Dr. Mohammad Nasih mendirikan Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang pada medio 2011 dan mengembangkannya sampai sekarang. Dimulai 20 mahasiswa yang diberi beasiswa berupa UKT kuliah dan tempat tinggal di depan kampus III IAIN (sekarang UIN) Walisongo Semarang ditambah dengan 5 mahasiswa tanpa beasiswa UKT. Setiap tahun mahasantri di rumah perkaderan untuk melahirkan kader berkualitas ilm al-ulamâ’ wa amwâl al-aghniyâ’ wa siyâsat al-mulûk wa al-mala’ ini bertambah 20 sampai pernah 50 orang. Kini, sudah seratus lebih yang menempuh pendidikan S2 di dalam maupun luar negeri dan bahkan beberapa sudah S3. Dua mentor awalnya sudah lulus S3. Dengan modal SDM yang sedang studi pascasarjana ini, bahkan pengajar FISIP UMJ dan Pascasarana Ilmu Politik UI itu mendirikan Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO di Mlagen Pamotan Rembang pada 2019 silam. Berarti belasan tahun sudah, doktor Ilmu Politik lulusan UI itu bergelut dengan pengembangan lembaga pendidikan yang didesain out of the box itu. Padahal aktivitas yang lakoninya itu tidak menguntungkan secara finansial karena mengajar tanpa bayaran sepeser pun. Bahkan sejak awal mendirikan harus keluar uang untuk berbagai keperluan operasional penyelenggaraannya.
Tanpa konsistensi atau istiqamah, tentu saja lembaga-lembaga yang didirikannya itu sudah bubar. Nah, apa kunci istiqamah, sehingga membuat suami dr. Oky Ramha Prihandani, yang akrab disapa Abah Nasih atau Abana oleh para santrinya itu tetap semangat? Berikut wawancara eksklusif baladena.id:
Baladena: “Seberapa intensif keterlibatan Abana di dalam pengelolaan Monasmuda Institute dan Planet NUFO?”
Abana: “Wah mengukur seberapa intensif ini yang tidak mudah. Namun, Monasmuda Institute dan tentu saja Planet NUFO itu ibarat nafas saya. Bagaimana tidak, Monasmuda itu kan singkatan nama saya dan bapak saya, Mohammad Nasih dan Mohammad Mudzakkir, Mohammad Nasih Mudzakkir. Jadi, lembaga perkaderan ini adalah pertaruhan nama saya. Jika berhasil, maka akan disebut dalam doa-doa para kader saya. Jika gagal, ya tidak akan disebut dalam doa-doa mereka. Maka, ibaratnya, lembaga ini adalah hidup mati saya. Daya upaya teroptimal saya lakukan, agar rumah perkaderan ini berkembang semakin baik. Dan alhamdulillah harapan ini terwujud. Baik secara fisik maupun non fisik, semuanya mengalami perkembangan yang sangat menggembirakan. Awalnya dulu hanya ngontrak dua rumah di depan kampus III, dekat sekretariat Korkom HMI di Jalan Ringinsari II. Rumah paling ujung. Lalu karena santri bertambah, nambah kontrakan di beberapa gang kanan kiri Jl. Honggowongso. Karena santri terus bertambah, saya menyewa kamar-kamar kos Ibu mertua saya di belakang rumah. Alhamdulillah setiap kali saya bayar, dikembalikan 50%nya, kata beliau untuk biaya operasional. Rizki mantu saleh. Hehehe. Karena sudah makin berkembang, beliau yang mantan aktivis Kohati Yogya, dosen saya juga, mewakafkan satu rumahnya di Jl. Raya Honggowongso. Dengan sangat bahagia rasanya menerimanya. Namun, rumah-rumah di kawasan Honggowongso itu sekarang sudah musnah semua kena proyek tol. Tapi juga ada berkahnya, karena rumah wakaf itu jadi uang dan sekarang jadi salah satu gedung lantai III.
Baladena: “Apa modal utama dalam melakukan pembinaan pesantren perkaderan ini?”
