Site icon Baladena.ID

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Khutbah Haris al-Muhasibi kepada Ulama Su’

Oleh: Salman Akif Faylasuf *

Melalui karya monumentalnya, yaitu “Ihya’ Ulumuddin”, membuat sangat mustahil bagi umat Islam untuk tidak mengenal Al-Ghazali. Al-Ghazali bukan tipikal ilmuwan yang eksklusif dan fanatik.

Pemikirannya selalu terbuka terhadap setiap anasir ilmu, pengetahuan dan keyakinan yang lurus. Bahkan, tidak pernah ada sebelum Al-Ghazali ilmuwan yang melalui fase pengakuan atau fase kritik dan autokritik, sebagaimana yang pernah dialami beliau.

Namun, di balik kesuksesannya, ada sosok Imam Haris Al-Muhasibi yang mengajarinya secara tidak langsung, terutama dalam ilmu tasawuf. Dengan kata lain, tulisan-tulisan Al-Muhasibi, terutama di dalam kitabnya, yaitu “Al-Ri’ayah li Huquqillah Ta’ala”, memengaruhi pemikiran Al-Ghazali. Jika ditelaah, kitab itu sepintas menjelaskan tentang masalah taubat, sabar, ikhlas, dan tawakkal. Semuanya mengarah kepada ilmu tasawuf.

Khutbah Haris Al-Muhasibi

Suatu waktu Imam Haris Al-Musibi pernah berkata kepada ulama-ulama yang mencintai dunia. Katanya, “Jika kamu mengaku telah mengikuti teladan para sahabat-sahabat Nabi dengan mengumpulkan kekayaan untuk kesucian dan berinfak di jalan Allah SWT., maka perhatikanlah dan renungkanlah keadaanmu sekarang! Celakalah kamu! Apakah kamu mendapatkan rezeki yang halal di zamanmu seperti yang sahabat dapatkan di zamannya? Atau apakah kamu membayangkan dirimu sehati-hati sahabat dalam mencari penghasilan yang halal?”

“Aku telah mendengar bahwa sebagian dari para sahabat Nabi berkata: “Kami akan menghindari tujuh puluh jalan yang halal karena takut terjerumus ke dalam satu jalan yang haram.” Lalu apakah kamu mengharapkan dirimu sehati-hati seperti sahabat?! Tidak, demi Tuhan Ka’bah! Aku rasa kamu tidak sehati-hati seperti sahabat.”

“Sungguh celakalah kamu! Yakinlah bahwa mengumpulkan kekayaan untuk amal adalah tipu daya setan untuk menyesatkanmu, dengan berkedok kebaikan, untuk memperoleh keuntungan yang meragukan bercampur dengan hal-hal haram dan terlarang.”

“Kami telah diberi tahu bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda: “Barang siapa yang nekat terlibat dalam perkara-perkara yang meragukan, maka ia kemungkinan besar akan jatuh ke dalam perbuatan yang haram.”

Tak berhenti di sini, Imam Haris Al-Muhasibi kemudian berkata lagi, “Wahai orang yang sesat, tidakkah kamu tahu bahwa rasa takutmu untuk nekat terlibat dalam perkara-perkara yang meragukan lebih tinggi, lebih baik, dan lebih berharga di sisi Allah SWT. daripada memperoleh harta yang meragukan dan membelanjakannya di jalan Allah dan kebaikan?”

“Kami juga telah diberi tahu tentang hal ini oleh beberapa ulama yang berkata: “Meninggalkan satu dirham karena takut harta itu tidak halal lebih baik bagimu daripada memberikan seribu dinar yang asal-usulnya meragukan, tanpa mengetahui apakah harta itu halal atau tidak.”

“Karena itu, jika kamu mengaku terlalu saleh dan teliti untuk terlibat dalam perkara-perkara yang meragukan, dan bahwa kamu hanya mengumpulkan harta, yang konon halal, untuk dibelanjakan di jalan Allah SWT., maka celakalah kamu! Jika kamu saleh seperti yang kamu klaim, maka janganlah kamu menjerumuskan dirimu ke dalam pertanggungjawaban.”

“Sebagian sahabat-sahabat Nabi yang terbaik takut akan pertanyaan dan pertanggungjawaban di akhirat kelak, makanya ia berkata: “Aku tidak akan senang jika setiap hari aku mendapatkan seribu dinar dari penghasilan yang halal dan membelanjakannya untuk ketaatan kepada Allah SWT., dan penghasilan itu tidak akan mengalihkan perhatianku dari shalat berjamaah.”

“Mereka bertanya: “Mengapa demikian, wahai Allah?” Beliau menjawab: “Karena aku tidak perlu berdiri pada Hari Kiamat, ketika Dia akan berkata: “Wahai hamba-Ku, dari mana engkau mendapatkannya? Dan untuk apa engkau membelanjakannya?”

“Kalian tahu! Orang-orang saleh ini hidup di masa-masa awal Islam, dan apa yang halal tersedia bagi mereka. Mereka meninggalkan harta benda karena takut akan perhitungan amal, sebab jangan-jangan kebaikan harta benda tidak melebihi keburukannya.”

“Dan kamu termasuk golongan orang-orang rendahan, dan apa yang halal telah hilang di zamanmu. Kamu berebut hal-hal yang kotor, lalu kamu mengaku mengumpulkan harta benda dari apa yang halal. Celakalah kamu! Lalu di manakah harta benda yang halal untuk kamu kumpulkan itu?”

Kata Gus Ulil, tentu saja jika mereka ulama-ulama pencinta dunia itu ingin mengikuti cara-cara sahabat Nabi dalam mencari harta kekayaan, maka tidak bisa dan tidak akan sama. Sebab pada zaman sahabat, mencari barang yang halal sangat mudah. Kenapa mudah? Karena orang-orang dahulu sangat berhati-hati di dalam mencari harta duniawi.

Jadikan sifat santun sebagai rekan, sikap waspada sebagai kawan, keselamatan sebagai gua persembunyian, waktu luang sebagai harta rampasan, dunia sebagai kendaraan dan akhirat sebagai kediaman. Wallahu a’lam bisshawab.

 

*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Exit mobile version