Site icon Baladena.ID

Dakwah Dinamis Menjawab Tantangan Zaman

Dakwah menurut bahasa Arab, berasal dari kata “da’a-yad’u-da’wah” yang artinya mengajak. Secara istilah, dakwah merupakan panggilan atau ajakan untuk berjalan lurus dalam mencari kebahagiaan berdasarkan syari’at Islam. Dakwah dapat dilakukan dimana dan kapan saja. Asal, muatannya tetap berisi kebaikan yang berdasarkan syari’at.

Orang yang berdakwah (da’i) bukan hanya ulama, tetapi juga dapat dilakukan oleh masyarakat umum yang mengerti agama Islam. Sebelum berdakwah, seorang da’i harus memperhatikan sasaran dakwahnya (mad’u). Seperti bisnis, harus ada target pasar yang harus di tuju agar grafik penjualan meningkat. Tidak hanya mad’u, inovasi metode dakwah juga harus diperhatikan agar lebih berkembang.

Sebelum sunan Kalijaga berdakwah, beliau menganalisis hal yang disukai targetnya. Seperti masyarakat jawa dulu yang menyukai seni dan wayang, sunan Kalijaga menggunakan metode akulturasi untuk mendekati mereka. Dengan cara itu, dakwah yang diberikan sunan Kalijaga dapat berkembang luas hingga banyak pengikutnya.

Tantangan dakwah di masa kini bukan hanya kaum millennial, tetapi juga pandemi. Merebaknya covid-19 membuat masyarakat di rumah saja karena sudah ada larangan berkerumun dan selalu menggunakan protokol kesehatan. Hal tersebut dimanfaatkan kaum millennial untuk memainkan gadget dan rebahan. Pada dasarnya, kaum millennial terkenal dengan kepekatan terhadap gadget dan pemikiran pragmatisnya.

Jika metode dakwah dilakukan secara rigit, kebosanan akan melanda mereka. Melihat itu, kini yang dibutuhkan adalah inovasi metode dakwah untuk menunjukkan bahwa, “berdakwah itu dinamis”.  Melihat kejadian tersebut, penulis dapat menemukan konklusinya, yaitu teknologi.

We are sosial mencatat bahwa pengguna teknologi di Indonesia sudah mencapai angka 175,2 juta orang atau setara 64% pada bulan Februari 2020. Apalagi di masa pandemi yang mayoritas serba teknologi, kemungkinan presentase itu akan melonjak tinggi.

Di era kontemporer, da’i dapat menggunakan teknologi sebagai sarana berdakwah. Caranya adalah dengan cara memanfaatkan youtube karena di setiap handphone pasti ada fitur tersebut. Dapat di isi dengan video poadcast, film pendek, film kartun, vlog, atau hanya sekedar merekam di depan kamera dengan tujuan untuk berdakwah.

Tidak hanya youtube, seorang da’i dapat menggunakan kelebihannya untuk membuat aplikasi yang berbau Islam untuk memudahkan orang lain dalam mencari informasi mengenai syari’at. Seperti cara shalat, puasa, ngaji, dzikir, dan lain sebagainya.

Selain itu juga dapat membuat game (jangkauan anak-anak) karena sekarang anak kecil sangat pekat dengan teknologi. Isinya adalah seputar ke-Islaman. Secara tidak langsung, anak-anak dengan perlahan akan mengerti seputar ke-Islaman melalui game. Misalnya adalah teka-teki Islam, game jalan menuju tempat ibadah, atau hal lain yang dapat memunculkan muatan Islami.

Maka dari itu, Melihat mayoritas masyarakat Indonesia yang sudah menggunakan teknologi dalam kegiatan sehari-hari, seorang da’i harus faham teknologi agar dakwahnya dapat diterima oleh masyarakat luas. Selama metode dakwah selalu diinovasi, di zaman apapun akan tetap bisa bertahan. Penting untuk melek terhadap realita dan menganalisis mad’unya agar dakwah dapat dilakukan dengan fokus dan baik. Semoga umat Islam yang selalu mengajarkan kebaikan akan di lindungi oleh Allah dan dilancarkan segalanya. Aamiin.

Exit mobile version