Kebanyakan orang pasti menganggap bahwa urine hewan merupakan sesuatu yang menjijikkan bagi mereka dan tidak ada nilai maupun manfaatnya sama sekali. Bagi yang mempunyai hewan peliharaan dan tidak tahu akan manfaat urine hewan tersebut, pastinya akan membiarkan urine tersebut terbuang. Tapi, siapa sangka urine hewan ternyata memiliki manfaat bagi tanaman ? Salah satu hewan yang urinenya dapat dimanfaatkan adalah kelinci.
Biasanya, masyarakat memanfaatkan kelinci dengan cara mengolah dagingnya untuk dikonsumsi. Namun, selain dapat dikonsumsi dagingnya, urine si hewan imut ini dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat juga. Salah satu manfaat urine kelinci adalah sebagai pupuk organik bagi tanaman. Manfaat urine kelinci bagi tanaman antara lain dapat membantu pertumbuhan tanaman pada masa vegetatif dan fotosintesis.
Tanah yang subur dan sumber air yang memadai, membuat para masyarakat Desa Buluroto mengembangkan berbagai komoditas pertanian. Komoditas pertanian yang dikembangkan antara lain komoditas tanaman padi dan hortikultura. Hal tersebut menunjukkan bahwa mayoritas warga Buluroto bermata pencaharian sebagai petani.
Saat menanam padi maupun hortikultura, para petani pastinya melakukan proses pemupukan. Pemukukan tersebut dilakukan agar tanaman yang dihasilkan bagus dan terhindar dari berbagai hama atau penyakit. Pupuk maupun pestisida yang digunakan biasanya mengandung bahan-bahan kimia. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan tidak hanya berpengaruh pada hama, tetapi juga menimbulkan efek negatif bagi kesehatan manusia dan lahan. Dampak buruk bagi kesehatan, seperti menganggu kerja saraf, menganggu metabolisme tubuh. Sedangkan, efek buruk bagi lahan diantaranya seperti tanah menjadi mengeras, pertumbuhan tanaman tidak normal, menyebabkan residu, diantaranya adalah tanah akan mengeras, menyebabkan resitensi OPT (organisme penganggu tumbuhan).
Adanya dampak buruk pestisida kimia bagi kesehatan dan lingkungan, para petani mulai mencari jalan keluar agar tidak terus bergantung pada pestisida kimia. Setelah sekian lama memikirkan, akhirnya para petani yang tergabung dalam kelompok tani desa buluroto menemukan ide untuk membuat pestisida organik. Setelah itu, mereka mencoba membuat pestisida ramah lingkungan yang berbahan dasar urine kelinci.
Berdasarkan hasil riset penelitian ternak (Balitnak) Bogor, dari laman Kementrian Pertanian, urine kelinci mengandung unsur nitrogen sebesar 2,72 persen, fosfor sebesar 1,1 persen, dan kalium 0,5 persen. Kelinci memiliki kandungan nitrogen yang paling tinggi dibandingkan hewan pemakan rumput lainnya. Hal tersebut dikarenakan kelinci banyak mengonsumsi hijau-hijauan dan sedikit minum. Dengan kandungan nitrogen yang tinggi tersebutlah urine kelinci baik untuk dijadikan pupuk organik.
Untuk mendapatkan urine kelinci sangat mudah. Kita hanya perlu menyiapkan wadah yang diletakkan di bawah kandang yang berbentuk box. Setelah wadah sudah terisi banyak urine, pindahkan urine ke dalam botol atau jerigen kosong. Memang tidak sedap baunya, tetapi masyarakat tetap memanfaatkannya. Begitulah cara para masyarakat untuk mengurangi jumlah penggunaan pestisida kimia untuk tanaman mereka.
Bahan dan Mekanisme Pembuatan Pestisida dari Urine Kelinci
Cara pembuatan pestisidanya pun tidak sulit dan sederhana. Kita tinggal mencampurkan berbagai bahan tambahan, seperti kunyit, laos, jahe, serabut kelapa, gula merah, air, dan EM4. Proses pembuatannya harus memalui fermentasi selama 2 sampai 3 minggu. Selama 2 sampai minggu tersebut, setiap minggunya harus dibuka tutup dengan tujuan untuk membuang gas metan.
Bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain kunyit: laos, jahe 1 kilogram, sabut kelapa (sepet) secukupnya, air kelapa 3 liter, urine kelinci 1 liter, gula merah ½ kilogram, air 15 sampai 20 liter, dan EM4 2 gelas aqua.
Alat yang dibutuhkan jerigen dan lumpang (tempat untuk menumbuk bahan).
Cara pembuatannya adalah: kunyit, laos, jahe ditumbuk sampai halus, sabut kelapa dipotong kecil-kecil, masukkan bahan 1 dan 2 ke dalam jerigen, kemudian tambahkan air kelapa dan campuran urine, gula jawa dihaluskan kemudian dimasukkan jerigen, tambahkan air sebnayak 15 sampai 20 liter, tambahkan dua gelas EM4, tutup rapat dan biarkan selama 2 sampai 3 minggu, tiap 1 minggu buka tutup selama 5 sampai 10 menit, tujuannya adalah untuk membuang gas metan agar tidak meletus.
Penulis: Nurul Laili Latifah

