Pada tanggal 3 September 2022 Pemerintah secara resmi telah mengumumkan penyesuaian harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang berjenis solar, pertalite dan pertamax. Masing-masing menjadi Rp 6800/liter untuk solar, Rp 10000/liter untuk pertalite dan Rp 16500/liter untuk pertamax. Kebijakan tersebut diambil karena susidi yang telah mencapai Rp502 triliun yang tidak tetap sasaran. Subsidi BBM lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat mampu yaitu pemilik mobil pribadi. Uang negara seharusnya diprioritaskan untuk subsidi kepada masyarakat kurang mampu. Oleh sebab itu, Pemerintah harus mengalihkan subsidi BBM agar tepat sasaran. Selain subsidi terhadap BBM, pemerintah juga memberikan subsidi listrik, pupuk, dan subsidi lainnya. Hal ini dilaksanakan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya.
Selama ini, subsidi BBM yang tidak tepat sasaran karena 80% yang menikmati subsidi adalah golongan mampu, sisanya 20% dinikmati masyarakat tidak mampu. Dana subsisdi BBM tersebut akan dikompensasi dalam beberapa bentuk instrumen (bantalan sosial) antara lain BLT (Bantuan Langsung Tunai) sebanyak Rp12,40 Triliun, bantuan subsidi upah kepada pekerja yang memiliki upah maksimal Rp3,5 juta sebanyak Rp60 triliun, dan dukungan Pemda dari DTU (Dana Transfer Umum) sebanyak Rp2,17 Triliun.
Kenaikan harga BBM juga dipengaruhi akibat konflik antara Rusia dan Ukraina masih terus berlanjut dan belum menemukan titik terang terkait jalan damai. Konflik kedua negara tersebut menjadi perhatian dunia mengingat cukup memberikan dampak pada tingkat kestabilan perekonomian terutama terhadap harga minyak dunia. Embargo yang diberlakukan Amerika dan sekutunya terhadap Rusia mejadikan permintaan terhadap minyak meningkat secara signifikan sehinga memicu kenaikan harga minyak dunia. Minyak yang merupakan komoditi primer dan menjadi motor penggerak dunia usaha sehingga kenaikan harga minyak dunia menjadi ancaman serius bagi negara-negara di dunia terutama negara maju dan negara bekembang dimana dunia industri yang menjadi penopang perekonomian mereka sangat bergantung pada minyak.
Mahasiswa yang mayoritas menggunakan kendaraan pribadi menuju kampus juga merasakan dampak yang signifikan atas naiknya harga BBM ini. Penulis pribadi juga merasakan hal tersebut, sebelum naiknya harga BBM untuk pengisian BBM pertamax secara full tank pada motor Vario 125 hanya perlu membayar Rp 55000 sedangkan setelah adanya kenaikan BBM ini terdapat kenaikan sampai sekitar Rp 15000, sehingga untuk mengisi BBM diperlukan biaya sebesar Rp 70000 biaya tersebut dikeluarkan setiap satu minggu sekali dengan jarak antara rumah dan kampus adalah 20 km. Dengan hal ini mahasiswa terpaksa harus memangkas beberapa pengeluaran dan dialihkan menjadi uang bensin.
Sebagai agent of change, mahasiswa menunjukan sikap penolakan terhadap kenaikan BBM dengan melakukan demo di beberapa titik strategis yang mampu terlihat oleh pemerintah. Demo ini dilakukan untuk menyampaikan aspirasi, keluhan, penolakan terhadap dampak-dampak yang akan timbul akibat naiknya BBM dengan beberapa tutuntan lain mengenai pemberantasan mafia migas dan tambang, penundaan pengesahan RKUHP dan revisi pasal-pasal bermasalah, serta tuntaskan kasus pelanggaran HAM. Namun pemerintah tidak menerima dengan baik mengenai apa yang telah disampaikan oleh mahasiswa.
Belum cukup dengan naiknya BBM pada September lalu, harga BBM di dalam negeri pada November 2022 ini terancam naik lagi. Hal ini disebabkan, faktor penentu harga BBM tersebut terus mengalami kenaikan juga pelemahan, yakni harga minyak mentah dunia dan juga kurs rupiah terhadal dolar Amerika Serikat (AS).
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai, bahwa kurs rupiah yang terus melemah dapat berdampak pada harga BBM di dalam negeri. Kenaikan harga BBM bergantung pada dua faktor yaitu jika rupiah terus melemah maka harga BBM dapat naik. Kedua, bila harga minyak mentah dunia naik maka kecil kemungkinan potensi harga BBM turun.
Pengamat Ekonomi dan Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menyebutkan bahwa pelemahan kurs dan melonjaknya harga minyak mentah dunia sangat berpengaruh pada harga BBM di Indonesia. Pasalnya, perhitungan keekonomian harga BBM subsidi maupun non subsidi berdasarkan tiga faktor utama yaitu harga minyak dunia, kurs rupiah, dan inflasi.
Oleh: Imroatun Solekah, MahaSantri Monasmuda Institute semarang.

