Setiap orang memiliki persepsi berbeda tentang definisi bahagia dan cara untuk mencapai kebahagiaan. Dalam buku Islam, Doktrin dan Peradaban karya Nurcholis madjid, dijelaskan bahwa orang-orang Yunani Kuno menganggap kebahagiaan adalah sesuatu yang semu, tidak bisa dicapai secara haqiqi atau selamanya. Menurut mereka, kebahagiaan akan muncul ketika manusia bisa menggapai apa yang mereka inginkan atau cita-citakan. Namun ketika keinginan mereka tercapai, akan ada keinginan-keinginan lain yang akan menimbulkan pudarnya rasa bahagia tadi dan menginginkan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya. Sehingga rasa bahagia yang harusnya sudah terealisasi akan kalah dengan keinginan untuk mencapai sesuatu yang lain, karena pada dasarnya manusia memiliki rasa puas yang tak pernah terukur.
Sedangkan Martin E.P Seligman, seorang Profesor Psikologi Keluarga di Departemen Psikologi Universitas Pennsylvania dalam bukunya Happiness and Virtue in Positive Psicology mengatakan bahwa ada dua sudut pandang kebahagiaan yaitu moral-laden. Moral-laden yaitu sebuah kebahagiaan yang berpusat pada pelaksanaan kebaikan (virtue)) dan yang kedua adalah morally-neutral yaitu kebahagiaan yang menekankan pada kesejahteraan subjektif dalam bentuk kepuasan penuh terhadap hidup atau pencapaian kepada kenikmatan yang tinggi. Kemudian Martin menyimpulkan bahwa dari kedua sudut pandang tersebut akan muncul satu kebahagiaan yang bernama kebahagiaan autentik (autentic happiness) yaitu kebahagiaan abadi dalam segala aspek, tidak bersifat temporal dan sementara, juga tidak bersifat partial dalam waktu-waktu tertentu. Autentic happiness bisa ditimbulkan oleh perasaan baik akibat perbuatan baik yang diperbuat oleh manusia. Sehingga dalam keadaan apapun, ia akan tetap merasa bahagia.
Dari dua pendapat diatas, sebenarnya dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan itu bersifat relative. Begitu juga pendapat yang dilontarkan oleh Dr. Mohammad Nasih, Dosen Ilmu Politik UI, yang mengatakan bahwa kebahagiaan itu relative tapi memiliki standard yang tetap menunjang kualitas hidup.
Beliau mencontohkannya dengan dua orang yang memiliki kedudukan sama secara materiil dengan gaya hidup yang berbeda. Salah satunya ke Prancis untuk berlibur sedangkan satunya lagi menghadiri pernikahan muridnya di salah satu desa terpencil. Apakah orang yang berlibur ke Prancis bias dikategorikan lebih berbahagia daripada satu orang lainnya yang hanya menghadiri acara pernikahan muridnya? Tentu tidak. Jika dipertanyakan terkait mengapa seseorang butuh liburan? Karena ia sedang tidak merasa bahagia, bukan? Maka berlibur ke Prancis bukanlah presntase tinggi sebuah kebahagiaan.
Walaupun dari dua orang dalam contoh diatas melakukan dua hal berbeda, yang dalam steorotip masyarakat bahwa berlibur ke luar negeri pasti lebih bahagia, tentu tidak benar. Karena kebahagiaan dibentuk dalam otak yang kemudian mengalir menjadi salah satu emosional yang ada dalam diri manusia.
Dalam dunia kedokteran, dijelaskan bahwa otak memiliki berbagai macam hormon termasuk hormon kebahagiaan. Ada tiga macam hormon yang akan muncul ketika seseorang merasa bahagia yaitu dopamin, endorfin dan serotonin. Hormon-hormon itulah yang dapat menenangkan sistem saraf, serta menurunkan denyut jantung dan tekanan darah. Sehingga perasaan manusia akan ikut terpengaruh dan membentuk kebahagiaan. Hormon dopamin dapat memberikan energi dan motivasi, hormon endorfin dapat mengurangi rasa sakit dan memunculkan euforia, serta hormon serotonin dapat memperbaiki mood seseorang.
Lalu apa hubungannya dengan surat Hud ayat 108?
Qur’an Surah Hud: 108
وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ إِلا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ
“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.
Dalam tafsir Ibnu Katsir, orang-orang bahagia yang dimaksud adalah para pengikut nabi yang memiliki keimana. Adapun orang yang telah Allah tulis sebagai orang yang bahagia, karena taufik-Nya sehingga mereka beriman, beramal saleh, meninggalkan syirik dan maksiat, maka mereka berada di dalam surga, kekal selamanya, selama langit dan bumi masih tegak. Ketentuan Allah adalah mutlak, kecuali dengan kehendak-Nya.
Ketika seseorang sudah mencapai authentic happiness, maka ia tak lagi mempermasalahkan hal sebesar apapun. Keimanan akan membawanya pada keikhlasan untuk menjalankan hidup serta rasa syukur atas semua nikmat yang telah diberikan.
Kesimpulannya adalah kebahagiaan dikonsep sendiri oleh otak, maka definisikan bahagiamu sendiri-sendi. Karena balasan bagi orang-orang yang berbahagia adalah syurga selama-lamanya.

