Sengatan jingga telah menghiasi pagi ini. Aku baru saja bangun tidur. Kulirik jam menunjukkan pukul 06.00 WIB. Alarm yang kuaktifkan mulai jam 05.00 ternyata tak mempan untuk membangunkanku. Aku telah lupa amanat ibu. Ibu memberitahukan bahwa selama beliau di luar kota, aku tidak boleh bermain PS agar aku dapat bangun tepat waktu. Aku ditinggal bersama Ayah yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Daripada tidak ada teman curhat, lebih baik kuhabiskan waktu untuk bersenang-senang di balik layar.
Namaku Bagas. Aku anak kelas 6 SD. Aku bersekolah di SD 01 Kerinjang. Untunglah jarak antara SD dan rumahku tidak terlalu jauh. Jadi, aku masih bisa mengejar waktu. Sesegera mungkin kulepas selimut yang menghinggap tubuh. Langkahan kaki semakin jauh untuk menuju kamar mandi dekat kamarku.
Aku semakin tak menentu. Sampo menjadi satu di sekujur tubuh. Kemudian aku berlari kesana kemari untuk menghemat waktu. Begitu gercap langkahku. Aku tak mau dimarahi ibu guru lagi. Hari ini yang masuk adalah Ibu Rima yang sangat terkenal kegarangannyaJika ada yang terlambat. Ekspresi marahnya selalu terlihat di jiwaku. Aku segera mempercepat langkah menuju sekolah. Aku tak mau semuanya menjadi sia-sia dan bernasib malang seperti sebelumnya.
Syukurlah. Aku sampai dengan selamat. Sedikit lagi Ibu Rima sampai di lokasi. Untunglah, aku berhasil mendahului beliau dari arah berlawanan. Nafasku tersengal-sengal seperti sedang dikejar anjing liar. Aku memang suka terlambat datang akhir-akhir ini. Ini merupakan salah satu dampak dari begadang.
Hidupku sedang dipenuhi masalah. Sebenarnya, aku perlu sosok yang bisa mendampingi dan menasihati. Ibu terlalu sibuk sehingga tak mampu mengurusiku. Aku merasa sedih dengan kehidupan keluargaku yang seperti ini. Ditambah lagi, ayah yang setiap hari sibuk dengan kertas-kertas di atas meja. Aku tak tahu pada siapa aku harus mengadu. Hidup terasa sendiri menjadi pilihanku.
Makan pun sering terlambat. Sarapan pagi tak ada dalam daftar agenda harianku. Aku memang telah berubah beberapa akhir ini.
“Ibu, aku rindu kamu. Cepatlah pulang,” panggilku dalam hati sambil bersedih meratapi nasib.
Aku memang dekat dengan ibu. Namun, kesibukannya telah merubah semuanya. Ayah pun berubah menjadi tak acuh terhadap kehidupanku setelah mendapat proyek besar-besaran. Aku bersyukur punya keluarga yang serba berkecukupan. Tapi, semua itu tak cukup tanpa adanya kasih sayang.
Malam hari, aku sudah tak tahan dengan sikap ayah. Akhirnya, setelah kupanggil ayah dan kuberitahu sesuatu.
“Ayah, aku rindu keluarga kita yang dulu. Setiap pagi kita sarapan sambil bercanda. Malam harinya kita makan bersama sambil bercerita pengalaman. Namun kenapa sekarang ayah sibuk sendiri dan ibu sering ke luar kota sehingga tak sempat mengurusiku.”
Tiba-tiba ayah memelukku erat sambil meminta maaf.
” Maafkan ayah, ibu Nak. Ayah sudah lupa tugas ayah sebagai kepala keluarga akibat uang. Ayah janji, ayah akan memperhatikanmu dan mengingatkan ibu. Ayah juga akan mengurusimu,” jawab ayah.
Setelah itu, ayah mengajakku untuk video call dengan ibu. Syukurlah, ibu sedang istirahat dan kami dapat bertahap muka agak lama walaupun melalui ponsel. Diam ternyata tak dapat memecahkan masalah. Aku harus belajar menjadi orang yang peduli dan menyatakan pendapat jika ada yang tidak sesuai.

