Site icon Baladena.ID

DemoCrazy Pemilwa di UIN Wali Sembilan: Sebuah Kritik untuk Komisi Pengarang Undang2

Sejak dahulu Pemilwa di UIN Wali Sembilan tidak pernah beres. Komisi Pencari Uang Mahasiswa (KPUM) sejak masa ke masa selalu saja bermasalah. Mereka tidak pernah serius untuk mengambil bagian dari tanggung jawab. Eh sorry apabila bercandanya terlalu serius.

Sebelum menulis tulisan bernilai ibadah ini, saya sebenarnya dilema sob. Antara kasihan sama pihak budak Komisi Pengarang Undang2 dan kebenaran yang harusnya tersampaikan.

KPUMonye* kembali melakukan kecacatan dalam berpikir nih sob. Setelah sebelumnya Pemilwa (Pemilihan Wanita) dibentuk, ia tidak sama sekali mensosialisasikan asas asas dan aturan aturan tentang kewanitaan yang seharusnya diketahui oleh para wanita yang hendak dicoblos. Ups… Maksudnya mencoblos.

Entah kapan KPUM itu dibentuk, jelas jelas ia langsung nongol gitu aja. Seperti orang yang kurang kerjaan. Mau saja jadi budak dan berdiri di bulu ketek seniornya. Eh lupa. Seniornya udah gak punya SK gaes hihihi. Masa hidupnya sudah habis. Pantesan juniornya jalan sendiri. Udah buta, gak paham apa apa, diperbudak lagi.., ngeriiii.

Agar semua tahu saja. Sejak awal sosialisasi di kampungs hijau itu tidak ada sama sekali. Coba lihat instagramnya, sepi seperti kuburan dan rumah kosong. Apalagi yg namanya Badan apa itu, kalau gak salah Badan Pengawas Perut yang sampe sekarang gak tahu siapa. Hidup atau tidaknya. Jangan jangan emang sengaja dipilih yang ghaib supaya bisa mengawasi lebih dalam. Mantap memang Demo ini.

Konon katanya, kampungs hijau beserta rakyatnya lagi mencegah Covid. Sampai sampai segala macam agenda kampungs dihentikan sementara. Termasuk berfikir. Untuk sementara juga dihentikan.

Nah itu mungkin yg jadi dasar kenapa Komisi Pengarang Undang2 tidak update masalah Pemilwa ini sob. Ya takut ada kerumunan di “medsos”. Tapi kelompok mereka sendiri malah diberi tahu duluan. Yaaah kebaca strateginya deh.

Usut punya usut, para pendekar Komisi juga dipilih tidak melalui seleksi berkas ni sob. Tapi di angkut kaya ikan genol dari dalam sungai. Wah ngeri ngeri sedap tuch.

Bahkan Badan Pengawas nya sampai sekarang gak terlihat batang hidungnya sama sekali. Teman teman ada yang tau gak siapa saja badan Pengawasnya? Itu tuh, mereka juga. Yah mereka lagi. Kacau kacau.

Kalau kesalahan ada dalam satu tubuh, kemudian yg salah tangan, maka mulut akan bungkam coy. Itulah mengapa Badan Pengawas tidak ada kerjanya alias nganggur alias bingung mau ngapain. Wong mereka gak paham undang undangnya. Wong Komisinya teman mereka sendiri. Wah kalau begitu, mereka juga dapat “komisi” dong. Bisa jadi.

Btw, doi diberitahu kalau hari ini ada partai yang ditolak atas dasar kebodohan Komisi sob. Wiiih ngeri. Udah kayak abu janda. Jadi ceritanya gini nih. Mereka kan baca undang undang Pelakor tuh, tapi karena otaknya gak nyampe, mereka gak paham. Akhirnya mereka menafsirkan sendiri ayat di UU tersebut. Padahal setelah di klarifikasi ke bagian legislatif atau yg buat UU, jawaban mereka beda sama Komisi ini. Wah wah. Siapa nih yang salah? Yang salah sejak awal yang milih mereka lah. Udah gak tau apa apa, dibiarkan lagi.

Ingat kata Rasul, “apabila suatu pekerjaan diberikan pada yg bukan ahlinya, maka tunggu saja kehancuran,”. Eiiisttsss cuma hadist. Mereka lebih paham hadis katanya sih. Paham hadist kok berbuat dusta demi kehormatan. Kalau kata ayam, itu namanya “pekok,”.

Cape ah nulis Mulu. Orang di Komisi udah klarifikasi noh dan ngaku salah. Tapi mereka klarifikasi di warung nasi kucing. Nyuap itu yg agak elit bro, di restoran atau cafe gituh biar kesannya serius.

Harusnya kesalahan kayak gini di klarifikasi di depan publik. Bukan di warung kucing. Ke perorangan lagi. Padahal mereka gak sadar kalau mereka itu nyakitin hati banyak orang. Waaah pedih tuh.

Semoga saja cerita fiktif ini bisa menyadarkan kita semua tentang bahayanya berlogika jongkok. Saran saya, ikut kelas menulis yang diselenggarakan Tadika Mesra. Biar tahu logika tulisan ngab. Jangan asal nyeplos tapi salah. Udah salah ngotot lagi.. yaelah ngab. Dasar!!!!

Bersambung….

Exit mobile version