Site icon Baladena.ID

Di Balik Senja Merah

Ketergesa-gesaan Itu dari Setan, Kecuali dalam Lima Perkara Ini

Di balik sang senja terdapat sebuah cerita yang berarti. Bukan sebuah rekayasa apalagi imajinasi belaka. Datangnya sang bintang dan pancaran aura rembulan memberi makna yang begitu indah tentang sebuah perkenalan. Bukan sebuah rencana, melainkan garis alam yang telah disusun oleh Sang Khaliq. Tanpa disadari, senja telah memberi kesempatan dimensi untuk kita bersama menikmati sang rembulan. Aku tak pernah membanyangkan bahwa kau hadir dengan melukis kisah. Ya, kisah lucu dan tak pernah terurai.

Kenapa dengan rasa ini? Bukankah ini hanya hal biasa yang tak sepantasnya menaruh harapan lebih? Sungguh payah diri ini. Setelah sekian lama menikmati candaan receh dan saling menuai cacian, akankah  berubah menjadi rasa nyaman seperti kalimat familiar “dari benci menjadi cinta?” Entahlah, yang pasti jiwa yang rapuh ini merasa kehangatan dan kenyamanan saat kau hadir dengan gayamu yang sederhana.

Setiap kali bertemu, seakan bumi ini menolak dan bosan. Sebab, selalu saja ada perdebatan yang tak penting dan masalah sepele yang diperdebatkan. Sifatmu yang keras berbenturan dengan sifatku yang selalu tidak mau mengalah. Aku jengkel karenanya. Seakan kita tidak bisa dipersatukan.

Dari situ, rasa kesalku semakin bertambah padamu, tak ingin lagi kumenemuimu. Dengan panjangnya waktu bergulir, hampir saja aku melupakan setiap pancaran rembulan yang selalu setia menyaksikan pertemuan kita. Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak mau kisah dulu terulang lagi. Namun entah mengapa, saat aku jauh dari dirimu, kurasa ada sesuatu yang hambar bak makanan tanpa bumbu.

Apakah ini rasa benci atau rasa rindu yang mulai bertahta? Apapun itu, semoga Tuhan merestui dan alam mengamini. Kau telah mampu menggumpulkan keping-keping pecahan hati ini yang telah lama hancur oleh harapan tandus yang entah dimana ujungnya. Kau menyusunnya dengan rapi, dengan caramu yang tak mungkin bisa aku melupakannya. Lalu, kau menyimpanya di balik senja merah.

Ketika mentari terbit, aku selalu mengadu pada Tuhanku, mengapa sang senja tak juga datang? Padahal jiwa ini sudah begemuruh, ingin mendengarkan sebuah cerita yang tak begitu penting—hehe. Setiap kali perbincangan, kau selalu memberi warna baru. Karena itulah, untaian-untaian kata dari bibirmu akan kusimak dengan saksama. Iringan dedaunan yang menari nari seakan mendengarkan dialog kita. Kau selalu menyelipkan nyanyian yang membuatku tersentuh mendengarnya. Suaramu merdu dengan melodi tegasmu, hinnga kicauan burung berdendang mengikutinya.

***

Ada apa dengan malam ini? Serasa jiwa mulai merasa menyatu dengan keadaan. Aku selalu mengangat kata mutiaramu bahwa yang terpenting dari diri seseorang bukan cassingnya, melainkan isi otak dan akal dalam berfikir. Itulah yang membuatku mulai terbuka dan tertarik, ingin kau selalu ada dalam setiap hembusan nafasku. Kau telah membuka cara pikirku dan perlahan kau mengajariku tentang arti hidup.

Kini, jiwa yang mulai damai dengan alam, perlahan mulai bergejolak. Mengapa harus ada jarak untuk menyimpan rindu? Padahal aku berharap selalu bisa memandang pancaran bola mata yang teduh nan indah itu. Rasa rapuh pun mulai mengikis. Begitu juga dengan sang rembulan, dia bersedih karena rindu memancarkan cahayanya setelah kita berdua menikmati rayuan pohon rindang di balik  senja merah.

Oleh: Zahrotun Ni’mah

Exit mobile version