Setiap manusia pernah mendapatkan pujian dari orang lain dan tentunya pernah memuji seseorang. Sungguh sangat berbunga hati jika mendapatkan pujian apalagi dari orang yang yang dikasihi. Kecenderungan kebanyakan orang adalah pujian yang ditujukan untuk dirinya. Pujian bisa karena berbagai alasan misal seperti mendapatkan prestasi yang gemilang, mampu memecahkan suatu persoalan yang rumit, dan lain sebagainya yang membuat orang terkagum atas apa yang telah ia lakukan.
Memuji dan dipuji adalah suatu hal yang umum terjadi dalam kehidupan sosial yang bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan keharmonisan dalam berukhuwah. Bahkan suatu pujian dapat berlanjut menjadi bentuk pemberian hadiah. Namun, apakah pujian selalu baik untuk menjadi konsumsi jiwa spiritual kita? Jawabannya adalah tergantung apa yang kita lakukan.
Untuk mendapatkan kualifikasi dan pengakuan bahkan ketenaran di khalayak masyarakat salah satu indikasinya adalah mendapatkan pujian atas mereka. Berangkat dari sebuah keinginan untuk mendapatkan pujian dan terlihat berprestasi atau baik di mata masyarakat bisa dilakukan dengan berbagai cara. Meski terkadang kita tidak bermaksud melakukan sesuatu hanya demi pujian semata dari orang lain, namun ada beberapa hal yang jika kita senang atas pujian tersebut justru malah berimbas dosa.
Pujian yang berujung dosa itu biasa kita sebut sebagai pencitraan. Kata pencitraan tentu tidak asing ditelinga kita. Namun apakah anda tahu apa itu pencitraan? Pencitraan adalah suatu upaya atau usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk menggambarkan seseorang menjadi lebih baik sehingga hal ini bisa saja memengaruhi opini publik atas seseorang tersebut. Seseorang yang melakukan pencitraan atas dirinya dengan maksud dan tujuan tertentu pasti akan mendapatkan pujian dari sebagian orang. Ia ingin menjadi seseorang yang dipandang baik oleh masyarakat dengan niat tertentu. Misalnya ketika ada kampanye untuk pemilihan umum. Semua calon berusaha untuk mengambil hati rakyat dengan melakukan berbagai kegiatan sosial seperti bagi-bagi minyak goreng yang sedang langka dan mahal kepada masyarakat dengan tujuan mendapat suara untuk pemilu.Banyak sekali contoh-contoh tentangpencitraan yang terjadi di masyarakat. Misalnya, era sekarang banyak sekali orang-orang yang berbondong-bondong untuk menghafal Al-Qur’an. Namun ketika di tes atau diminta simaan dalam sekali duduk belum bisa. Padahal masyarakat sudah tahu dan melabelinya sebagai penghafal AL-Qur’an. Hal ini juga bisa saja termasuk pencitraan, lho. Jadi untuk para penghafal Al-Qur’an di seluruh dunia, tetap semangat untuk terus menghafal dan muroja’ah. Jangan hanya jika sudah mendapat gelar hafidz/hafidzah justru malah malas untuk muroja’ah.
Allah SWT telah menjelaskan dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 188 bahwa apapun yang termasuk pencitraan adalah dosa.
لَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَآ أَتَوا۟ وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا۟ بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا۟ فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ ٱلْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.”
Dalam ayat tersebut, Allah SWT menjelaskan bahwa mereka yang senang dengan pujian dari orang lain atas perbuatan-perbuatan yang tidak mereka lakukan akan mendapatkan siksa yang pedih. Artinya hal itu adalah sebuah dosa yang nantinya menyiksa orang-orang yang melakukan pencitraan tersebut.
Untuk itu, marilah kita senantiasa konsisten untuk berbuat baik kepada siapa pun dan dimana pun dengan niat yang tulus karena ridho Allah SWT. Jangan hanya melakukannya untuk event-event tertentu dengan tujuan tertentu pula.