Abana: “Namanya saja rumah perkaderan dengan basis Islam, jadi dia bisa disebut sebagai pesantren plus. Yang diajarkan tidak hanya ilmu-ilmu keislaman: tafsir, hadits, dan pemikiran Islam kontemporer tetapi juga menejemen berorganisasi, termasuk prakteknya. Semua santri di sini wajib menjadi aktivis HMI. Jadi siang kami bayar UKT, malamnya langsung mengikuti LK I HMI. Ini semacam kolaborasi, agar para santri memiliki wadah untuk mengembangkan kemampuan memimpin. Karena saya juga mantan aktivis HMI, jadi saya mengamati dari jauh saja sudah cukup kalau urusan ini. Yang saya benar-benar jaga adalah mengajar tafsir al-Qur’an, menyimak hafalan mereka, dan melatih mereka berpikir besar dengan basis al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad. Saya kan pergi pulang Jakarta-Semarang. PJKA, pulang Jum’at kembali Ahad. Tiga hari itu saya optimalkan betul untuk mengajar tafsir. Yang kami gunakan adalah tafsir Jalalain, tetapi dengan paradigma kritis. Jadi tidak semua pandangan Syaikh Jalalain kami telan begitu saja. Banyak juga pandangannya yang sudah tidak relevan ya kami tidak pakai. Saya mengajar habis maghrib sampai pukul 21.00. Pagi habis shalat shubuh sampai pukul 06.00, ya kadang lewat kalau lupa. Bahkan kalau siang tidak ada kuliah, atau hari libur, saya memberikan tambahan. Awal-awal dulu saya ajari mereka menulis opini di koran. Karena itu, di masa awal-awal ini istri saya protes. “Kamu pulang untuk siapa? Aku atau anak-anak ideologismu? Aku pulang kamu belum ada. Aku bangun, kamu sudah tidak ada.” katanya. Waktu itu istri saya kan sedang ambil spesialis anak di Fakultas Kedokteran Undip. Pulangnya malam-malam, dan berangkatnya pagi-pagi. Namun, kemudian berjalan biasa saja. Istri saya akhirnya menyerah. Katanya diprotes tidak ada perubahan. Hahaha.
Baladena: “Nah, dari sini saja sudah nampak ada persoalan sebenarnya kan? Pasti kan tidak hanya satu persoalan ini yang muncul yang bisa menghambat keterlibatan membina para kader itu?”
Abana: “Istri saya juga aktivis. Dia Kohati FK Undip. Jabatan terakhirnya Wasekum LKMI HMI Cabang Semarang. Jadi sebenarnya sudah terbiasa dengan aktivitas keummatan. Dan sebelum menikah, kami kan sudah bikin perjanjian, bahwa salah satu dari kami harus ada yang punya aktivitas keummatan lebih dari rata-rata, dan yang satu lagi lebih fokus urus rumah. Siapa memilih apa sudah kami sepakati. Nah, istri saya memilih yang urusan domestik. Jadi ya itu tadi, akhirnya tidak berkutik, dan menerima keadaan. Tapi alhamdulillah istri saya juga merasakan keberkahannya. Buktinya saya sering disumbang. Walaupun awal-awal Ibu mertua saya juga pernah meminta agar saya mengajak jalan-jalan istri saya, tapi kemudian memberikan rumahnya, tanahnya, duitnya juga. Hahaha. Gedung DQ 1 yang menjadi pusat aktivitas mulai dari shalat jama’ah, kajian, rapat, diskusi, dll itu wakaf juga dari Ibu. Bangunan lantai satunya juga. Bahkan saya beri syarat saya mau menerima itu. Saya mau menerima asalkan ibu tidak ikut campur pengelolaanya. Sebab, mengurus ini tidak mudah. Yang menentukan kebijakan harus yang benar-benar terlibat intensif. Alhamdulillah, Ibu konsisten. Sampai hari ini tidak ikut campur. Hanya nyumbang-nyumbang saja ikut campurnya. Hahaha”.
Baladena: “Jadi sebenarnya kunci istiqamah mengembangkan pesantren perkaderan ini apa?”
