Subuh itu, surya indah masih bersembunyi di pertengahan cakrawala lain benua, sehingga bulan purnama lah yang menjadi sang pengganti penyinar Bumi Putera yang paripurna. Meski sedikit redup, karena tetiba gumpalan awan besar kecil menutupi iluminasinya. Tak mengapa, setidaknya aktivitas malam para insan tidak terusik sedikitpun tersebabnya. Bahkan jejangkrik dan kawanan kodok masih melanjutkan night tour mereka di setiap sudut pesawahan hijau Nusantara. Mereka hidup dalam damai, dengan sahaja.
Ya. Benar-benar damai, sedamai semilir angin sejuk malam ini. Belum tercampur dengan polutan-polutan bermasalah. Seperti suara dan gas dari knalpot kendaraan bermotor, pembakaran sampah berskala besar, corong-corong aktif milik pabrik, serta napas-napas orang munafik. Spontan saja kuterbangun, jauh sebelum mereka kembali bangun. Entah karena apa, yang jelas mimpiku malam ini tidak begitu buruk. Hanya secangkir teh bunga telang dingin dan semerbak eukaliptus segar yang disemburatkan oleh aroma therapy yang kutinggal menyala semalaman.
Beranjak dari ranjang, langsung berjalan sedikit tertatih efek nyawa baru saja terkumpul, lantas menuju wastafel di sayap kanan kamar. Melihatnya di dalam cermin, menguntit segala caraku. Ketika kuangkat tuas keran, ketika aku mulai membasuh wajah kusutku, ia tetap bersikeras, terus menguntitku. Sial, apa maunya? Hampir setiap momen dalam hidupku selalu saja dihadiri oleh makhluk menjijikkan itu. Di setiap sudut foto-foto lawasku yang terhimpun aman di album besar keluarga. Siapakah gerangan? Aku sangat merasa terusik. Damainya dunia, tidak seambigu benakku kala menatap lekat wujudnya. Sesungguhnya, dia tak berguna.
***
Namaku Naila, seorang gadis yang gemar berbicara pada seluruh elemen dalam ekosistem Pantai Utara, tentang kisah-kasih pengejawantahan diri pada tokoh figuran iruk pikuk remaja. Ingin sekali aku kuasai seluruh dinamikanya, seperti pasir ramah dan halus yang hampir setiap petang kugenggam, sehingga bisa saja, kapan saja kutambah, kurangi, kutinggalkan, dan lupakan segala rupa. Lembut dan nyaman hanya sesaat, lantas jenuh kembali kala deru ombak menempiasnya. Ternyata alam ini juga sama fananya, sama-sama munafik dan gampang berkhianat. Kepada siapapun itu, selagi masih bisa dihalau atensinya.
Rumahku dekat sekali dari bibir pantai ini, hanya perlu beberapa langkah saja untuk sampai di serambi rumah joglo milikku. Pelatarannya cukup luas, langsung menengadah kepada langit dan horizon Pantura. Ciamik betul, namun sering terisi oleh beberapa truk dan dokar milik Bapak. Bertetangga kehijauan alam hutan bakau di sayap kanannya, sehingga tak heran mengapa lemari pendingin kami tidak pernah kehabisan stok lobster dan rajungan.
Bangunan yang sangat bersejarah, konon si Eyang pernah bercerita, bahwasanya jogloku adalah joglo yang dibangun oleh getir keringat kakek buyutku sendiri. Tanah dan sumber daya lainnya masih dikuasai kompeni, tatkala pribumi sibuk menjadi kuli. Termasuk dengan hutan jati yang banyak di temukan di seperlilauan mata kita di Pantura ini. Ada satu peninggalan konkret dari kakek buyut Eyang, yakni ukiran bahasa Netherlands di setiap anak tangga rumah, pun dengan beberapa aksen floral estetik di tiang-tiang rumahku. Buyutku adalah seniman.
Pantas saja si Eyang terlihat antusias dan bangga, kala berkisah tentang kakek heroiknya. Kakek buyutnya benar-benar manusia berguna. Berbeda sekali dengan dia, si penguntit yang selalu mengikutiku kemana saja. Dapat kutebak, kini ia masih mematung di belakangku. Tidak berbeda jauh dari kompeni yang hanya mengeksploitasi kekekaran pribumi. Demi keuntungan semata, dan tidak mempedulikan sebab akibatnya. Ya, itulah dia. Melihat mentari hendak membesuk belahan dunia lain perlahan, diikuti kawanan keluwang yang mulai bangun dari tidur mereka. Terpaksa, kuharus kembali ke rumah, sebelum hari berganti.
