Dunia sudah mengalami perkembangan sangat pesat. Sarana belajar juga sudah tersedia dengan akses yang sangat mudah. Bahan bacaan dan tutorial sangat mudah didapatkan semudah menggerakkan jari jempol. Ada website untuk yang suka baca. Ada youtube untuk yang suka audivusial. Ingin mengetahui apa saja, tinggal ketik “syaikh google.com”, tidak ada permasalahan masa lalu yang tidak terjawab. Namun, untuk bisa memahami dan mempraktekkan ajaran Islam, lalu memiliki kemampuan untuk mengkontekstualisasikan dengan berbagai hal baru yang terjadi saat ini, dan yang akan terjadi di masa depan, diperlukan usaha-usaha lain yang bersifat spesifik yang hanya ada di pondok pesantren. Itulah kenapa pondok pesantren menjadi tetap, bahkan kian relevan.
Berikut ini wawancara baladena.id dengan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO, yang juga Pengajar di Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, yang oleh para santrinya akrab disapa dengan Abah Nasih atau Abana.
Baladena: “Bagaimana pandangan Abah Nasih tentang masa depan pesantren?”
Abana: “Pandangan tentang apanya? Mau dari aspek apanya?”
Baladena: “Selama ini pesantren kan dianggap sebagai lembaga pendidikan pinggiran. Santri juga harus diakui belum mendapatkan peran yang signifikan dalam membangun kemajuan.”
Abana: “Soal itu, harus diakui memang demikian. Namun, sesungguhnya, pesantren bisa menjadi lembaga pendidikan masa depan yang tiada tandingan. Beberapa universitas di negara-negara maju, sebelumnya juga merupakan seminari, ya pesantren kalau dalam tradisi kita. Hanya saja, mereka melakukan transformasi, sehingga menjadi lembaga pendidikan yang modern. Dan saat ini, beberapa pesantren saya lihat sudah mulai melakukan pembenahan. Di antaranya dengan tidak hanya fokus melakukan kajian-kajian aspek fikih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadits, tetapi juga sudah ada yang memberikan ruang kepada pendidikan sains dan pengembangan teknologi, walaupun masih amat sangat sederhana.”
Baladena: “Jadi, prospek pesantren cerah dong ya?”
Abana: “Kalau dikelola dengan baik, dengan keterbukaan, tidak ada lembaga pendidikan yang bisa ngalahin pesantren. Di pesantren anak-anak belia muslim akan mendapat pendidikan yang super intensif. Sebab, waktunya 24 jam, dari bangun tidur sampai tidur kembali, benar-benar dialokasi untuk belajar.”
Baladena: “Kalau lebih disistematisir lagi, apa sih alasan rasional orang tua memasukkan anak ke pesantren?”
Abana: “Ada banyak sekali. Tapi saya sebutkan beberapa saja yang terpenting ya. Pertama, dan ini yang paling utama, belajar Islam tidak cukup sekedar untuk pengetahuan, tetapi juga mempraktekkan. Jika hanya mengetahui saja, nanti jadi mirip dengan para orientalis. Mereka tahu detil sekali tentang Islam, tetapi tidak mempercayainya sebagai kebenaran dan karena itu ya tidak mengamalkan. Sementara santri, karena diharapkan jadi ulama’ sejati, maka disamping mengetahui juga harus mengamalkan. Seorang tidak bisa disebut ulama’ apabila tidak mengamalkan apa yang dia mengetahui ilmunya. Sekedar contoh sederhana, pengetahuan tentang shalat berjama’ah yang harus dijalankan dalam waktu yang telah ditentukan. Jika di rumah, ada berbagai kendala untuk melakukan shalat berjama’ah, bahkan shalat tepat waktu pun. Di pesantren, karena fokus untuk belajar, tidak ada hal-hal lain yang mendistruct fokus mereka, maka yang mereka ketahui, bisa mereka amalkan. Dan pengulangan sebagai aktivitas harian, akan membentuk karakter mereka. Tentu saja bukan hanya shalat. Itu hanya salah satu contoh kecil saja. Ada banyak hal lainnya. Kalau di Planet NUFO juga pengetahuan tentang berwirausaha, menanam berbagai tanaman, pelihara sapi, kambing, ayam, dll.. Aktivitas harian mereka itu akan membentuk karakter mereka untuk menjadi orang-orang yang sabar, ulet dalam menjalani usaha sampai menjadi orang yang sukses. Ini penting untuk masa depan mereka, karena pada akhirnya mereka harus melakukan kerja riil yang menghasilkan uang yang menjadi penopang untuk menjadi para pengajar dan pejuang agama Islam.”
Baladena: “Wah, mantap ini. Bukan hanya belajar ilmu, tetapi mengamalkan, dan lebih konkret lagi memiliki soft skill. Ini yang akan membuat santri menjadi keren ya. Yang kedua?”
