Site icon Baladena.ID

Hakikat Waktu

*Oleh: Muhammad Aufal Fresky

Setiap manusia yang dilahirkan di alam dunia ini memiliki jatah waktu sama. Dalam sehari semalam, masing-masing dari kita tidak kurang tidak lebih, jatahnya 24 jam. Sekarang hitung sendiri, berapa usia kita dan berapa jam yang telah kita lalui selama hidup.

Silakan ambil kalkulator kalau perlu. Setiap detik, menit, jam, hari, dan bahkan tahun yang berlalu pastinya mustahil untuk terulang kembali. Meskipun kita menangis merengek-rengek, yang namanya waktu tidak bisa diputar kembali. Masa lalu tinggallah cerita.

Kita hanya bisa mengenangnya dalam alam pikiran. Tapi, tidak pernah bisa request untuk kembali masuk ke dalamnya. Ragam kejadian dan momentum terekam dalam memori. Menyisakan duka, tawa, kecewa, dan mungkin bahagia yang meluap-luap.

Namun, jangan pernah sekali-kali berpikiran dan berkeinginan untuk menembus masa lalu. Sebab, itu hanyalah keinginan yang sia-sia. Maka tiada guna menyesali dan meratapi apa yang telah terlewati. Sebab, waktu terus bergerak. Kita tidak hidup di masa lalu. Tidak juga hidup di masa depan. Kita hidup di hari ini.

Ironinya, sebagian dari kita justru terjebak pada pelbagai kegiatan yang sia-sia. Bahkan, bukan sekadar sia-sia, tapi lebih cenderung tenggelam dalam lembah kemaksiatan. Lebih-lebih di era digital sekarang, di mana setiap dari kita sangat potensial terpapar kamksiatan meskipun tidak keluar dari ruang kamar sekalipun.

Ya, lewat jalur maya, kita bisa mengakses isinya dunia. Warna-warni dunia dan gemerlapnya bisa kita amati dari gawai atau ponsel kita masing-masing. Betapa banyak sebagian dari kita yang terpapar pornografi, pergaulan bebas, minuman keras, judi online, dan narkoba sebab tak mampu memanfaatkan ponsel kita masing-masing.

Umur dihabiskan begitu saja untuk melabrak larangan-larangan-Nya. Memang, sekilas seakan menjanjikan kesenengan dan kenikmatan. Tapi percayalah, itu semua semu, menjebak, dan menjerumuskan kita ke lembah kenistaan. Itu semua bisa mengundang murka dari Sang Pecipta.

Terkait hal itu, izinkan saya mengutip buku berjudul Time is Up! : Manajemen Waktu Islami, karangan Yusuf Qardhawi, disebutkan bahwa sebagian ulama arif mengatakan bahwa: setiap hamba Allah mempunyai empat waktu. Tidak ada yang kelimanya. Keempat waktu itu ialah: waktu mendapat nikmat, waktu mendapat ujian, waktu berbuat taat, dan waktu berbuat maksiat.

Pada setiap waktu itu, terdapat hak Allah, sebagai Tuhanmu, akni waktu beribadah kepada-Nya. Barangsiapa yang waktunya untuk berbuat taat, maka jalannya adalah menyaksikan anugerah Allah yang memberi petunjuk dan pertolongan untuk melaksanakan ketaatan tersebut. Barangsiapa yang waktunya untuk berbuat maksiat, maka jalannya adalah bertaubat dan memohon ampunan Allah Ta’ala. Barangsiapa yang waktunya mendapatkan ujian, aka jalannya adalah ridha dan sabardi hadapan Allah Ta’ala.

Dalam hal ini, sudah semestinya kita senantiasa memperhatikan betul dalam sehari semalam, ke mana saja waktu kita dialokasikan. Jangan-jangan, kita hanya menghadap Allah beberapa menit saja, sisanya justru terjebak dalam ragam kemaksiatan. Jangan-jangan kita habiskan sebagian besar umur kita selama hidup untuk sesuatu yang bisa merusak badan, mental, dan jiwa kita sendiri. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan tanggung jawab kita sebagai hamba Allah yang semestinya mengabdikan diri secara total melalui ibadah-ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah. Atau mungkin kita selama ini hanya pura-pura bertakwa ketika sedang dilihat orang lain.

Sementara ketika dalam kesendirian, kita justru menyerupai iblis bahkan bisa saja lebih. Padahal, dalam kesendirian itulah, ujian ketakwaaan yang sebenarnya. Apakah kita bisa mengendalikan hawa nafsu atau tidak. Apakah kita benar-benar bertakwa secara zahir dan batin. Semua kembali pada kesadaran kita masing-masing. Intinya, jangan sampai waktu kita berlalu begitu saja tanpa ada peningkatan iman, ilmu, dan amal kita.

