Site icon Baladena.ID

Guru yang Tertipu

Ilustrasi Guru yang Tertipu/Pixabay

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pesantren Planet NUFO Mlagen Rembang, dan Guru Utama Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang; Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI

Guru di sini hanya sebutan untuk orang yang aktivitas rutinnya adalah pengajar atau pendidik. Bisa di pesantren, forum-forum pengajian, atau yang lainnya. Ia bisa disebut ustadz, kiai, ajengan, buya, da’i, penceramah, atau yang lainnya. Karena ajaran-ajaran yang disampaikannya itu, banyak orang yang beramai-ramai mendengarkannya, baik datang secara langsung dengan berduyun-duyun seperti di era Yunani Kuno banyak orang mendatangi para filsuf, maupun dengan menjadi viewer melalui kanal youtube yang jumlahnya terkalkulasi secara pasti. Figur yang sedang viral, jumlah viewernya bisa tidak hanya ribuan, tapi puluhan ribu, atau ratusan ribu, atau bahkan jutaan.

Dengan jumlah pendengar atau penonton yang sangat banyak itu, guru bisa merasa bahwa ia telah melakukan perubahan yang signifikan. Bisa diawali dengan perubahan pikiran, lalu akan diikuti dengan perubahan perilaku orang-orang itu. Berpikir demikian itulah yang sesungguhnya merupakan wujud seorang guru telah tertipu. Kenapa begitu?

Ternyata sebagian besar orang yang datang berbondong-bondong, atau menjadi viewer, untuk menjadi pendengar dan penonton pengajian itu sesungguhnya tidak memahami apa yang disampaikan oleh sang penyampai ajaran. Apa buktinya? Dalam konteks pemahaman tentu saja harus ada mekanisme uji yang dilakukan. Mungkin semacam pre-test dan post-test. Dan kalau ini benar-benar dilakukan, maka simpulan yang akan didapatkan adalah materi-materi yang disampaikan itu hanya sekedar bagaikan pepatah “masuk telinga kanan, keluar telinga kiri”.

Tidak ada yang masuk dan menjadi pemahaman dalam kepala yang kemudian dipikirkan, lalu didiskusikan agar menjadi agenda bersama, lalu berlanjut menjadi sebuah gerakan. Karena itulah, bisa dikatakan tidak ada perubahan dari forum-forum pengajian yang walaupun pendengarnya membludak sampai memenuhi jalan-jalan. Kenapa bisa begitu? Bukankah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. kepada para sahabat juga sama?

Benar. Nabi menyampaikan ajarannya kepada sahabat dengan cara yang sama. Namun, kualitas sahabat Nabi tidak sama dengan kualitas pendengar dalam masyarakat kita, apalagi masyarakat non-Arab ini. Sebagian audiens Nabi adalah orang-orang yang jelas berbahasa yang sama dengan bahasa Nabi, sehingga inti pesan yang disampaikannya bisa mereka tangkap dengan jelas. Belum lagi mereka juga adalah orang-orang yang memiliki militansi yang tidak diragukan, sehingga mereka benar-benar memiliki panggilan yang sangat kuat untuk memahami ajaran yang Nabi sampaikan.

Untuk bisa mendengarkan yang disampaikan Nabi, mereka harus menanggung risiko besar, bahkan sampai pembunuhan. Karena risiko itulah, maka mereka datang dalam forum Nabi dengan sepenuh kesungguhan untuk mendapatkan pemahaman. Walaupun demikian, tidak sedikit sahabat yang mengalami salah paham, dan baru mendapatkan pemahaman yang benar setelah bertanya lalu pemahaman mereka diluruskan.

Para audiens pengajian, terutama yang berbangsa ‘ajam, tidak memiliki ilmu alat yang cukup untuk menangkap inti materi yang disampaikan. Tema-tema pokok di dalam al-Qur’an maupun hadits, tentu saja tak bisa dilepaskan sama sekali dari bahasa Arab dan berbagai konteks yang melatarbelakanginya. Saya sering mengibaratkan para audiens itu sebagai orang-orang yang ingin menangkap ikan di lautan yang luas, tetapi tidak membawa alat tangkap sama sekali.

Al-Qur’an dan Sunnah Nabi laksana samudera yang tak bertepi. Ajarannya adalah berbagai jenis ikan yang kita perlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bayangkan orang yang pergi ke lautan luas, lalu ingin menangkap ikan yang kecil saja, pastilah ia tidak akan mampu melakukannya. Jika orang itu memaksakan diri untuk mengejar ikan yang ingin ditangkapnya, maka ia akan kelelahan, dan beruntung jika tidak tenggelam dalam samudera. Orang yang memaksakan diri itu akan pulang dengan tangan hampa dengan rasa lelah yang luar biasa. Begitulah gambaran orang yang ingin belajar Islam, tetapi tidak memiliki ilmu alatnya. Ilmu alat paling sederhana untuk itu adalah menguasai bahasa Arab.

Nah, kembali kepada guru yang tertipu. Guru yang sudah merasa mengajar setiap pagi dan petang, bisa saja merasa bahwa dia telah menyampaikan banyak materi ajaran. Namun, jika hanya sekedar menyampaikan, tidak memperhatikan alat tangkap yang mestinya dimiliki oleh para audiens, maka dia akan benar-benar tertipu. Sebab, dia akan merasa bahwa audiensnya paham, padahal sesungguhnya tak juga paham. Itulah sebab, mereka tidak mampu menghasilkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Umat ini makin jauh tertinggal di belakang jika dibandingkan dengan umat lain.

Bagaimana tidak demikian, pembicaraan dalam forum-forum pengajian tidak pernah naik level untuk mengkaji persoalan-persoalan kontemporer yang makin rumit disebabkan oleh kemajuan sains dan teknologi yang mengubah keadaan. Persoalan yang diangkat tidak pernah jauh dari sekitar qunut atau tidak qunut, membaca sayyidinâ itu bid’ah atau tidak, kalau turun sujud menggunakan lutut atau telapak tangan, dan persoalan-persoalan semacamnya yang mestinya sudah selesai dua belas abad, atau setidaknya sepuluh abad yang lalu. Sekarang ini ditambah lagi dengan saling mengkafirkan (takfir) tanpa kejelasan, bisa dengan klaim Sunni vs Wahhabi, Sunni vs Syi’ah, Wahhabi vs Syi’ah dan lain-lain.

Para guru harus mulai membangun sistem pengajaran agar umat ini tidak hanya menjadi buih. Mereka telah membuang waktu yang sangat berharga dengan niat baik, tetapi kemudian tidak mendapatkan apa-apa. Untuk kalangan-kalangan tertentu yang memungkinkan untuk meningkatkan level dalam memahami, para guru harus memberikan penekanan khusus, agar mereka belajar Islam secara agak serius dengan belajar ilmu alat. Jangan karena ingin mempertahankan status quo sebagai orang yang memiliki banyak pengikut, lalu orang-orang yang sesungguhnya memiliki potensi untuk belajar mandiri, kemudian selalu bergantung alias taqlid buta.

Dengan media yang semakin canggih ini, mestinya jumlah muslim yang tidak mampu mengakses sendiri sumber ajaran Islam bisa dikurangi secara signifikan. Sebaliknya, harus ada makin banyak muslim yang mampu mengakses sendiri sumber ajaran Islam, agar persoalan-persoalan masa lalu tidak lagi menjadi bahan diskusi yang tidak pernah selesai. Permasalahan yang diangkat adalah persoalan baru untuk kemajuan umat di masa depan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Exit mobile version