai sosok seorang sarjana yang berkualitas, dapat dikatakan harus mampu untuk
memahami segala pertentangan zaman dan perkembagan zaman baik dari segi ekonomi,
spiritual dan yang terpenting mampu mengembangkan ilmu sesuai dengan kejurusannya.
Jadi, seorang sarjana pada zaman milineal saat ini sudah menjadi jalan para pejuang
penghapusan kebodohan untuk menyandang gelar sarjananya, dan bahkan kalu bisa, untuk
lanjut ke doctor. Karena sesuai dengan anjuran islam bahwa menuntut ilmu tidak ada
masanya maka dari itu, lebih baik untuk melanjutkan Pendidikan diperguruan tinggi supaya
sebagai seorang muslim yang berinntelektual tidak ketinggalan dengan gempuran ramainya
persaingan dalam kehidupan nyata.
Selain itu, kita juga bisa mandiri secara intelektual dan menghilangkan pemahaman yang
sempit tentang stigma mengenai santri. Sekarang ini santri harus lebih unggul dan mampu
mengikuti dengan gempuran sains dan teknologi. Setelah itu ketika sudah menjadi sarjana
mampu merubah pemahan pemahaman yang dangkal untuk menjadi lebih terbuka , kritis dan
rasional. Dengan itu diharapkan gelar sarjana mampu memberikan dampak yang signifikan
dan tidak hanya formalitas.