Hemat saya, penyebab sebagian dari kita belum mampu mengatur waktu yaitu kemalasan, kelalaian, dan kebiasaan menunda. Mengenai kemalasan ini, saya pribadi juga masih berupaya memerangi habis-habiskan. Sebab, setiap waktu menghampiri. Justru di situah tantangannya. Apakah kita bisa melawan rasa malas atau justru dikalahkan oleh kemalasan kita.

Sebab, tidak aka nada yang namanya produktivitas, kreaitivitas, dan apalagi inovasi besar yang bisa kita hasilkan jika masih terpasung dengan kemalasan. Pun demikian dengan kelalaian, biasanya kita terlalu menikmati hal-hal yang menjanjikan kenikmatan semu seperti halnya ngobrol ngalur ngidul, berselancari di Instagram, Facebook, Tik Tok, dan sejenisnya, sampai berjam-jam tanpa tujuan yang jelas, dan lain sebagainya. Percayalah, hal-hal semacam itu, disadari atau tidak, benar-benal melalaikan dan menguras habis umur kita.

Demikian juga dengan kebiasaan menunda. Kita biasanya merasa memiliki banyak waktu dalam hidup kita. Lebih-lebih yang usianya masih belia/muda. Merasa jatah hidupnya masih banyak. Padahal, kita sendiri tidak tahu kapan malaikat maut akan menjemput kita. Kita juga tidak pernah tahu apakah nantinya kita masih sehat dan memiliki waktu longgar seperti halnay saat ini.

Penundaan demi penundaan ini bisa jadi sudah mandarah daging. Dikiranya masih ada esok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Padahal, kita sendiri tidak bisa menjamin betul, esok masih sehat, esok masih memiliiki waktu luang, atau esok masih hidup. Oleh sebab itulah, hemat saya, jurus ampuh atau kiat jitu untuk melawan kemalasan dan kebiasaan menunda ini yaitu harus segera bergerak dan memilih aktivitas yang produktif dan bernilai.

Entah itu membaca, menulis, berorganisasi, mengaji, berorganisasi, dan semacamnya. Pokoknya, jangan biarkan waktu berlalu tanpa faedah.

Sebab menurut pepatah Arab, “Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannnya dengan baik, aka ia yang akan menebasmu. Dan jika engkau tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.” Jadi, mari segera beranjak dari zona nyaman. Milikilah visi dan misi besar agar gerak-gerik hidup kita terarah dan tidak mudah terombang-ambing.

Milikilah target harian, mingguan, bulanan, tahunan, dan bahkan lima tahunan untuk proyek besar hidup kita. Hendak ke mana kita nantinya. Apa yang akan kita lakukan besok, lusa, dan beberapa waktu ke depan. Dan yang perlu digarisbawahi, mimpi tanpa aksi hanya akan menjadi angan-angan kosong. Pun demikian, dengan rencana tanpa tindakan, ibarat khayalan. Maka sudah semestinya kita berkomitmen untuk merencakanan apa yang akan kita lakukan dan melakukan apa yang telah kita rencanakan.

Terakhir, milikilah skala prioritas dalam hidup kita. Seperti halnya terkait aktivitas belajar, bekarya, bekerja, bersosialisasi, dan semacamnya.

Jadi, untuk memungkasi catatan ringkas ini, mari kita sadari betul bahwa waktu yang kita miliki ini sangat bernilai. Bahkan, nilainya melebihi emas, intan, berlian, dan batu permata termahal sekalipun di muka bumi. Segala hal di dunia ini, termasuk emas misalnya, jika hilang, masih bisa kita cari lagi. Lah kalau waktu yang hilang, hendak ke mana kita memintanya lagi? Kalau umur kita habis, hendak ke mana kita minta isi ulang? Maka mumpung nafas masih di kandung badan, mari kita menanam kebaikan.

Sebab, saya pribadi yakin, siap saja yang menanam, nantinya akan memanen. Oleh karena itu, tanamlah sebanyak mungikin benih-benih kebajikan sebelum kita menyesal di hari kemudian. Hiduplah hari ini. Jangan sesali masa silam. Jangan khawatirkan masa depan. Sekali lagi, hiduplah hari ini dan “hidupkanlah” hari ini. Hidup hanya sekali. Jadilah berarti.

 

*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi

Exit mobile version