Site icon Baladena.ID

Cinta Sejati Itu Memberi?

Anzor Azhiev Elia

Yusuf Qardhawi pernah berkata: “Cinta adalah roh kehidupan dan pilar bagi lestarinya Umat Manusia. Jika gaya gravitasi dapat menahan bumi dan bintang gemintang sehingga tidak bertabrakan dan runtuh, maka cinta itulah menjadi kekuatan penahan dari terjadinya benturan antarmanusia yang bisa mendorong kehancuran.”

Banyak yang bahagia, karena berhasil mengecap manisnya cinta. Tapi tidak sedikit pula yang merintih kesakitan gara-gara cinta. Karena itu, hindari cinta yang mendatangkan bahaya. Kubur hidup-hidup cinta yang membuat luka. Buang dan hempaskan dia, jika hanya membuatmu menjadi ‘buta’, apalagi sampai membabi buta.

Jika cinta itu mestinya membahagiakan, maka ada yang salah ketika cinta itu menyakitkan. Bisa karena salah pemahaman. Bisa pula sebenarnya paham, tetapi hati telah berpenyakitan. Tidak ada jalan lain, kecuali melalui pertaubatan. Kembalikan orientasi cintamu kepada Sang Maha Cinta, Sang Pemilik dan Pemberi Kebahagiaan.

Untuk bahagia, tanamlah benih cinta dengan sepenuh hati. Karena cinta dan bahagia itu bagaikan dua sisi dari sekeping mata uang yang tak bisa dihilangkan salah satu, maka tidak ada ruang bagi cinta untuk membenci, atau bahkan menyakiti. Cinta yang mendatangkan bahagia itulah yang disebut cinta sejati. Maka temukan cinta sejati itu di dalam diri!

Cinta sejati itu memberi. Walau tak berbalas, bisa tetap ikhlas. Ikut bahagia saat yang tercinta berlimpah bahagia. Sering melantunkan doa untuk yang tercinta, agar Allah melimpahkan segala kebaikan” (Abana).

Lalu tahukah kamu apa dan bagaimana cinta sejati itu? Apa yang diperlukan agar rasa cintamu itu mendatangkan kebahagiaan yang tak semu? Selain kita harus menghilangkan penyakit kalbu, di saat yang bersamaan pemahaman mengenai cinta itu harus benar, setuju?

Menurut Abana, cinta sejati itu memberi. Jika selama ini banyak yang mendefinisikan cinta itu take and give, maka buang take dan hanya ambil give, agar menemukan dan merasakan cinta sejati. Karena itu, jika kamu sedang jatuh cinta kepada seseorang, maka berikan yang terbaik untuk dia—tentu saja dengan batasan sesuai yang diajarkan Baginda Nabi.

Memberi bukan hanya karena diminta, melainkan memberi karena tahu apa yang sedang dia butuhkan. Tidak hanya melalui kata-kata yang menawan, tetapi lewat karya nyata berupa tindakan dan perbuatan.

Tentu ingat, betapa cinta di masa lalu yang melahirkan kekuatan besar. Ia seakan menjadi mercusuar. Apa yang terbayang ketika Taj Mahal yang begitu indah ternyata terselip sebuah kisah cinta yang heroik Raja Shah Jahan dengan Mumtaz Mahal? Lalu kita punya cerita rakyat lokal tentang Candi Prambanan yang konon dibangun pada abad ke-10 oleh Bandung Bondowoso, anak Raja Pengging Prabu Damar Moyo, untuk membuktikan cintanya kepada seorang putri cantik bernama Roro Jonggrang dari kerajaan Boko.

Berawal dari penolakan Roro Jonggrang, cinta bertepuk sebelah tangan. Astaga. Namun, demi cinta, Bandung Bondowoso tidak menyerah begitu saja. Jonggrang pun akhirnya memberikan tantangan kepada Bondowoso untuk membuatkan 1000 arca (baca: candi) dalam waktu satu malam. Tantangan tersebut sesungguhnya adalah cara Jonggrang untuk menolak Bondowoso. Sebab, ia yakin Bondowoso tak akan mungkin dapat memenuhi persyaratan tersebut.

