Site icon Baladena.ID

Generasi Kartini di Tengah Pandemi

Indonesia merupakan negara majemuk, dengan keberagaman suku bangsa namun hal tersebut menjadi padu dalam bhineka tunggal ika. Terlepas dari suku bangsa, memasuki kesetaraan gender yang juga menarik untuk dibahas dalam perspektif perempuan Indonesia. Seorang tokoh emansipasi wanita, hadir ditengah- tengah masyarakat. Tentu, beliau sangat familiar dikalangan masyarakat siapa lagi jika bukan ibu kita Kartini. Benar, Raden Ajeng Kartini yang merupakan seorang wanita yang berasal dari suku jawa menjadi panutan bagi wanita Indonesia untuk berkarya dan menempuh pendidikan.

Figure 1 Raden Ajeng Kartini

Melalui tulisannya, di panggung sejarah. Beliau membuktikan bahwa dengan cara tersebut maka kau akan di kenang. Tulisannya, yang berbentuk surat mengangkat problematika kesetaraan gender pada masanya. Beliau menolak adanya kesenjangan dari bidang pendidikan pada masa itu, antara laki-laki dan perempuan. Semangat beliau patut di apresiasi, bahkan perempuan Indonesia mengidolakan beliau karena semangat dan ketekunannya.

Terbukti , meski bunda kartini mengalami pengasingan beliau tidak lalu menyerah untuk pendidikan dan juga menyetarakan kedudukan kaum perempuan dengan kaum laki-laki. Atas hal tersebut, para perempuan Indonesia mendapatkan kedudukan yang sama, baik di pandangan pemerintahan apalagi dalam hal agama yang sudah tentu pasti sama kedudukannya.

Indonesia memperingati kelahirannya sebagai hari Kartini yaitu tepat pada setiap tanggal 21 April. Beliau, dalam perjuanganya tutup usia pada umur 25 tahun dimana kelahirannya ialah 21 april 1879 s/d 1904. Akan tetapi, kebenaran tentang pentingnya pendidikan tetap abadi hingga saat ini.

Mengingat hal tersebut, inilah tugas sekaligus tanggungjawab para perempuan selaku generasi kartini untuk selalu menggelorakan semangat membangun bangsa. Para perempuan, dituntut produktif, berkarya demi membangun bangsa Indonesia baik dalam bidang pendidikan, rumah tangga, ekonomi, social, politik dan lain-lain.

Adanya emansipasi wanita, memungkinkan para wanita memiliki karier dan profesi yang baik di kalangan masyarakat. Kesetaraan gender, yang ada di beberapa tempat masih terkekang oleh adat istiadat merupakan suatu tantangan pagi para perempuan untuk mengoptimalkan potensi diri dalam berkarya.

Gender, bagi saya pribadi bukanlah suatu hambatan. Disamping hal itu, para perempuan harus terus meningkatkan kualitas diri dan mengaktualisasikan bakat yang di milikinya.

Tahun ini, hari kartini tidak sesemarak tahun lainnya. Pandemi Co-Vid 19 menjadi masalah di tengah-tengah alam semesta tak terkecuali Indonesia yang mengharuskan adanya social distancing. Akan tetapi hal ini, tidak akan menyurutkan langkah para perempuan Indonesia untuk selalu berguna bagi masyarakatnya.

Menyikapi, kriris kemanusian, ekonomi, social dan pendidikan akibat virus corona para perempuan Indonesia berupaya berlomba-lomba menebarkan benih kebaikan. Diantaranya, mereka yang memiliki keterampilan menjahit membuat masker dan membagikannya dengan gratis merupakan suatu kebaikan yang bernilai plus.

Selanjutnya, teman-teman perempuan yang selalu memiliki harapan dalam karyanya terutama bagi mereka yang kreatif, menulis dan menjadi penengah untuk

 

 

meredam kekhwatiran di tengah-tengah pandemi ini. Penulis meyakini, apapun kondisi nya berkaca dari masa lampau terkhusus semangat ibu kita Kartini akan selalu menjadi pijakan awal bagi perempuan untuk selalu produktif dengan caranya. Dan kitalah generasi kartini, yang akan menjadi pencerah dalam kabut persoalan bangsa. Melalui sharing hal bermanfaat lainnya maupun membantu melakukan bentuk kebaikan yang mampu dilakukan oleh generasi kartini tentu tidaklah dapat dibatasi bentuk karyanya. Semangat terus, untuk para kartini-kartini Indonesia yang berjuang ditengah pandemi ini.

Oleh: Anita Permata Sari H

Exit mobile version