Membuka lembaran kertas bergambar itu membuat aku teringat pada kenangan waktu menjelang maghrib kala itu.
“Wortelina, sore nanti kita susuri jalan menuju perbatasan ya”
“Hendak bertemu siapa kita, Pilik?”
“Tidak ada. Aku hanya ingin menciptakan kenangan di sepanjang jalan itu bersamamu”
“Menciptakan kenangan? Apa engkau hendak menghadirkan perpisahan”
“Jangan menangis, Wortelina. Aku tak pandai menghibur. Menciptakan kenangan bukan berarti menghadirkan perpisahan. Bagiku, menciptakan kenangan adalah cara menjauh dari melupakan.”
Sore harinya, dia benar-benar datang. Diulurkannya tangan kanan itu, lalu aku menerima uluran itu dan menempelkannya di ujung keningku. Di tahun saat ini, kalian bisa membayangkannya dengan seorang anak yang menyalimi gurunya. Ia lalu tersenyum, tidak manis. Tetapi bola mata berbinar itu melengkapi senyumnya, membuat senyum semanis apapun kurasa akan kalah.
“Sudah siap?”
“Bersamau, aku tidak perlu membawa ragu”
“Terima kasih untuk semua percayamu yang tidak pernah absen membersamaiku”
Kami lalu melangkah menuju perbatasan. Sepanjang jalan itu, ia bercerita tentang mimpi-mimpinya, juga semua harap untuk semesta.
“Wortelina, kamu tidak akan diakui oleh makhluk lain jika kamu tidak mereka tidak pernah mencicipi kebaikanmu”
“Bagaimana jika kebaikanku menjadi penghambatku dalam mewujudkan cita?”
“Kamu tidak perlu takut, Wortelina. Setiap kebaikan akan melahirkan kebaikan yang lain. Yakinlah pada janji Tuhan”
“Setelah mengetahui mimpi-mimpiku, apa engkau akan bersabar menungguku?”
“Tidak ada buah yang bisa langsung dipetik. Bukankah begitu, Pilik?”
“Karena itu, aku hendak menyiapkan proses kematanganku. Agar nanti, aku bisa dipetik dan menghadirkan manfaat. Semangat mengejar mimpi-mimpimu, Wortelina. Tidak ada yang bisa mewujudkannya selain dirimu sendiri”
“Aku masih terjebak zona nyaman. Aku masih takut mengambil keputusan. Aku juga masih perlu banyak dorongan”
“Aku orang pertama yang akan membantumu, Wortelina. Masa laluku akan menjadi pembelajaran bagimu. Berikan yang terbaik, setidaknya untuk dirimu sendiri”
“Iya, Pilik. Terima kasih selama ini engkau sudah sabar menuntunku. Terima kasih sudah memberikan waktumu untukku”
“kita sudah sampai di perbatasan”
“Disinikah engkau ingin menghadirkan perpisahan?”
“Tidak. Aku sudah berjanji ingin membuat kenangan di perbatasan, bukan perpisahan”
“Lalu?”
“Mari pulang. Sebentar lagi senja pergi”
Sepanjang perjalanan pulang, ia menyanyikan lagu alam yang paling indah. Sesekali ia memandang ke arahku, melemparkan senyum dan kedipan mata.

