Site icon Baladena.ID

Cinta Surga Neraka (part2)

“Sayang. Abah ada di sini. Bangun, yuk,” pinta pria tegap pada Dausiy. Entah sadar atau tidak, pria itu dengan teganya membangunkan anak kurus tak berdaya yang tengah berbaring lunglai.

“Sabar dulu ya, Pak. Pasti anak bapak akan sadar seperti sedia kala,” pinta Buya dengan nada rendah dan penuh harap kepada Abah Dausiy.

“Saya merasa bersalah mengapa telah meninggalkannya 15 tahun lalu. Saya ingin menebus semua kesalahan saya. Apalagi sekarang ia jauh dari ibunya. Saya rasa, inilah waktu yang tepat untuk menemui dan meminta maaf padanya,” ucap pria tegap itu. Wajahnya yang sedih tak seiras dengan tegap tubuhnya.

“Bapak punya masalah dengan istri?” tanya Buya.

“Hmm,” tahan pria tegap itu. Dia ingin menangis, tapi dia ingat bahwa dia laki-laki. Kontruksi sosial yang seolah-olah telah menjadi kodrat bagi laki-laki adalah tidak menitikkan air mata di depan orang walau sesedih apapun.

Dia kemudian buka suara “saya mendekati perempuan lain dan meninggalkan ibunya. Namun, setelah itu, saya merasa menyesal. Perempuan itu pergi dan memilih orang lain. Saya ingin rujuk. Tapi, ibunya menolak karena sudah sakit hati akibat perbuatan saya.”

“Hubungan anda dengan Dausiy bagaimana?” tanya Buya.

“Saya baru dua kali bertemu dengannya. Itupun karena ibunya sedang di Semarang. Dia dan ibunya memaafkan saya namun menolak saya untuk menjadi bagian dari keluarga mereka,” jawab pria tegap itu.

 

Exit mobile version