Site icon Baladena.ID

Diaspora Hijau-Hitam Menembus Kabinet Merah Putih

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si.

Dosen Ilmu Politik FISIP UMJ, Guru Utama di Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang, dan Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO Rembang.

 

HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) bagai seorang pemanah yang dengan lengannya yang semakin kuat meluncurkan anak-anak panah yang tak pernah habis ke segala penjuru. Dalam kaca mata fisika mekanika, kader-kader HMI seolah berada dalam lingkaran dengan gaya sentrifugal yang melemparkan mereka ke luar dan jatuh di berbagai terminal. Di terminal yang baru mereka kenal, mereka harus berjuang, dan sebagian mereka bahkan bisa dikatakan memulai dari nol. Tak heran mereka bisa ditemukan di segala lini kehidupan. Sangat banyak yang menjadi intelektual, pejabat, dan birokrat di dalam maupun di luar kampus. Banyak juga yang melanjutkan hoby menjadi aktivis organisasi sosial kemasyarakatan dan menjadi pemimpin LSM. Dunia profesi juga cukup banyak yang dikuasai oleh kader-kader HMI. Dan yang paling membuat organisasi berlambang hijau-hitam ini populer adalah banyak kadernya menjadi tokoh politik. Mereka tersebar di hampir semua partai politik dan dari sana kemudian mereka berkumpul kembali dalam berbagai rumpun kekuasaan, baik yudikatif dan terutama di lembaga legislatif dan eksekutif. Dalam sejarah republik, kader-kader HMI memang seolah tak mau hanya sekedar menjadi penulis sejarah, tetapi mengambil bagian signifikan menjadi aktor dalam sejarah. Aktor sejarah itu diamati, dikomentari, dan/atau ditulis oleh sebagian kolega mereka sendiri.

Dari berbagai terminal, mereka terus bergerak, dan di antaranya memang dengan sengaja ber-thawaf dengan usaha mendekati episentrum kekuasaan. Sebagian mereka kemudian benar-benar bertemu di panggung belakang kekuasaan. Di sana mereka tidak hanya bernostalgia dengan penuh harmoni, melainkan sering juga menegosiasikan posisi, bahkan ada pula yang berhadap-hadapan karena harus menghadapi sengitnya kompetisi. Terlebih di daerah, tak sedikit di antara mereka yang bertarung untuk memperebutkan posisi, baik di ekesekutif maupun terutama legislatif. Karena itu, tak sedikit di antara mereka yang kembali terpental. Namun, sebagian mereka berhasil. Maka ketika tirai panggung politik eksekutif dibuka oleh Presiden Prabowo Subianto, nampak belasan kader HMI menempati posisi-posisi strategis. Angka ini jauh melampaui distribusi kader organisasi-organisasi kemahasiswaan Islam lainnya, PMII dan IMM, yang lahir belasan tahun setelah HMI. Bahkan juga jauh melampaui organisasi mahasiswa nasionalis GMNI yang sudah lahir tak sampai sewindu setelah HMI, dan pernah memiliki cantolan kuat kekuasaan pada era Presiden Soekarno.

Episentrum perkaderan HMI membuat kader-kader HMI memiliki perspektif ideologis yang sama. Basisnya adalah al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad. Paradigma ideologis ini diinternalisasikan bukan hanya dalam forum kaderisasi dengan diskusi, tetapi dilantunkan dalam mars yang menggema dalam setiap acara: “turut al-Qur’an hadits jalan keselamatan”. Setelah proses kaderisasi, mereka harus melakukan praktik kepemimpinan, baik di dalam HMI maupun di luar HMI, baik sekedar kepanitiaan yang bersifat hanya sementara maupun yang menggunakan sistem periodik. Maka mereka memegang kuat semangat hidup lengkap untuk berpikir ideologis, berwawasan politis, bertindak taktis strategis, dan tetap siap sedia mengerjakan yang teknis-teknis. Itulah yang menyebabkan walaupun mereka pernah dilemparkan ke luar, di titik-titik yang berbeda, tetapi justru membangun lingkaran baru yang lebih besar dengan gaya sentripetal.

Karena gaya sentrifugal yang mewarnai cara berpikir kader-kader HMI, maka mereka memasuki panggung politik sebagai anggota Kabinet Merah Putih dari blok politik yang berbeda-beda. Uniknya lagi, sebagian mereka mampu beririsan dengan berbagai entitas dalam masyarakat sehingga membentuk warna pelangi yang lengkap. Dari barisan Partai Penguasa ada Supratman Andi Agtas yang dipilih oleh Presiden Prabowo sebagai Menteri Hukum, Romo HR. M Syafi’i sebagai Wakil Menteri Agama, dan Ahmad Riza Patria sebagai Wakil Menteri Desa & PDT.