Ya, di dalam joglo yang sebesar ini, aku tinggal sendiri. Ah, tidak sepenuhnya sendiri, ada lima belas penjaga rumah yang siaga melayaniku setiap waktu, pun dengan si Eyang, tiap hari ia hanya berayun pada kursi goyang jati berpeliturnya, di hadapan televisi yang menayangkan acara sinden seremonial, karawitan, hingga ketoprak. Wajar saja, karena si Eyang adalah tokoh ketoprak ternama di Pantura, bahkan Jawa Tengah. Ia memiliki sanggar ketoprak di kiri joglo ini.
Memang benar, hidupku bergelimang akan harta. Semua keinginan, akan terwujudkan dalam waktu yang terbilang singkat. Namun, tiada kata tenang selagi hadirnya selalu menghantuiku. Tiada sedikitpun gubahan orangtua yang membercaki setiap ruangnya. Bapak lebih memilih hidup dengan istri barunya di ujung semenanjung Jepara sana. Mengusir Ibu yang tengah hamil tua, ada adikku, harapanku sejak lama, sudah lama aku dan Eyang menanti kehadirannya dalam keluarga kecil kami. Sekarang, entah di mana Ibuku berada. Namun, Bapak masih sering menemui kami di sini hanya sekadar untuk melipur hari tua Eyang, bapak kandungnya. Mungkin saat akhir tahun, atau libur hari raya Iedul Fitri.
Dia membelikan Eyang banyak sekali patung-patung besar dari kayu khas Jepara, makanan-makanan berat dan sedap lainnya, kopi hitam dari Jepang, sepatu bermerk dari Perancis, bahkan sampai berkotak-kotak jam tangan yang konon katanya, harga perjamnya sepuluh kali lebih mahal dibandingkan rumah joglo ini. Wajar saja, Bapak adalah saudagar jati yang kaya raya, Jepara adalah tempat yang strategis dengan karirnya. Menjadi sebab, mengapa Bapak terkena cinta lokasi di sana. Menimbulkan rasa sesal yang mendalam di benakku.
Tidak hanya Eyang. Sebagai bapak biologis, ia tak mungkin berlaku cuek ke anak semata wayangnya. Ia juga membesukku. Tidak! Menurutku ia hanya ingin menyiksaku. Lantas ia masuk ke kamarku, dan langsung mengambil tas sekolahku, dan berusaha mencari di mana rapor sekolahku diletakkan. Hal krusial yang paling kubenci, terjadi setelah ia membaca beberapa kolom nilai di rapor jahanamku itu.
PRANGG!
Ia lempar guci, gelas, dan segala yang ada di hadapannya. Lalu berlari menujuku, dan menempeleng kepalaku sampai kuterjerembab di lantai. Aku harus apa? Rasa takut menekan kepalaku ke bawah. Benar, si penguntit ada di sana, terus menekan batin dan gerakku. Menyatu dengan bayangan Bapak yang tengah berdiri angkuh di depanku. Rasa penasaran memaksa kepalaku untuk melihat ke atas, kepada wajah merah padam Bapak matanya menyala-nyala. Sekejap, otakku berhenti bernala. Dia benar-benar monster, nyatanya.
“KENAPA NILAIMU BISA TURUN?!!” bentaknya keras, sembari memilin telinga kananku sampai darah segar mengucur. Lalu ia berhenti, dan membanting badan mungilku ke kasur.
“LIHATLAH! Dalam berbisnis, penurunan adalah dosa besar. Nilai Matematikamu mengalami penurunan. Sembilan tujuh? Ingatlah, Nak! Yang saya tahu, nilai pelajaran itu hanyalah seratus, PAHAM?!” bentaknya kembali, langsung menuju telingaku. Lantas membiarkanku terpaku di atas ranjang. Ia melangkah ke luar.
“Jikalau tidak ada niat sekolah yang tebersit dalam dirimu. Maka jadilah seperti si jalang yang kau sebut Ibu itu!” pungkasnya mengakhiri, lalu ia pergi, bersama dengan dua orang bodyguardnya, kembali menghirup udara luar. Aku masih mematung.
Hening, bayangan beberapa detik yang lalu masih melayang, bahkan berkelebat di pikiranku. Lantas, aku bisa mengakhiri ini semua dengan ledakan tangisku. Melepaskan semua kebencian, trauma, amarah, dan berbagai penderitaan yang pada akhirnya bertengger dalam otakku, selamanya. Dalam diam, kembali kubernala. Yang benar saja? Hampir setiap tahun aku menerima kehancuran yang sama. Tuhan, aku butuh tangan penolongmu.