Namun, di sinilah bukti bahwa cinta itu melahirkan kekuatan yang amat besar. Dalam waktu kurang dari semalam, dengan ilmu dan kekuatan yang dimilikinya, Bondowoso yang dibantu para jin hampir menyelesaikan tantangan yang diberikan Jonggrang itu, yang ini tentu saja di luar nalar.

Dia telah menyelesaikan 999 candi dan sedang memulai membangun candi terakhir, arca yang ke seribu. Mengetahui hal itu, Roro Jonggrang, yang memang tidak ingin menerima Bondowoso, meminta pelayan kerajaan dan penduduk desa untuk menyalakan api di sebelah timur dan mulai menumbuk padi untuk dibikin nasi, sebuah kebiasaan untuk menandakan datangnya pagi.

Cara Jonggrang tersebut berhasil membuat para jin takut dan melarikan diri, karena menganggap pagi telah datang. Dalam sekejap, Bandung Bondowoso sangat murka ketika mengetahui siasat licik Roro Jonggrang tersebut, hingga akhirnya ia mengutuk perempuan cantik yang dicintainya itu menjadi patung batu yang malang. Patung Roro Jonggrang inilah yang menjadi fitur candi ke seribu, melengkapi seribu candi yang ia bangun sebagai syarat menikahi wanita yang dicintainya, Roro Jonggrang. Kisahnya pun berakhir dengan air mata yang berlinang.

Seandainya saja Bodowoso bersabar dan meluruskan upaya rekayasa yang dibuat Jonggrang tersebut, mungkin ceritanya akan lain. Jin-jin bisa dipengaruhi untuk kembali dan konspirasi kerajaan akan dapat dibuktikan. Kemungkinan, ada potensi cintanya akan berakhir dengan kebahagiaan. Bukan kemurkaan yang berakhir kutukan. Inilah pelajaran yang bisa dipetik dari kisah keduanya, agar yang selalu dihadirkan itu cinta sejati yang jauh dari nafsu kebencian.

Karena itulah, Abana melanjutkan fatwanya dengan pesan: “Walau tak berbalas, bisa tetap ikhlas. Ikut bahagia saat yang tercinta berlimpah bahagia. Sering melantunkan doa untuk yang tercinta, agar Allah melimpahkan kebaikan dan kesejahteraan.”

Pesan ini mengisyaratkan kepada kita bahwa keikhlasan dan kesabaran adalah kunci kebahagian hidup, termasuk dalam urusan cinta. Dalam pandangan umum, sedih melihat orang lain bahagia atau bahagia melihat orang lain susah adalah tanda seseorang terindikasi penyakit hati. Begitu pula dalam urusan cinta, kalau yang kau cinta memilih yang lain, asal dia bahagia, mestinya kau ikut bahagia. Sulit? Tentu saja. Kalau mudah, namanya bukan cinta sejati, tapi cinta monyet.

Ada salah seorang teman, sebut saja Boril, diputuskan oleh kekasihnya saat diajak serius menikah. Ada satu alasan yang membuat perempuannya memutuskan hubungan dengannya. Dengan perasaan yang sangat kecewa, Boril tak henti-hentinya memprotes kenyataan itu. Hingga akhirnya dia menemukan guru spiritual yang menawarkannya ketenangan batin. Tetapi kekecewaan yang berujung kebencian itu tak kunjung hilang. Terbukti saat disebut nama perempuan itu, Boril sangat marah dan menunjukkan sikap yang tidak biasa. Ini tanda cinta yang salah, sehingga berubah menjadi benci.

Terdengar kabar bahwa beberapa hari lagi, perempuan itu akan dinikahi oleh laki-laki lain. Dia sangat terpukul atas kabar pernikahan itu. Lantas, dia kembali tidak seimbang. Kecewapun berubah menjadi kemarahan. Saat ditanya, apakah dia akan datang ke penikahannya bulan depan? Dia menjawab dengan sangat bengis dan menakutkan. Lebih baik tidak datang, karena sepertinya memang tidak diundang.