Abana: “Sederhananya ada dua: kemandirian intelektual dan finansial. Namanya lembaga pendidikan kan harus selalu diberi asupan ilmu pengetahuan. Kalau ilmu pengetahuan kering, tidak mengikuti dinamika perkembangan zaman, ya akan tidak relevan. Karena itu, kita mesti memiliki kemandirian intelektual sehingga mampu melahirkan gagasan dan visi baru yang membuat para kader menjadi senantiasa terbakar semangat. Kalau mereka semangat, mereka akan giat belajar dan berlatih. Kalau semangatnya padam, mereka akan berhenti dan semua akan menjadi malas. Terus terang saja, dengan mengajar setiap hari, pagi dan petang itu, membuat saya mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru yang tidak saya dapatkan dari kuliah dan buku. Ada saja inspirasi baru, terutama karena harus menjawab pertanyaan-pertanyaan mahasantri. Karena santri di sini semuanya mahasiswa, di Planet NUFO sebagiannya juga mahasiswa, maka pertanyaannya kan tidak seperti di forum pengajian yang seputar qunut tak qunut, atau mana dulu yang didahulukan saat turun sujud dari i’tidal. Ini implikasi dari mengajarkan mereka pemikiran modern Islam. Mereka jadi kritis, dan kita harus siap dengan segala macam pertanyaan mereka, terutama tentang persoalan-persoalan baru. Dan sini, kita dituntut untuk berpikir lebih keras, dan tidak bisa berhenti membaca dan melakukan eksperimentasi. Dari sinilah ketemu pandangan-pandangan dan solusi-solusi baru. Kebijaksanaan-kebijaksanaan baru yang lebih relevan saya temukan. Karena itulah menjadi makin semanga. Kedua, yang juga sangat penting adalah kemandirian finansial. Sebab, kita bisa mengajar dengan tenang kalau urusan kebutuhan pribadi selesai. Apalagi di sini tidak dipungut biaya. Bahkan dapat beasiswa. Kalau urusan keuangan tidak selesai, kita tidak punya waktu luang untuk mengajar. Yang tidak terhindarkan adalah kita harus punya sumber-sumber pendanaan yang cukup. Yang sering saya sampaikan kepada anak-anak, kita harus punya tujuh sumber penghasilan. Jika salah satunya mampet, masih ada kran-kran yang mengalir. Dan agar mengalir deras, harus banyak shadaqah. Alhamdulillah, sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, istri saya ini perempuan yang punya penghasilan sendiri, dan semua kebutuhan anak-anaknya dia yang cukupi. Bahkan rumah pun, dia yang buatkan. Dikasih duit sama ibunya. Agar tidak malu, saya kontribusi dikit-dikitlah. Hahaha. Tapi ini sudah kesepakatan. Jadi ya pokoknya alhamdulillah. Uang saya bisa saya gunakan untuk “ugal-ugalan” merealisasikan ide ini itu. Logika kan memang butuh logistik. Logika tanpa logistik ya macet. Mau ngajar nggak punya duit, ya nggak konsentrasi. Mau ngajar, hujan deras, tak ada mobil ya batal. Jadi nggak istiqamah mengajar gara-gara hujan. Kalau kita sudah cinta itu kan lautan luas kita sebrangi, gunung tinggi kita daki. Masa’ gara-gara hujan tidak ngajar. Itu namanya tidak cinta ngajar. Belum menjadi nafas. Kalau hujan deras ya harus tetap datang. Tapi kan tidak bisa, datang dengan basah kuyup. Kalau pakai motor ya kehujanan. Harus pakai mobil. Apalagi saya sekarang harus sering-sering ke Planet NUFO di Rembang. Jaraknya ratusan KM. Kalau pakai motor kan jaket bisa compang-camping seperti iklan motor Komeng itu. Ditambah sampai sana masuk angina dan harus kerokan dulu. Nggak jadi ngajar. Jadi, ya harus pakai mobil lagi. Nah, mobil dibeli pakai uang, dan bensinnya makin mahal yang dibayar pakai uang lagi. Lagi-lagi logistik harus kuat. Yang paling penting sesungguhnya adalah memberikan contoh kepada para santri, agar mereka juga menjadi insan-insan mandiri agar bisa melakukan perjuangan yang sama. Tidak boleh mereka mengandalkan hanya doa dan meminta-minta sumbangan. Minta sumbangan itu bisa menjatuhkan harga diri dan kehormatan. Iya kalau dikasih, kalau tidak? Agenda kita bisa berhenti di tengah jalan. (AH).