Mengetahui Bapak telah beranjak dari joglo. Eyang segera menghampiriku ke kamar, usai berjam-jam ia terpaksa mengurung diri di dalam kamarnya. Ingin rasanya melindungi, namun tertahan karena khawatir jikalau sekonyong-konyong serangan jantungnya kumat. Karena hanya Eyang, sepasang telinganya menjelma wadah yang kokoh bagi keluh kesah harianku, tentang eksistensi dia, pun dengan latar belakang ia muncul ke dunia. Hanya Eyang, rupa dari pertolongan Tuhan yang selalu kupinta.
“Seng sabar yo, Nai. Alam memang seperti ini, terkadang bisa membawa harum dan rasa bebas kepada manusia. Namun, ada kalanya alam juga berlaku jahat kepada manusia, menghempaskan semua ketentraman dan kedamaian, membekuk renjana hati, dan kasih sayang. Sudah, anggap saja tadi adalah bentuk dari rasa kasih sayang Bapakmu kepada anak satu-satunya, kamu,” Eyang mewejang, mengelus kepalaku lembut, membiarkanku hanyut dalam tangisku.
Aku, manusia bodoh yang entah apa fungsinya bagi kehidupan. Aku, manusia bodoh yang bahkan tidak dapat sejalan dengan orangtua kesayanganku. Aku, manusia bodoh yang hanya dapat menerima welas asih dan kasihan dari orang-orang sekitar. Seteruk itukah diriku? Ibu pergi, meninggalkan beban berat dan besar dalam kehidupannya, aku. Bapak pun laksana rentenir yang berlaku bengis kepada siapa saja demi kepentingan perutnya. Ya, aku, manusia bodoh yang gampang sekali diobrak-abrik mentalnya oleh alur alam.
“Eyang, aku takut, takut sekali. Dia semakin dekat denganku. Semakin hari semakin besar saja masalah yang ditimbulkannya, sama seperti ukurannya yang membesar seiring berjalannya waktu. Aku takut jikalau sewaktu-waktu ia tumbuh besar melebihiku, dan segera melahap habis diriku dengan bencana raksasa yang akan ia timbulkan. Bagaimana caraku untuk menguburnya dalam-dalam, hingga aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi, Yang?” alam bawah sadarku berucap. Eyang sedikit tertegun, tak pernah menyangka.
“Mbok yo seng damai tho. Kamu kan juga sudah besar, sudah menginjak usia remaja. Bahkan hampir dewasa kan? Tujuh belas tahun umurmu gitu kok. Nilai-nilai pelajaranmu di sekolah yo apik-apik tho? Otomatis kamu bisa saja berkawan baik. Ya tho?” wejang singkat Eyang kepadaku, tak bisa dibiarkan kandas.
“Tapi piye yo, Yang. Dia itu selalu menekan keberanianku, membiarkan mental dan kuasaku luluhlantak seketika. Inisiatif gak akan berguna jikalau dia masih saja seperti itu. Dia parasit, Eyang!” tandasku sedikit kesal. Eyang orang yang sabar, sehingga ia masih bisa menanganiku dengan keteduhan verbal dan pikirannya. Ia berusaha tersenyum kembali, seperti Eyang yang kukenal.
“Naila, cucune Eyang. Segala sesuatu di dunia ini diciptakan Tuhan dengan laman putih dan hitamnya. Ada mereka yang ahli dalam hal-hal ilmiah, ada mereka yang ahli dalam berpolitik, dalam berdagang, ada mereka yang kerap berseteru dengan olimpiade-olimpiade di bidang olahraga, semua manusia diciptakan dengan kodrat kemampuan mereka masing-masing, Nai.”
Aku terdiam, tangisku terhenti seketika kala mendengar fatwa Eyang yang benar. Senyumnya semakin teduh, menenangkan.
“Sejatinya, Bapakmu itu masihlah sayang kepadamu, Nai, dan akan terus seperti itu hingga dunia yang memisahkan kalian. Hanya saja, caranya dalam menyayangi anaknya salah besar. Kiprahnya untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki anaknya jangan sampai terhalang oleh kaprahnya yang menyimpang. Bapakmu itu kuat, tentu melahirkan anak yang tak kalah kuat. Maka selagi kamu belum penat, janganlah membenci dirimu sendiri atas apa yang telah alam tentukan. Pun, alam juga memiliki siang dan malam kan?” ujar Eyang melanjutkan. Aku semakin paham.
