Site icon Baladena.ID

Cerpen Anak: Berani Jujur Membawa Berkah (Pendidikan Antikorupsi)

Subuh hari memanjakan mata Aini untuk tetap lelap di tempat tidurnya. Namun, Ibunya tidak akan membiarkan anak tersayang untuk berleha-leha.

“Segera bangun, Nak. Sebentar lagi kita akan ngaji,” perintah ibu.

Nur Aini adalah anak terakhir berumur 10 tahun dan sangat manja karena ia telah lama tinggal di rumah neneknya. Namun, didikan ibu setelah ia nenek meninggal telah membuatnya sedikit berubah untuk tidak terlalu manja.

“Iya, Bu. Aini ingat kok,” jawabnya sedikit lemas.

“Jangan lupa mandi dulu biar segerrr,” perintah ibu.

“Iya, Bu. Ini sekalian Ani sekolah,” sahut perempuan mungil itu di depan ibunya yang sejak jam 03.00 telah bangun untuk bermunajat kepada Allah.

Pukul 06.30 Aini sudah selesai mengaji. Lama sekali kajian dengan ibunya. Biasanya, setelah ngaji Qur’an selesai, mutiara akhlak disampaikan oleh ibunya dengan berlandaskan firman Allah. Aini asyik mendengarkan agar Aini dapat membentengi diri dari hal-hal buruk yang akan merugikan banyak pihak.

Ketika kajian selesai, Aini lekas mengganti baju dan bergegas menuju ruang makan. Ia tidak terburu-buru karena jarak dari rumah dan sekolah hanya sekitar 15 kaki.

Setelah selesai sarapan bersama keluarga, Aini berpamitan ke ibu dan ayah untuk  berangkat ke sekolah. Hatinya diliputi dengan bahagia karena dia akan mendapatkan ilmu ditambah lagi  ia berdoa terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah.

Di sekolah, Aini berjalan dengan penuh lincah. Sementara teman-temannya asyik menyapa.

“Hai, Ani…,” ucap temannya.

“Hai juga,” Aini menjawab sapaan temannya sambil tersenyum lebar.

Kemudian, ia masuk kelas diliputi dengan rasa senang karena akan mendapatkan ilmu yang berharga.

Kring, kring, kring

Suara bel mengingatkan semua siswa termasuk juga Aini, anak kecil kelas 4 MI itu untuk bersiap-siap dan berdoa sebelum kegiatan belajar dimulai. Hari ini hari Jum’at dan mata pelajaran hanya ada 3.

Setelah 2 mata pelajaran selesai, waktunya  bagi siswa MI Al-Ikhlas untuk istirahat. Mereka bergegas lari menuju kantin sekolah, tak termasuk Aini yang sangat sabar supaya tidak terjatuh karena lari terburu-buru.

 

Aini kemudian ke kantin dan membeli gorengan. Dia hanya ingin membeli itu saja karena merasa masih kenyang. Selepas itu, dia bergegas menuju kelas untuk mengerjakan tugas. Rina, teman Aini juga ikut bersamanya.

Mereka berjalan menuju kelas dengan sangat tenang. Namun, sesampai di kelas, Aini dan Rina kaget. Mereka mendapati seorang siswa laki-laki yang tengah menggeledah isi tas teman-temannya. Mereka tak menyangka kalau teman sekelasnya yang bernama Rio akan berbuat seperti itu.

Rio kemudian menoleh ke arah mereka. Wajah sinisnya mulai terlihat. Ia kemudian menghampiri Rina dan Aini.

“Kenapa kalian melihatku seperti itu? Kaget?” ungkap siswa sekelas mereka yang sudah sering tidak naik kelas itu dengan nada tinggi. Kemudian, ia mulai mengancam,

“kalau kalian berdua bilang ke orang lain, tunggu akibatnya,” wajah tak mengenakkan itu semakin menjadi-jadi.

Aini dan Rina hanya bisa menelan ludah dan diam ketika mengetahui ancaman tersebut.

Tak berselang lama, Bel berbunyi. Aini dan Rina sudah lama menunggu di kelas. Sementara teman-teman yang lain tengah asyik larian-larian untuk masuk ke kelas.

Aini dan Rina saling berpandangan. Mereka seperti buah simalakama jika  ada mendengar temannya yang merasa kehilangan uang. Mereka bingung antara memberitahukan atau diam saja.

Cinta, murid sekelas mereka mulai menunjukkan tanda-tanda. Ia merasa kehilangan uang tabungan yang ia masukkan ke dalam tas. Ia mulai sedih dan tiba-tiba menangis.

“Hiks hiks,” isaknya.

Suara tersebut terdengar oleh guru yang tengah mengajar dan teman sekelasnya. Bu Niya, wali kelas 4A kemudian menghampiri sumber suara lalu bertanya,

“Kamu kenapa, Cinta?” ungkap Bu Niya.

Cinta kemudian menjawab dengan terbata-bata,

“Uuu uang cii ci Cinta hi hilang, Bu,” suara Cinta membuat anak di kelas merasa kaget. Cinta sudah lama menabung uang itu untuk membeli buku kesukaannya.

Ibu guru segera bertanya kepada anak muridnya,

“Anak-anak, siapa yang merasa tahu tentang uang Cinta,” tanya Bu Niya.

Semua terdiam

Ibu Niya tak kehabisan akal. Setelah suara lembut, suara tegas dilantangkan,

“jujur saja sama ibu. Kalau ibu tahu orangnya, Ibu akan bilang ke kepala sekolah untuk menskors dia.”

Siswa di kelas tetap diam, Ibu Nia mulai naik pitam. Semua tertunduk. Akhirnya, Keluarlah suara dari seorang yang dikenal pemberani. Dia adalah Aini.

“Ibu,,” Aini menyeru seraya mengangkat tangan.

“Aini tahu, Bu. Orang yang mengambil di tas Cinta adalah Rio, Bu,” ungkap Aini dipenuhi ketakutan dan keringat dingin mulai bercucuran.

Ibu Niya kaget. Dia tak menyangka anak muridnya seperti itu. Padahal, Rio telah dipanggil berkali-kali karena berbagai kasus dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Ibu Niya lantas memanggil Rio  yang sudah sejak tadi merasa tak aman. Dai meminta Rio untuk berdiri di depan. Aini kemudian melanjutkan ungkapannya,

“Rio juga mengancam kami jika kami memberitahukan hal ini, Ibu.”

Ibu Niya semakin marah. Rio kemudian berjalan ke depan setelah diam berhenti sejenak. Sesampainya di depan, Ibu Nia mengambil penggaris besar dan memukulnya ke arah Rio. Ia kemudian menangis karena tak kuat akan tingkah anak muridnya. Ternyata Rio menangis juga.

” Rio, kenapa kamu mengulangi kesalahan lagi, Nak. Kenapa kamu juga mengancam temanmu. Untung Aini orang yang sangat pemberani,” jelas ibu.

“Syukurlah, ternyata kejujuran Aini membawa keberkahan. In yang harus ditiru, anak-anak. Kita harus berani jujur untuk mengungkapkan sesuatu. Apalagi sesuatu yang akan berbahaya jika dibiarkan,” lanjut Ibu Niya dengan penuh rasa bangga kepada anak muridnya Aini.

Aini merasa senang karena yang telah diajarkan ibunya dapat ia laksanakan. Jujur dan berani jujur adalah hal yang sangat ditekankan oleh ibunya agar tidak ada pihak yang dirugikan.

SEKIAN

Exit mobile version