Site icon Baladena.ID

Dariku, Seorang yang Juga Memantaskan Diri

Manusia tidak ada yang sempurna. Semua punya kekurangan. Teruntukmu yang disana… Jangan kau terlalu merendah. Menganggap bahwa kau adalah seorang perempuan yang tak bisa diandalkan. Aku adalah salah satu dari jutaan orang yang bangga padamu. Katamu, kualitas diri adalah nomor satu. Iya itu benar. Demimu, aku rela menunggu. Demi kau yang disana, aku akan terus bersabar juga memantaskan diriku. Sungguh, versi ideal yang kau sebut tak begitu penting di mataku.

Mari kita bersama-sama mempersiapkan semuanya agar kelak kita bisa menjadi dua insan yang saling melengkapi kekurangan. Sembari menunggu, ada baiknya memperbaiki diri terlebih dulu. Memperbaiki diri ke arah lebih baik, bukan sebaliknya.

Ini ibarat ibadah puasa. Seperti halnya definisi puasa yakni menahan, saat ini kita juga melakukan hal yang sama. Menahan diri untuk tidak membuka hati pada sembarang orang. Bahwa semua perihal perasaan yang belum kita luapkan ini, jangan kau risau. Pada saatnya ia akan menemui muara terindah.

Siang hari… Saat aku terpikir tentang dirimu. Ku menjumpaimu menulis sebuah tulisan singkat. Apakah itu menggambarkan yang sedang kau rasa? Apa kabar kamu? Masihkah kau mencintai pekerjaanmu? Atau kau masih memikirkan teori bagaimana menaklukkan anak kecil yang baru pertama sekolah? Semoga kau bisa menjalani hari-harimu dengan senyuman. Sebab itu diantara penyemangatku.

Kau sibuk memperbaiki diri, tentu demi kualitas prima. Kau sungguh perempuan hebat. Kau berbeda dengan yang lain. Demi mendapatkan yang terbaik kau terus memantaskan diri. Lalu bagaimana denganku, yang menginginkanmu. Walau aku sadar siapa diriku sebanarnya. Aku yang belum bisa sepertimu. Aku seperti bermimpi untuk bisa mendapatkanmu.

Tapi, apa salahnya berusaha. Maka tak henti-hentinya ku berdoa, intropeksi diri agar aku benar-benar layak untuk jadi imam. Agar kita bisa dipersatukan oleh-Nya dikemudian hari. Kalaupun nantinya seseorang yang dihadiahkan Tuhan untukku bukan kamu, tak masalah. Itu adalah pilihan-Nya yang terbaik. Begitupun denganmu, semoga terbaik dari yang terbaik lah yang dihadiahkan untukmu. Terima kasih untuk kamu yang selalu memotivasiku untuk memperbaiki diri. Segala doa yang kau panjatkan semoga diijabah oleh Tuhan yang Maha Pengasih.

Disaat kita menyadari, bahwa pengetahuan agama masih sama-sama dangkal, maka sekarang lah waktu untuk mendalaminya. Bukan sibuk memikirkan calon pasangan yang belum jelas dan belum tentu. Aku ingin kita nanti kita bersama mengarungi kehidupan. Agar aku bisa menuntunmu menuju surga-Nya, Aamiin… Karena melengkapi itu lebih baik dibandingkan merasa diri paling sempurna satu sama lain.

Juga perihal jarak yang kini masih berjauhan. Ku hanya bisa berdoa dari sini. Harapanku, semoga kamu bisa menjalani kehidupanmu tanpa gangguan yang berarti. Doaku tak putus-putus untukmu, kukirim dari tempatku bermukim saat ini.

Seandainya sekarang kita sudah bisa berjumpa, aku akan pastikan bahwa kau baik-baik saja. Namun sayang, masih belum ada kesempatan bertemu lama denganmu. Aku ingin menceritakan semua rasa yang sudah sekian lama mengendap di udara. Tapi aku ingat, ini masih siang, masih belum waktunya berbuka. Aku hanya bisa berharap pada Pemilikmu bahwa kamu memang telah ditakdirkan, namun tetap butuh diperjuangkan.

Sebab aku tidak akan memaksakan dirimu untuk mencintaiku. Yang kulakukan saat ini hanyalah memantaskan diriku agar bisa bersamamu. Bagaimana bidadari mau singgah, apabila tempat tidak tersedia dengan nyaman.

Bersabarlah. Hingga tiba hari di mana kita bisa berbagi rengkuh dan merayakan peluh tanpa perlu khawatir dosa. Berdua, kita menggenapkan hidup yang saat ini ganjil. Berdua, kita rayakan surga dunia tanpa perlu lagi takut dosa. Saling bekerja sama mencapai tujuan hidup.

Mohon maaf apabila aku salah ucap. Kau melihatku sebagai orang yang pernah salah arah, tapi rela berjuang kembali ke jalan yang benar karena Allah. Aku berusaha untuk melakukan Perubahan sedikit namun berarti. Kumandang adzan maghrib lah yang kunantikan. Diwaktu itu aku bisa berjumpa denganmu dalam satu ikatan yang sempurna menjadi momen berbuka yang telah ditunggu sekian lama.

 

Salam…

Dariku, seseorang yang tak pernah lelah berjuang memantaskan diri. Ingatlah saat kamu sedang memperbaiki diri, orang yang kamu idam-idamkan pula melakukan hal yang sama.

 

 

Oleh: Razie Nera

 

 

Exit mobile version