Site icon Baladena.ID

Fenomena Fatherless di Indonesia: Dampak dan Upaya Mengatasi

Oleh: Neni Novianti, Peserta LKK HMI Cabang Bogor 2024 asal Cabang Tasikmalaya

Isu mengenai fatherless di Indonesia kerap menjadi sorotan publik. Berdasarkan data United Nations Children’s Fund (UNICEF) tahun 2021, sekitar 20,9% anak-anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah. Bahkan, menurut Retno Listyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Indonesia berada di peringkat ketiga dunia sebagai fatherless country, menyoroti tingginya jumlah anak yang tumbuh tanpa kehadiran atau peran aktif seorang ayah.

Konsep fatherless merujuk pada ketidakhadiran ayah dalam proses pengasuhan anak, baik secara fisik maupun emosional. Ashari (2018) menyebut kondisi ini sebagai father absence, father loss, atau father hunger. Berlian dan Chitam (2023) menambahkan bahwa fatherlessness terjadi ketika seorang anak memiliki ayah, tetapi sang ayah tidak hadir secara aktif dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Penyebab Fenomena Fatherless

Fenomena ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, perceraian sering menjadi penyebab anak kehilangan figur ayah akibat perpisahan orang tua. Kedua, kematian ayah membuat anak tumbuh tanpa bimbingan langsung dari seorang ayah. Ketiga, kurangnya komunikasi antara ayah dan anak karena kesibukan kerja yang menyebabkan ayah tidak menjalin hubungan emosional yang dekat. Keempat, budaya patriarki yang menganggap tugas ayah hanya sebatas pencari nafkah tanpa memperhatikan aspek pengasuhan juga turut memperburuk kondisi ini.

Dampak Ketidakhadiran Figur Ayah

Ketidakhadiran ayah memiliki dampak signifikan pada kesehatan emosional, psikologis, dan sosial anak. Pertama, tekanan emosional sering dirasakan oleh anak-anak yang tumbuh tanpa ayah. Mereka lebih rentan mengalami kecemasan, depresi, dan tekanan emosional lainnya (Majid & Abdullah, 2024). Kedua, kurangnya keterlibatan ayah menghambat kemampuan anak untuk mengembangkan keterampilan sosial, sehingga mereka kesulitan menjalin hubungan interpersonal (Silpiani & Wahyudin, 2024).

Ketiga, anak-anak tanpa ayah sering mengalami harga diri rendah. Mereka kerap merasa tidak mampu atau ditinggalkan, yang berdampak pada kepercayaan diri (“Dampak tanpa ayah terhadap karakter anak dalam pandangan Islam”, 2023). Keempat, ketidakstabilan emosional akibat tidak adanya ayah dapat memengaruhi kinerja akademis. Anak-anak mungkin kehilangan motivasi dan fokus dalam belajar (Nurmalasari et al., 2024). Kelima, ketidakhadiran ayah juga dapat memicu peningkatan masalah perilaku, seperti agresi dan kenakalan (Rizqi et al., 2024).

Dampak Jangka Panjang

Anak-anak yang tumbuh tanpa sosok ayah cenderung menghadapi berbagai tantangan emosional, seperti depresi, kecemasan, dan kesulitan mengontrol emosi. Mereka sering merasa kehilangan, kesepian, dan tidak aman, yang dapat menghambat perkembangan kecerdasan emosional serta kemampuan membangun hubungan sosial. Dampak ini bahkan bisa bertahan hingga dewasa, memengaruhi kesehatan mental dan kemampuan interpersonal mereka.

Upaya Mengatasi Fenomena Fatherless

Meskipun dampaknya sangat signifikan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dapat beradaptasi dan mengembangkan ketahanan melalui dukungan yang tepat. Peran ibu menjadi penting dalam membantu anak menghadapi tantangan emosional. Selain itu, sistem pendukung dari masyarakat, seperti lingkungan sekolah dan komunitas, dapat membantu mengurangi dampak negatif ketidakhadiran ayah.

Peran Pemerintah dan Kebijakan

Untuk mengatasi fenomena fatherless, pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan yang mendukung kehadiran ayah dalam pengasuhan anak. Misalnya, meningkatkan kesadaran ayah akan pentingnya peran mereka melalui program pelatihan pengasuhan, memberikan hak cuti ayah, serta mendorong kampanye kesetaraan gender agar pola pikir patriarki yang membatasi peran ayah hanya pada aspek finansial dapat berubah.

Kesimpulan

Fenomena fatherless di Indonesia memerlukan perhatian serius, mengingat dampaknya yang luas terhadap perkembangan anak. Penting untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kehadiran ayah dalam pengasuhan, serta menciptakan kebijakan dan lingkungan yang mendukung peran ayah secara aktif. Dengan kolaborasi antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah, diharapkan dampak negatif fatherless dapat diminimalkan, sehingga anak-anak Indonesia dapat tumbuh dengan dukungan emosional dan psikologis yang optimal.

 

Exit mobile version