Sejarah tidak pernah lepas dari peran perempuan. Karena perempuan ikut andil dalam perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Sebut saja organisasi perempuan pertama ” Putri Mardika”. Putri Mardika adalah organisasi wanita yang berdiri pada 1912 di Jakarta. Organisasi ini dibentuk untuk membantu dan membimbing para gadis bumi putera saat menuntut ilmu dan berpendapat di depan umum. Selain itu, Putri Mardika juga bertujuan untuk memperbaiki kehidupan perempuan yang dikatakan sebagai manusia mulia. Putri Mardika dipelopori oleh tokoh-tokoh antara lain R.R Rukmini, Sutinah Joyopranoto, Sadikun Tondokusumo dan P.A Subarudin.
Organisasi Putri Mardika mempunyai komitmen sangat tinggi untuk memberdayakan perempuan pada jaman itu. Pemberdayaan yang dilakukan organisasi ini meliputi beberpa hal. Yang pertama adalah menerbitkan majalah yang berisi pemikiran-pemikiran para perempuan kala itu seperti kesetaraan gender. Yang kedua, memberikan beasiswa belajar bagi para perempuan. Yang ketiga memberikan kursus bagi perempuan untuk menjadi bidan dalam proses persalinan dan yang terakhir adalah mendidik para perempuan untuk menjadi ibu yang baik bagi keluarganya. Selain organisasi perempuan, ada banyak juga perempuan secara individu berjuang melawan kebodohan dan penjajahan dengan mendirikan sekolah-sekolah keperempuanan. Salah satunya adalah Ratu Kalinyamat dan Raden Ajeng Kartini. Mereka berdua adalah dua tokoh perempuan asal Jepara yang turut andil membawa peradaban khususnya bagi para perempuan lainnya. Walaupun berbeda tahun selama berabad-abad, nama mereka terkenang dalam sejarah Jepara, dan bahkan membawa Jepara ke dalam masa kejayaan.
Ratu Kalinyamat (nama kecil Retna Kencana) merupakan putri ketiga dari Sultan Trenggono (raja Demak ke-3 yang memerintah sejak 1521-1546 M) lahir di Demak Bintoro. Ratu kalinyamat menjadi bupati jepara pada tahun pada tahun 1549. Ratu Kalinyamat memiliki peran penting dalam perjuangan bangsa Indonesia melawan Portugis pada abad XV. Saat itu, Ratu Kalinyamat mengirimkan serangan dengan melibatkan 40 buah kapal berisikan 5.000 prajurit. Namun, serangan tersebut tidak berjalan lancar karena saat melancarkan serangan darat, portugis memukul mundur dengan senjata lengkap.
Tidak berhenti sampai di situ, dua puluh empat tahun setelah penyerangan pertama Ratu Kalinyamat kembali melancarkan serangannya dengan jumlah pasukan yang lebih banyak untuk menyerang portugis di Malaka. Dengan membawa 300 kapal yang di antaranya 80 kapal jung dengan total 15.000 pasukan dan dipimpin oleh panglima tertinggi dalam kerajaan yang sering disebut orang portugis sebagai “Quilimo.” Meskipun perang ini berlangsung selama berbulan-bulan dan tidak kunjung mengusir portugis dari Malaka, dengan kegigihannya Ratu Kalinyamat telah berhasil membuat takut dan jera pasukan portugis. Hal ini dibuktikan pada abad 16 Portugis berhasil dipukul mundur dari tanah Jawa.
Tokoh perempuan hebat yang juga tinggal di Jepara adalah Raden Ajeng Kartini. Beliau adalah anak kelima dari sebelas bersaudara kandung dan tiri. Nama ayahnya adalah R.M.A.A. Sosroningrat dan ibu kandung kartini adalah M.A. Ngasirah serta nama ibu tiri R.A. Kartini adalah R.A. Woerjan (Moerjam), ayah R.A. Kartini memutuskan berpoligami karena peraturan kolonial saat itu yang mewajibkan seorang bupati harus beristerikan seorang bangsawan. Oleh karena itu, R.M.A.A. Sosroningrat menikah lagi dengan R.A. Woerjan (Moerjam) yang merupakan keturunan langsung Raja Madura.
R.A. Kartini selalu disebut sebagai pelopor kebangkitan perempuan. Pemikiran Kartini tertuang dalam surat-surat yang dikirimkannya kepada sahabatnya, Stella Zeehandelaar, J.H Abendanon dan istrinya, serta beberapa sahabatnya yang lain. Dia bercerita tentang masalah sosial, masalah umum, tetapi lebih banyak tentang perubahan kedudukan perempuan atau emansipasi perempuan. Emansipasi perempuan merupakan pembebasan perempuan dari perbudakan, persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria di berbagai aspek kehidupan masyarakat pada saat itu.
Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas,
tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.” – R.A. Kartini
Salah satu jasa R.A. Kartini dalam pendidikan adalah dengan membangun sekolah perempuan. Pada tanggal 12 November 1903, R.A. Kartini dinikahi oleh Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat. Setelah itu, ia diberi kebebasan untuk mendirikan sekolah perempuan oleh suaminya. Sekolah itu terletak di sebelah timur gerbang kantor Kabupaten Rembang (sekarang gedung pramuka). Kegigihan R.A. Kartini dalam memajukan pendidikan mendorong Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis untuk mendirikan sekolah wanita oleh Yayasan Kartini pada 1912 di Semarang. Seiring berjalannya waktu, sekolah ini pun terus berkembang hingga ke Surabaya, Malang, Madiun, Yogyakarta, Cirebon, dan di berbagai daerah lainnya.
Sudah banyak sekali jasa-jasa perempuan yang sudah ditorehkan demi peradaban bangsa ini. Sebagai generasi yang melek sejarah, kita harus bisa mencontoh dua tokoh perempuan hebat tanah jawa itu. Meneladani bagaimana semangat perjuangan Ratu Kalinyamat dalam melawan penjajahan, mempertahankan kegigihan dari kegagalan sampai titik darah penghabisan. Meneladani kepedulian R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan meraih kebebasan berkependidikan. Menorehkan hasil-hasil pikiran, mencerahkan pola pikir dari kegelapan hingga lahir sebuah terang.

