Durhaka (al-uquq), dikutip dari dictio.id, berasal dari kata al-‘aqqu yang berarti al-qath’u artinya memutus, merobek, memotong, membelah. Di dalam agama Islam, anak yang durhaka yaitu anak yang melakukan perbuatan atau mengucapkan suatu perkataan yang dapat melukai hati kedua orang tua. Perbuatan ini tergolong dosa yang besar, setara dengan dosa menyekutukan Allah SWT. Imam Bukhari meriwayatkan dari Kitabul Adab, Rosulallah SAW bersabda:
ألا أنبئكم بأكبر الكبائر ثلاثا ؟ قلنا بلى يا رسول الله قال الإشراك بالله وعقوق الوالدين ، وكان متكئا فجلس فقال : ألا وقول الزور وشهادة الزور ، فما زال يكررها حتى قلنا ليته سكت
‘Maukah aku ceritakan kepada kalian dosa besar yang paling besar, yaitu tiga perkara? Kami menjawab, Ya, Rasulullah. Rasulullah berkata: Menyekutukan Allah, dan mendurhakai dua orang tua. Rasulullah sedang bersandar lalu duduk, maka berkata Rasulullah: Tidak mengatakan kebohongan dan kesaksian palsu. Beliau terus mengulainya sampai kami berkata semoga beliau berhenti.”
Dari hadist di atas dapat kita ketahui bahwa dosa yang paling besar setelah menyekutukan Allah adalah durhaka kepada orang tua.
Durhaka kepada orang tua dapat mengakibatkan turunnya adzab kepada bagi pelaku di dunia, dan merupakan sebab ditolaknya suatu ibadah serta salah satu jalan untuk menuju neraka. Durhaka juga merupakan sikap yang menolak terhadap kebaikan dan keutamaan, semacam sebuah kebodohan perilaku dan kekerdilan jiwa. Hal ini bisa jadi disebabkan kedudukan mereka yang semakin tinggi dibandingkan orang tuanya.
Semakin canggih teknologi dan zaman, semakin banyak juga anak yang memperlakukan kedua orang tua melebihi binatang sehina hinanya. Na’udzubillahi min dzalik. Ketika masih kecil sudah menyusahkan orang tua, setelah tumbuh dewasa malah lebih menyusahkan. Padahal Allah SWT menyatakan dengan tegas dalam Q.S Al-Isra ayat 13:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (Q.S Al-Isra: 13)
Ketika anak durhaka kepada orang tua, apakah ini ujian bagi mereka? Sebab terkadang banyak dari kalangan Ibu yang sabar mengahadapi anaknya yang semakin hari, semakin durhaka. Sudah banyak seorang anak di zaman sekarang yang telah berbuat durhaka kepada orang tua, memperlakukannya seperti pembantu.
Ketika masih dalam kandungan seorang anak sudah merepotkan Ibunya, keluh kesah yang dihadapi oleh sang Ibu. Kemana-mana selalu membawanya, bahkan terasa sakit apabila janin yang ada di dalam kandungan sudah mulai menendang-nendang. Makanan pun harus dijaga dan teratur, manusia manakah yang kuat menahan beban ini selain Ibu? Tentu saja tidak ada. Sampai Rosulallah SAW dalam sabdanya, dikatakan bahwa Ibumu, Ibumu, Ibumu, setelah itu barulah Ayahmu. Sebab sangatlah berat perjuangan Ibu.
Setelah dilahirkan, seorang anak pastinya akan merepotkan kedua orang tuanya. Dimulai dari merengek-rengek nangis meminta susu, hingga meminta untuk digendong dengan waktu yang lama. Seorang Ibu akan lebih kuat menggendong anaknya dengan waktu yang lama dibandingkan dengan seorang ayah, walaupun hakikatnya tenaga laki-laki lebih kuat dibandingkan perempuan. Akan tetapi, seorang perempuan dikaruniai kekuatan untuk memperjuangkan anaknya walaupun harus berdarah-darah, hingga nyawa taruhannya.
Apalagi lebih sadisnya, setelah dewasa masih saja menyusahkan orang tua. Bagaikan pembantu yang melayani hidupnya sampai akhir hayat. Dimulai sebelum lahir, hingga dibesarkan dengan disekolahkan hingga sukses. Akan tetapi, balasan yang didapatkan oleh Ibunya sangat menyedihkan. Ketika masih kecil, dengan sabar Ibu mengajarkan untuk bisa membaca, menulis, sampai berhitung. Namun, setelah dewasa Ibu menanyakan keadaanya saja tidak boleh dan menganggap dirinya sudah dapat hidup mandiri.
Memiliki cucu adalah impian yang didambakan bagi setiap Ibu yang melihat anaknya sudah menikah. Berbeda dengan kebanyakan anak sekarang, memiliki anak setelah menikah adalah suatu beban. Sehingga banyak yang menitipkan anaknya kepada Ibu dan Ayahnya untuk diurus, mereka lebih mementingkan karir yang sudah tinggi dari pada harus bergelut dengan sumur, dapur, dan kasur. Seakan-akan Ibu dan Ayah pembantu yang tidak ada kesibukan apapun, terkadang harus meninggalkan pekerjaanya demi mengasuh cucunya, rela kehilangan sepeser uang dari pekerjaannya, kemudian akan digantikan dengan gaji yang diberikan anaknya sebagai upah mengurus anaknya. Sungguh sangat keterlaluan perilaku yang seperti ini. Apakah hal ini disebabkan oleh pergaulan yang salah? ataukah Ibu dan Ayahnya yang tidak pernah mendidik anaknya?
Maka dari itu Pendidikan dan pergaulan anak harus diperhatikan, supaya anak menjadi aset negara, bukan menjadi beban bagi keluarga. Jangan sampai seorang anak menyusahkan ketika masih kecil, setelah tumbuh dewasa masih saja menyusahkan orang tua. Bahkan mau meninggal pun masih menyusahkan orang lain. Naudzubillahi min dzalik.
Oleh: Ahmad Alfan Fauzi, Mahasiswa Hukum Keluarga Islam UIN Walisongo Semarang

