Fiqih Thaharah: Pengertian, Dasar Hukum, dan Jenis

Ketika kita membuka kitab fiqih apapun itu, mulai dari kitab Taqrib karya Abu Suja’, sampai kitab fiqih yang berjilid-jilid seperti Fathu al-Wahhab dan kitab-kitab yang serupa dengannya, maka bab pertama yang dibahas adalah bab thaharah.

Kitab hadits pun sama. Seperti kitab Bulugh al-Marom. Kitab hadits ini, pembahasan pertama juga thaharah. Sedikit beda dengan kitab tasawuf, yang menjadikan thaharah sebagai bab kedua setelah pembahasan bab iman. Sebagaimana susunan kitab Ihya’ Ulum ad-Din karya Imam Gazali.

Timbul pertanyaan, kenapa bab thaharah dijadikan pembahasan utama? Bukankah terdapat hadits yang berbunyi:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ

Artinya: sesungguhnya awal perkara yang dihisah pada seorang hamba besok pada hari Kiamat adalah shalat (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Baihaqi)

Bahwa shalat adalah ibadah yang pertama akan dihisab pada hari Kiamat nanti. Lalu, kenapa tidak shalat yang dibahas pertama kali? Kenapa thaharah?

Terdapat hadits Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi:

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ

Artinya: kunci shalat adalah suci (HR. Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi, Baihaqi, dan ad-Daruquthni)

Dari hadits di atas, bisa dipahami bahwa shalat seseorang dianggap sah adalah ketika memenuhi syarat. Syaratnya shalat diterima adalah dengan menjalankan thaharah.

Thaharah menduduki masalah penting dalam Islam. Boleh dikatakan bahwa tanpa adanya thaharah, ibadah kita kepada Allah Swt tidak akan diterima. Sebab beberapa ibadah utama mensyaratkan thaharah secara mutlak. Tanpa thaharah, ibadah tidak sah. Bila ibadah tidak sah, maka tidak akan diterima Allah. Kalau tidak diterima Allah, maka konsekuensinya adalah kesia-siaan. Oleh karena itu, thaharah menjadi bab pertaama yang dikaji dalam semua kitab fiqih.

Baca Juga  Fiqih Thaharah: Pengertian Najis dan Jenisnya

Apa itu Thaharah?

Dalam beberapa kitab fiqih, seperti kitab al-Fiqh al-Islmamy wa adillatuhu karya Wahbah az-Zuhaily, bahwa thaharah secara bahasa berarti bersuci, dan thaharah juga bermakna an-Nadhzafah, yaitu kebersihan.

Maka, thaharah secara istilah bisa diartikan sebagai kegiatan bersuci dan membersihkan.

Namun yang dimaksud di sini tentu bukan semata suci dan kebersihan. Thaharah dalam istilah para ahli fiqih sebagaimana yang terdapat dalam kitab Kifayah al-Akhyar karya Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad al-Husainy al-Hashini, kitab bermadzhab Syafi’i dan Kasysyaf al-Qinna’ karya Manshur bin Yunus bin Idris al-Bahuty, kitab bermadzhab Hanbali, adalah :

عبارة عن غسل أعضاء مخصوصة بصفة مخصوصة

Artinya: kegiatan mencuci anggota tubuh tertentu dengan cara tertentu.

رفع الحدث و إزالة النجس

Artinya: mengangkat hadats dan menghilangkan najis.

Dari dua pengertian di atas, bisa dipahami bahwa thaharah bentuk kesucian dan kebersihan secara ritual yang berdasarkan ketentuan resmi dari Allah Swt dan dibawa oleh Rasulullah Saw secara sah.

Jenis Thaharah

Thaharah terdiri dari dua jenis. Yaituu thaharah dari hadats, dan thaharah dari najis.

Thaharah dari Hadats

Dalam beberapa kitab fiqih, thaharah dari hadats ini disebut dengan istilah thaharah hukmi. Thaharah hukmi maksudnya adalah sucinya kita dari hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar (kondisi janabah).

Thaharah secara hukmi tidak terlihat kotornya secara pisik. Bahkan boleh jadi secara pisik tidak ada kotoran pada diri kita. Namun tidak adanya kotoran yang menempel pada diri kita, belum tentu dipandang bersih secara hukum. Bersih secara hukum adalah kesucian secara ritual.

Baca Juga  Sumber Najis: Manusia [Bagian I]

Seorang yang tertidur batal wudhu’-nya, boleh jadi secara pisik tidak ada kotoran yang menimpanya. Namun dia wajib berthaharah ulang dengan cara berwudhu’ bila ingin melakukan ibadah ritual tertentu seperti shalat, thawaf dan lainnya.

Demikian pula dengan orang yang keluar mani. Meski dia telah mencuci maninya dengan bersih, lalu mengganti bajunya dengan yang baru, dia tetap belum dikatakan suci dari hadats besar hingga selesai dari mandi janabah.

Jadi thaharah hukmi adalah kesucian secara ritual, dimana secara pisik memang tidak ada kotoran yang menempel, namun seolah-olah dirinya tidak suci untuk melakukan ritual ibadah.

Thaharah hukmi didapat dengan cara berwudhu’ atau mandi janabah.

Thaharah dari Najis

Dalam beberapa kitab fiqih, thaharah dari najis ini disebut dengan istilah thaharah hakiki.

Thaharah secara hakiki maksudnya adalah hal-hal yang terkait dengan kebersihan badan, pakain dan tempat shalat dari najis. Boleh dikatakan bahwa thaharah hakiki adalah terbebasnya seseorang dari najis.

Seorang yang shalat dengan memakai pakaian yang ada noda darah atau air kencing, tidak sah shalatnya. Karena dia tidak terbebas dari ketidaksucian secara hakiki.

Thaharah hakiki bisa didapat dengan menghilangkan najis yang menempel, baik pada badan, pakaian atau tempat untuk melakukan ibadah ritual.

Caranya bermacam-macam. Tergantung dari level kenajisannya. Bila najis itu ringan, cukup dengan memercikkan air saja, maka najis itu dianggap telah lenyap. Bila najis itu berat, harus dicuci dengan air 7 kali dan salah satunya dengan tanah. Bila najis itu pertengahan, disucikan dengan cara mencucinya dengan air biasa, hingga hilang warna, bau dan rasa najisnya.

Baca Juga  Dalil Shalat Berjamaah dalam Al-Qur’an dan Sunnah

In Syā’a Allah, tentang level-level najis akan dibahas pada pembahasan khusus tersendiri. Wa Allāhu a’lām bi ash-shawwāb.

Muhammad Abu Nadlir
Direktur Monash Institute Semarang

    Bahaya Laten Bonus Demografi di Era 4.0

    Previous article

    Kohati Putri Kohati (1) Pandangan Pertama

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Fikih