Abana: “Yang, kedua, berlajar Islam tidak bisa dalam waktu yang sebentar. Belajar Islam berarti mempelajari al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw.. Mempelajari al-Qur’an itu cukup kompleks, dimulai dari membaca, mengartikan, menghafalkan, sampai merenungkannya. Umat Islam Indonesia ini sering dikritik sebagai umat yang tidak Islami, sebenarnya mudah dipahami. Penyebabnya sederhana saja, mereka belum memahami al-Qur’an. Bahkan yang bisa membacanya tidak lebih dari 40%. Yang membaca dengan benar, sesuai dengan tajwid tidak sampai 4% dari yang bisa membaca itu. Bahkan silakan dicek lagi, dalam membaca al-Fatihah saja rata-rata salah 8 kali, kalau digunakan standar tajwid ya. Tajwid ini penting, agar bacaan menghasilkan makna yang sesuai dengan yang dimaksudkan oleh al-Qur’an. Saya ngaji ini dulu bertahun-tahun kepada bapak dan ibu saya. Ini kan tidak bisa pakai youtube saja. Karena memerlukan korektor. Kalau salah, harus dikoreksi secara langsung, karena bahasa yang digunakan oleh al-Qur’an bukan bahasa ibu kita. Belum lagi memahamaminya, yang tentu saja memerlukan penguasaan bahasa Arab. Kalau dibandingkan dengan bahasa Inggris, pecahan katanya saja, bahasa Arab lebih kaya. Kalau turunan kata dalam bahasa Inggris tidak sampai 10 bentuk, tetapi satu kata dalam bahasa Arab bisa berubah bentuk, itu pelajaran tashrif, menjadi 200-an bentuk. Kalau ini tidak dipelajari secara intensif kan tidak mungkin bisa. Yang mondok saja belum tentu paham. Sebab, memahami al-Qur’an itu bukan sekedar memahami arti kata, tetapi logikanya, juga rasa bahasanya. Interkoneksi antar ayat-ayatnya juga harus diperhatikan dengan detil. Kalau memahami ayat secara sepenggal, saya pastikan banyak kesalahan. Dan sekali lagi, inilah yang terjadi. Itulah yang menyebabkan banyak kesalahan perspektif di kalangan umat Islam. Al-Qur’an mendorong kemajuan, mereka “menikmati” posisi keterbelakangan. Al-Qur’an menegaskan kebaikan di dunia dan akhirat, mereka berapologi bahwa mereka akan dapat akhirat, walaupun di akhirat kalah.”
Baladena: “Wah keadaannya sebenarnya ngeri juga ya. Dan pesantren ternyata adalah alternative solusi. Lalu apa lagi?”
Abana: “Ketiga, mempersiapkan anak untuk memiliki kemandirian untuk menghadapi dunia luar. Anggaplah bahwa pondok pesantren adalah lingkungan yang baik. Internalisasi nilai-nilai yang ada di dalamnya, yang tadi telah saya sebutkan menjadi karakter, diharapkan akan mampu menjadi benteng dan tameng bagi para santri untuk menghadapi dunia berikutnya yang di dalamnya tejadi benturan nilai-nilai. Nilai-nilai pesantren yang sudah terinternalisasi dengan baik, agak bisa menjadi perisai yang membuat anak-anak kita menjadi aman. Kehidupan sekarang kan berbeda dengan kehidupan kita di masa sebelumnya. Sekarang akses informasi apa saja kan sangat mudah dengan HP dan segala perangkat yang nanti akan menjadi teman hidup mereka. Jika mereka tidak memiliki pegangan nilai-nilai yang kuat, maka mereka akan terombang-ambing dalam kebingungan. Dan kalau bingung, potensi menjadi sesatnya jadi besar. Nah, kita tentu saja tidak mau itu terjadi. Karena itu, nilai-nilai Islam ini harus dikonstruksi secara kekinian sehingga tampak juga sebagai nilai-nilai yang juga keren bagi anak-anak kita. Mereka melihat dan merasakan secara langsung, bahwa nilai-nilai Islam ini memiliki landasan kuat, bukan seperti nilai-nilai Barat yang kelihatannya keren, tetapi sebenarnya sangat rapuh. Pesantren harus mampu melakukan ini. Jangan pakai pokoknya. Harus dikonstruksi dengan jelas, dan menjadi basis yang kokoh.”
Baladena: “Ini sarana yang sangat mahal. Yang tidak didapatkan di rumah, bahkan di sekolah yang hanya setengah hari, datang untuk belajar lalu pulang. Teman-teman mereka juga relatif berbudaya sama. Apalagi di era zonasi sekolah sekarang. Ya, saya paham sekali sekarang. Lalu masih ada lagi, Bah?”
Abana: “Keberapa sekarang, keempat ya? Islam adalah agama yang sangat menekankan berjama’ah, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Di pesantren, dengan banyak santri yang memiliki aktivitas dengan fokus yang sekoridor, kebersamaan itu akan mudah dibangun. Di sini, para santri bisa tidak hanya melakukan sosialisasi dengan banyak orang dari berbagai macam latar belakang, juga melatih kepemimpinan. Karena ada banyak orang, maka pasti memerlukan kepemimpinan organisasi yang mengatur aktivitas kehidupan keseharian mereka. Di sini mereka memiliki wahana yang lebih banyak berinteraksi, saling mempengaruhi, tidak hanya mengasah, mengasihi, tetapi juga mengasuh. Ini memerlukan kemampuan kepemimpinan. Soal sistem dan mekanisme rekrutmen kepemimpinan, pondok pesantren bisa membangun paradigmanya. Misalnya, bagaimana membangun sistem merit, atau sistem yang berbasis kepada prestasi, bukan hanya jumlah kepala. Di Pesantran Planet NUFO misalnya, saya menerapkan prinsip OJOVOP (one juz one vote for one person). Kalau hafal 30 juz, berarti punya 30 suara. Satu orang bisa memiliki suara besar, karena memang berprestasi. Ini akan mereka kritis terhadap sistem demokrasi yang selama ini diselenggarakan yang hanya memperhatikan jumlah kepala, bukan isi kepala. Dalam kehidupan bersama inilah, mereka yang mendapatkan kesempatan memimpin, akan memiliki kesempatan untuk bereksperimentasi dan menunjukkan eksistensi. Yang belum mendapatkan kesempatan, mereka akan belajar menjadi rakyat yang baik, atau melakukan evaluasi diri kenapa tidak mendapatkan kepercayaan dari teman-teman mereka, sehingga mereka bisa melakukan perbaikan dalam kehidupan selanjutnya jika ingin jadi pemimpin.” (AH)