Sikap berbeda ditunjukkan oleh Azmi, yang beberapa waktu lalu ditinggal menikah oleh perempuan yang pernah diperjuangkannya. Ini kisah seseorang yang mengutamakan sahabatnya daripada dirinya. Azmi memang memiliki altruisme level dewa. Dia rela hancur, demi yang dicinta terbang tinggi ke angkasa. Baginya, asa yang telah digenggamnya tidak akan pernah berkurang, apalagi sirna. Dia percaya, Tuhan akan memberikan yang terbaik untuknya.

Kembali ke kisah dia dengan seorang perempuan bernama Rara. Perempuan yang diantarkannya ke gerbang kesuksesan dengan tertatih-tatih, karena kondisi kaki Azmi sendiri yang pincang. Hampir tiap hari dia mengantarnya. Tanpa kenal lelah, karena Azmi melihat banyak harapan di depan sana. Dari awal, dia meyakini bahwa perjuangannya untuk yang dicinta akan berujung bahagia. Tidak sia-sia, perempuan itu telah menjadi manusia yang berdikari dan berhasil mewujudkan cita-citanya.

Saat cita seseorang telah didapat, giliran cinta yang dihujat. Perempuan itu sebenarnya telah menampakkan tanda bahwa dirinya juga punya cinta untuk Azmi. Namun, karena satu hal, Azmi tak segera menindaklanjuti tanda itu. Hingga kabar bahwa Rara telah dipinang seorang laki-laki yang tidak lain adalah kawannya. Dengan perasaan yang bercampur baur, dan di tengah keterbatasan dirinya yang tidak mampu memberikan jawaban yang tegas atas tanda tadi, Azmi menerima kenyataan itu dengan lapang dada.

Sebelumnya, Azmi pernah berpesan kepada Rara, “Kalau kamu tidak mendapatkan yang lebih baik dari saya, lebih baik kamu menikah dengan saya saja.” Meski bernada bercanda, dia mengatakan itu dengan sadar, karena menyadari keterbatasan dirinya saat itu, dan berharap yang dicinta mendapatkan yang lebih baik daripada dirinya. Benar saja. Azmi harus bahagia, karena keputusan Rara menerima pinangan orang lain itu menandakan bahwa calon imam yang telah dipilih tersebut lebih baik dibanding dirinya.

Dia pun mengatakan kepada Rara, agar semua cintanya dibawa untuk calon suaminya. Tidak boleh ada cinta yang tertinggal, sekalipun satu butir saja. Begitupun dengan Azmi, yang perlahan-lahan membiarkan tanaman cinta di hatinya mengering begitu saja. Hari pernikahan itu akhirnya tiba, Azmi pun datang untuk melihat hari bahagia, hari pernikahan perempuan yang (dulu) dicintainya.

Melihat Rara yang telah di“qabiltu” oleh kawannya, Azmi pun menitikan air mata keharuan. Bukan air mata kesedihan, tapi kebahagiaan. Begitu pula Rara, air matanya tak kuasa ditahan. Pastinya juga air mata kebahagiaan. Sama sekali tak terlihat ada kebencian. Bahwa ada sikap kikuk sejenak, itu hanya proses pemulihan. Waktu yang akan mengembalikan. Untaian do’a untuk Rara dan suaminya pun, telah Azmi panjatkan. Hingga nanti Allah memberikan keputusan.

Jika cinta sejati itu memberi, kenapa harus ada kebencian? Memberi itu identik dengan kebaikan. Sementara kebencian itu dikategorikan sebagai keburukan. Kecuali benci kepada kemungkaran. Itu kewajiban orang beriman. Maka meski terkadang membawa rindu yang menyesakkan, cinta itu pada hakikatnya mendatangkan kebahagian. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

Exit mobile version