Amerika Serikat sebagai Negara yang terkenal akan demokrasinya telah menyelesaikan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang baru. Pilpres Amerika yang digelar pada Selasa, 5 November 2024, sudah menghasilkan pemimpin baru untuk periode 2025-2029.
Kontestasi yang di ikuti oleh Donald Trump yang diusung oleh Partai Republik dan Kamalla Haris dari partai Demokrat dimenangkan oleh Donald Trump dari Partai Republik. Hasil itu menjadikan Trump terpilih kembali setelah pada periode sebelumnya, dia kalah dari Biden, untuk kedua kalinya menjadi presiden Amerika Serikat.
Trump unggul atas pesaingnnya Kamalla Haris dengan perolehan yang cukup jauh. Trump mendapatkan 312 suara electoral dan 76.818.362 (50%) suara popular. Sedangkan Kamalla Haris hanya mendapatkan 226 suara electoral dan 74.308.711 (48.4%) suara populer dari total suara elektoral sebanyak 538. Sejatinya setiap Amerika Serikat menggelar pemilihan umum presiden, warga dan penduduk Palestina akan tertuju dan terfokus matanya untuk memperhatikan ajang 4 (empat) tahunan tersebut.
Hal tersebut karena bagi Palestina setiap pergantian presiden baru, mereka mengharapkan agar kebijakan yang diambilnya juga baru dan berbeda dari presiden sebelumnya mengenai konflik Israel dan Palestina. Dengan kebijakan baru itu diharapkan bisa menghentikan kisruh Palestina dan Israel yang sudah berlangsung sejak lama.
Terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden Amerika ke-60 mencurahkan sedikit harapan bagi warga Palestina, bahkan bagi Dunia. Pria yang berlatarbelakang sebagai pengusaha dan bisnisman itu lebih suka perang dagang ketimbang perang senjata.
Hal itu yang membedakan dengan Joe Biden, yang masih menjadi presiden saat ini. Selama kepemimpinannya, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh dia banyak yang menimbulkan kekacauan dan ketegangan ketegangan di berbagai belahan dunia.
Sejauh masa pemerintahannya, perang Rusia-Ukraina Meletus, konflik Israel-Palestina semakin memprihatinkan kondisinya, dan membuat wilayah taiwan lebih panas situasinya. Harapan baru juga muncul tatkala, negara-negara angota OKI (Organisasi Kerjasama Islam) dalam KTT luar biasanya pada tanggal 11-12 November 2024 akan mengusulkan pembekuan keanggotaan Israel di majelis umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sedangkan sikap Indonesia sepakat sepakat agar Israel ditekan dengan berbagai cara yang lebih keras, termasuk mendepaknya dari PBB.
Di bagian benua biru, negara-negara Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa, melalui kepala kebijakan luar negeri, Joseph Barell mengusulkan agar Uni Eropa menangguhkan dialog politik dengan Israel, Mereka beralasan Israel telah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Gaza, walaupun sebenarnya sudah terjadi hal tersebut, Israel tetap saja menyerang Gaza dengan membabi buta.
Hal tersebut bisa menambah harapan baru bagi Palestina, mengingat negara-negara di dunia termasuk negara sekutu Israel dan negara yang punya hubungan diplomatik dengan Israel, sekarang tersadarkan bahwa ada konflik yang harus secepatnya dihentikan, karena sudah mengakibatkan korban yang terlalu banyak.
Akan tetapi, kabar buruk juga meliputi Palestina karena dengan terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat (AS), dialah yang memindahkan Ibu Kota Israel dari Tel Aviv ke Jerussalem yang merupakan wilayah de facto Palestina.
Kabar buruk bertambah Ketika Trump menunjuk politisi pendukung Israel, Elise Stefanik, menjadi wakil tetap AS di PBB. Kemudian berlanjut Ketika Trump sebagai Presiden terpilih AS mulai membentuk susunan kabinetnya. Trump memilih seorang senator Republik yang merupakan pendukung setia Israel, Marco Rubio, untuk mengisi jabatan menteri luar negeri AS. Rubio pernah mengatakan bahwa dia tidak akan melakukan gencatan senjata di Gaza dan dia yakin Israel harus menghancurkan Hamas. Trump juga mencalonkan Mike Huckabe, mantan Gubernur Arkansas, sebagai duta besar AS untuk Israel berikutnya. Mike merupakan seorang konservatif Pro Israel yang mendukung pendudukan Israel di West Bank.
Namun dari segala kabar buruk itu kita harapkan dengan background Trump yang tidak suka Perang senjata, lebih tertarik dari sisi bisnisnya, Negara-Negara Uni Eropa yang sudah mendukung dan mengakui Palestina dan Negara-negara anggota OKI yang semakin keras menentang dan mengusulkan beberapa cara, diharapkan bisa menghentikan sesegera mungkin agresi Israel ke Palestina yang sekarang sudah semakin semena-mena.
*Oleh : Malik Fajar, Mahasiswa Fakultas Hukum UPS Tegal.