“Lantas, bagaimana dengan keberadaanya, Eyang? Ia bak hantu yang selalu menakutiku. Aku ingin lekas pulih!” balasku dengan rasa khawatir, Eyang kembali menanggapi.
“Dia, adalah bayangmu, Naila. Bayangan yang kendali penuhnya berada di genggaman tanganmu. Keberadaanya, jelmaan dirimu. Jikalau kamu menganggapnya adalah suatu aib dan kegelapan yang patut engkau sembunyikan rapat-rapat, maka secara tidak langsung, kamu membenci dirimu sendiri. Berubahlah, berjuanglah, hingga engkau berada pada titik di mana rasa cinta menyelimuti setiap langkahmu, gerakmu, nafasmu. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan kesempurnaan. Membenci diri sendiri, sama dengan membenci kesempurnaan Tuhan bukan?” Eyang kembali meneduhkan pikir Naila.
Dalam kehangatan peluk Eyang, Naila dapat berpikir jernih. Fatwanya benar, ternyata alam tidak seburuk yang ia ekspektasikan. Alam yang berisikan kegelapan dan kehampaan sekadar hoaks yang bersimpang siur, lama kelamaan terbawa angin. Atau alam yang berisikan kedamaian dan bumi yang utopia itu tidak sepenuhnya benar. Ternyata, alam merangkam keduanya. Laksana lakonan sandiwara, alur tidak akan manis, jikalau tiada resolusi epik yang diusung oleh sang konflik.
Untuk saat ini, aku hanya ingin pelukan. Dan ya, alam masih memberikannya kepadaku. Meskipun bukan dari orang terintimku, layaknya Bapak dan Ibu, namun masih ada Eyang yang setia melipur sedih senduku. Terima kasih, Tuhan.
***
Polusi udara di siang hari membuat gerah dan keruh. Entah penglihatan, pendengaran, semua indra terlibat pada masalah yang serupa. Indonesia butuh reboisasi, termasuk Kota Jepara dengan cuaca yang cenderung tak stabil, pancaroba kerap terjadi di sini. Bukankah sudah menjadi kodrat bagi manusia untuk menjadi eksploitator bagi bumi? Lantas, apa gunanya akal sehat dan jalan kebenaran terbentuk? Akupun tak tahu.
Range Rover Evoque putih berhenti di tepi pesisir pantai, entah pantai apa namanya. Tidak ada sedikitpun wahana dan penglaju di sana, benar-benar pantai yang asri, tiada yang tereksploitasi. Bahkan pepohonan kelapa masih terasa akrab dan bertetangga. Mentari menyorot rumah joglo kecil yang menjorok ke pesisir tersebut. Bukan joglo Naila dan eyangnya. Ini Jepara.
“Selamat siang, Bu!” salam seorang pria berbadan kekar, namun wajahnya sedikit masam.
Dari dalam kediaman, keluarlah seorang wanita, masih muda, ada bayi yang terlelap dalam timangannya. Wanita itu kembali tersenyum saat melihatnya, lantas ia segera menyalami lelaki tersebut dengan cekatan. Senyum simpul tebersit di wajah lelaki itu.
“Iya. Ada apa gerangan, Mas? Pagi ke pagi, hari demi hari, wajah anak ini semakin persis saja dengan bapaknya,” ujar wanita itu mengawali, lantas memperlihatkan rupa dari bayi yang benar-benar mirip dengan wajahnya. Senyum sempurna semakin jelas terlihat di wajah lelaki itu.
Tak lama kemudian, mereka masuk ke dalam joglo. Nampak seperti miniatur dari rumah joglo milik Eyang dan Naila, tanpa sanggar, tanpa adanya keberadaan kursi goyang milik Eyang. Hanya ada keranjang bayi di dalam sepetak kamar bercatkan biru muda dengan asken kelabunya awan. Lelaki itu tampak sumringah, tersenyum mantap, seraya melihat kedua mata wanita itu.
“Bu, anak kita sudah tumbuh menjadi anak yang cantik dan dewasa. Untuk ke sekian kalinya, maafkan aku yang belum bisa berlaku bijaksana dahulu. Namun aku masih teguh dan yakin, bahwa Naila akan tumbuh menjadi anak yang luar biasa, di bawah asuhan Eyang. Percayalah, Bu.” Sekejap mereka larut dalam tangis haru bersyukur.
Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

