Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pengasuh Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monash Institute Semarang dan Sekolah Alam Planet NUFO Rembang.
Orang yang benar-benar hafal al-Qur’an bisa dipastikan memiliki daya tahan di atas rata-rata. Yang dimaksud dengan “benar-benar hafal” adalah tidak sekedar menghafal lalu membiarkannya begitu saja, melainkan selalu menjaganya untuk tetap dan makin melekat kuat dalam dadanya. Sebab, kata hafal memang merupakan serapan dari bahasa Arab ha-fi-dha yang mungkin karena kurang tepat tashrifnya menjadi ha-fa-dha dan lidah non-Arab membacanya ha-fa-l. Seperti dhuhur menjadi luhur dan ridla menjadi rela.
Di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monash Institute Semarang dan Sekolah Alam Planet NUFO, kriteria hafal yang memadai saya definisikan bisa setoran sekali duduk minimal satu juz dengan kesalahan maksimal 20 kali. Sebab, satu juz dalam mushhaf standar yang biasanya digunakan untuk menghafal para pengahafal adalah 20 halaman.
Dengan kata lain, satu kali kesalahan baca pada setiap halaman masih bisa ditoleransi. Dalam prakteknya, para santri penyetor halaman dianggap gugur dan harus mengulang apabila melakukan kesalahan melebihi jumlah halaman yang dibaca dan sedang disetorkan itu. Dan setelah hafalan lewat 6 juz, santri mampu membaca tanpa melihat walaupun yang harus dibaca diacak dengan cara dikocok juz berapa yang harus dibaca. Dengan demikian, dia harus membaca jiz tertentu tanpa persiapan. Kemampuannya menunjukkan bahwa ia selalu menjaga hafalan.
Nah, usaha untuk menghafal dan mempertahankan itulah yang membutuhkan daya tahan di atas rata-rata. Istilah yang sering saya gunakan untuk memotivasi para penghafal al-Qur’an yang rata-rata mahasiswa adalah: “Untuk menjadi sarjana, cukup dengan datang, duduk, walaupun dengan ngantuk. Namun, untuk menjadi penghafal al-Qur’an, harus dengan usaha ekstra. Sebelum yang lain bangun sudah bangun untuk menghafal. Dan baru setelah yang lain tidur, penghafal baru akan tidur untuk menghafal lebih lama”.
Besar usaha untuk bisa menguasai hafalan al-Qur’an, sesungguhnya tidak beda dengan usaha untuk menguasai bidang lain. Di antara cara yang dikaitkan dengan waktu adalah jika memiliki ketahanan untuk melakukan latihan selama 10.000 jam, maka akan jadi seperti yang diinginkan. Seorang pegolf hebat laiknya Tiger Wood menjadi benar-benar mahir setelah menjalani latihan secara intensif selama 10.000 jam itu. Makin menyenangi aktivitas yang dilakukan, maka akan makin lama waktu yang digunakan untuk bergelut, sehingga membuat proses menjadi mahir makin cepat.
Karena itu, dalam menghafal al-Qur’an perlu diberikan batasan menjadi apabila mampu bertahan menjalani proses menghafal selama 10.000 jam dalam waktu paling lama 2 tahun, maka hampir bisa dipastikan akan hafal. Makin pendek lagi, maka akan makin cepat untuk mengkhatamkan hafalan.
Hitungannya mudah karena memang sederhana saja. Dua tahun berarti 365×2 =730 hari. Kalau dibuat rata-rata berarti setiap hari harus mengalokasikan waktu 10.000:730=13,7 jam. Anggap saja 13,5 jam setiap hari harus bergelut dengan hafalan al-Qur’an. Masih ada sisa waktu lebih dari 10 jam untuk mengerjakan aktivitas lain. Siapa pun yang memiliki daya tahan untuk menikmati usaha menghafalkan al-Qur’an selama 13 jam lebih tersebut, maka hampir bisa dipastikan akan bisa hafal 30 juz dalam waktu tidak lebih dari dua tahun.
Setelah 30 juz dihafalkan, bukan berarti urusan selesai. Untuk mempertahankan hafalan, agar tetap berkualitas, diperlukan ikhtiar muraja’ah (mengulang) secara kontinue. Para penghafal yang berkualitas, melakukan muraja’ah secara mandiri sebanyak 6 juz per hari. Setidaknya, khatam muraja’ah dalam sepekan. Jika dilakukan dengan cara sima’an atau disimak, maka untuk mempertahankan kualitas hafalan yang sama, bisa cukup hanya 3 juz saja. Dengan demikian, 10 hari sekali bisa khatam al-Qur’an dengan tanpa melihat. Catatan untuk ini adalah berlaku bagi penghafal dengan daya ingat standar.
Melakukan muraja’ah secara kontinue atau istiqamah inilah yang bagi sebagian orang tidak mudah. Urusan-urusan harian duniawi sering menjadi kendala. Kalau hanya dilihat dari dimensi waktu, sesungguhnya untuk melakukan muraja’ah 6 juz, bagi penghafal al-Qur’an, tidak akan memakan waktu lama. Sejuz bisa dibaca dengan baik dalam waktu hanya kira-kira 30 menit saja. Jika 6 juz, maka hanya membutuhkan waktu 3 jam saja.
Memang ada faktor mood yang juga mempengaruhi penghafal. Jika mood sedang baik, maka bisa dilakukan. Namun, jika buruk, maka akan jadi kendala untuk menyelesaikan aktivitas harian penghafal yang sesungguhnya secara hitung-hitungan kasar tidak sulit dan tidak berat. Namun, karena faktor-faktor lain, baik material, mental, dan spiritual, kontinue melakukan usaha untuk menghafalkan dan mempertahankan hafalan al-Qur’an membutuhkan daya tahan tersendiri. Selamat melakukan. Semoga sukses. Hafal dalam waktu yang tidak lama. Wallahu a’lam bi al-shawab.

