Site icon Baladena.ID

Doa Terbaik

Enam belas tahun silam, duniaku mulai tak lagi dipenuhi kemanjaan. Ada cinta yang harus digandakan, bukan dibagi. Ada hari-hari yang diganggu oleh rengek tangisan. Cantikku tak lagi tunggal karena ada saingan. Meski demikian, kau adalah sumber keceriaan kala ku pulang dari sekolah, bangku-bangku penuh coretan nan membosankan.

Kuhibur kau dengan nyanyian penggugah imajinasi masa depan. Masih ingatkah? tiap senja menjelang, kubonceng kau di bagian depan sepeda, lalu berkeliling menikmati wewangian hijau tanaman desa. Saat itu, kau belum bisa berbicara, hanya bisa tertawa menunjukkan dua gigi mungilmu.

Waktu melesat begitu cepat. Kau pun semakin mendewasa. Pertengkaran kecil mulai menyelimuti pagi malam kita. Saling melemparkan tanggungjawab pekerjaan rumah tangga. Berpisah kamar karena tangismu pecah oleh sebab ulahku. Keributan dan keriuhan itu,lenyap setelah kuputuskan untuk mengejar cita-cita di tanah rantau.

Bagimu, ketukan pada permukaan daun pintu oleh tanganku adalah kejutan yang paling kau tunggu. Lalu, ketika ku berpamitan tuk kembali ke perantauan, diam-diam kau sembunyikan anak sungai yang mengalir di sudut mata sipitmu. Mata yang sejak masa balita karenanya kau disebut putri “China Kepathol” oleh orang-orang sekitar.

Kini, kau pun tengah belajar menjadi muslimah mandiri dan berilmu. Meninggalkan kenyamanan rumah untuk berkhidmah pada Sang Guru. Selamat mengulang hari lahir. Semoga istiqomah dalam merapal kalam-kalam Rabb-mu. Maaf, jika aku belum bisa menjadi teladan sebagai saudara tua yang baik. Dalam usaha saling menjaga, walau tubuh tak saling berjumpa, kulangitkan doa terbaik. Lekas pulih.

Semarang, 6 April 2020

Oleh: Ilvaty, Perantau Bumi Emansipasi

Exit mobile version