Ada Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM yang masuk karena posisi kokohnya sebagai Ketua Umum Partai Golkar dan sebelumnya telah dikenal sebagai pengusaha, karena pernah menjadi Ketua Umum HIPMI. Masih banyak nama lain dari Partai Beringin ini, di antaranya Dito Ariotejo, Wihaji, Maman Abdurrahman, dan Airlangga Hartarto. Airlangga, walaupun banyak diragukan ke-HMI-annya, tetapi tergabung dalam KAHMI. Ditambah lagi Ace Hasan Syadzili yang menjadi Gubernur Lemhanas.

Dari blok PAN meluncur Zulkifli Hasan, Yandri Susanto, dan Viva Yoga Mauladi. Zulhas menempati posisi paling strategis sebagai Menko Pangan, Yandri sebagai Menteri Desa, dan VYM sebagai Wamen Transmigrasi. Zulhas yang telah melampaui dua periode sebagai Ketua Umum DPP PAN selalu membanggakan menjadi murid tokoh ideologis HMI Imaduddin Abdurrahim yang populer karena buku Kuliah Tauhid dan pelatihan-pelatihan mujahid dakwah. Sedangkan Viva Yoga Mauladi telah menonjol sebagai aktivis yang tahan banting karena pernah dua kali menjadi calon kuat ketua umum PBHMI, karena kalah oleh Anas Urbaningrum dan Mohammad Fakhruddin.

Prof. Yusril Ihza Mahendra melesak masuk ke dalam Kabinet Merah Putih bukan hanya karena pemimpin puncak PBB yang hanya partai tak lolos masuk parlemen, tetapi karena ia adalah sosok yang dikenal luas sebagai pakar hukum tata negara. Dengan profesinya itu, ia pernah menjadi kuasa hukum Prabowo di Mahkamah Konstitusi.

Beberapa yang lain masuk melalui terminal lain. Saifullah Yusuf masuk karena posisinya sebagai tokoh di NU, ormas dengan anggota terbanyak tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Yuliot Tandjung menjadi Wakil Menteri ESDM masuk dari pintu birokrasi. Sedangkan Mohammad Qodari dan Hasan Nasbi masuk karena profesi sebagai konsultan politik.

Mengapa walaupun kader-kader HMI melakukan gerak sentrifugal tetapi tidak mengalami keretakan yang mematikan? Jawabannya terletak pada paradigma teologis-filosofis yang mereka agungkan sebagai Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI. Di dalamnya terdapat sintesa yang sangat kuat tentang semangat keislaman dan keIndonesiaan dan menjadi bahan ajar kader paling dasar dengan tujuan terbinanya insan akademis pencipta pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridlai oleh Allah Swt.. Karena itulah, kader-kader HMI tidak membutuhkan wadah politik atau perjuangan yang tunggal. Mereka justru lebih nyaman dengan jalan-jalan yang berbeda yang sesuai dengan karakter mereka masing-masing. Dengan begitu mereka bisa mengoptimalkan peran sehingga menonjol optimal. HMI seolah ingin terus meneguhkan prinsip bahwa ia adalah “milik semua dan bukan milik siapa pun atau pihak mana pun”. Ketiadaan ikatan yang mengharuskan itulah yang menghasilkan fleksibilitas tingkat tinggi. Dan itulah yang menyebabkan mereka bisa berada dalam berbagai partai politik dengan ideologi apa pun, kecuali yang benar-benar tidak bisa diseiring-sejalankan dengan NDP HMI. Kabinet Merah Putih bentukan Presiden Prabowo menjadi momentum sangat strategis, karena membutuhkan figur-figur yang bukan hanya bisa menunjukkan persatuan nasional, tetapi juga memiliki kelihaian dalam merajutnya melalui negosiasi yang terkadang memerlukan keberanian secara mental dan kemampuan praktis di lapangan. Kemampuan-kemampuan itulah yang menjadi kompetensi dasar kader HMI karena telah mengalami tempaan. Dan apakah itu semua adalah bentuk pragmatisme atau strategi dan taktik untuk bisa memperjuangkan nilai-nilai yang mereka dikader? Waktu yang akan menjawabnya. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Exit mobile version