Site icon Baladena.ID

Cara Baru Planet Nufo Mempercepat Hafalan al-Qur’an

Planet NUFO

Baladena.ID

Pesantren dan Sekolah Alam Nurul Furqon atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO, Mlagen, Pamotan, Rembang terus melakukan inovasi, baik dalam pengajaran dan pendidikan, maupun dalam pelatihan wirausaha untuk melahirkan generasi yang mandiri secara intelektual dan finansial.

Visi besar Planet NUFO di antaranya adalah menghasilkan kader-kader muslim yang berilmu, berharta, dan berkuasa. Untuk menjadi pribadi yang berilmu, harus menguasai dua aspek, yaitu: al-Qur’an dan alam. Pemahaman al-Qur’an akan terus bisa meningkat apabila keseluruhan ayatnya dikuasai dengan menghafalkannya lengkap dengan maknanya.

Tidak cukup dengan itu, para santri murid harus memahami hukum-hukum alam. Keduanya ibarat dua sisi dari sekeping mata uang yang harus ada secara bersamaan.

Untuk memperkuat itu, Planet NUFO selalu mengembangkan metode baru untuk lebih cepat dalam menguasai al-Qur’an, baik untuk menghafalkan maupun memahami makna terdalamnya. Di antara metode yang digunakan adalah menghafalkan al-Qur’an dengan basis tiga surat modal, yaitu: Surat Yusuf, al-Kahfi, dan al-Qashash.

Bagaimana perspektif lengkapnya? Berikut ini wawancara eksklusif baladena.id dengan Pendiri dan Pengasuh Planet NUFO Dr. Mohammad Nasih, atau yang akrab disabapa dengan Abana oleh para santrinya:

Baladena.id: “Abah Nasih, bagaimana awalnya metode menghafal dan memahami al-Qur’an dengan tiga surat Yusuf, al-Kahfi, dan al-Qashash ini digunakan?”

Abana: “Dulu, setiap ada santri, mereka adalah para mahasiswa yang mondok di Rumah Perkaderan Monasmuda Institute di Semarang, juga di Pesantren Putra Fatahillah Jakarta, yang ingin menghafalkan al-Qur’an, asal bacaan sudah standar, langsung saya minta menghafal. Namun, saya merasakan ada yang tidak benar.

Mereka saya nilai sangat lambat. Sudah tiga tahun, tapi hanya dua tiga orang yang sudah selesai setoran hafalan 30 juz. Ada di bawahnya 23 juz. Tapi rata-rata 13 juz. Bagi saya, ini capaian yang tidak sesuai dengan target. Awalnya saya berharap, menghafalkan al-Qur’an paling lama 600 hari. Sebab, al-Qur’an yang ditulis dalam mushhaf sekarang ini ada 604 halaman. Itu sudah termasuk dengan basmalah. Jadi, mestinya memang maksimal 600 hari sudah selesai. In ikon sampai 3 tahun. Berarti lebih dari 1000 hari. Kelamaan.”

Baladena.id: “Jadi menghafalkan al-Qur’an secara keseluruhan selama tiga tahun itu kelamaan?”

Abana: “Ya kelamaan. Kan tadi sudah saya bilang. Mestinya maksimal hanya 600 hari saja. Ini hampir dua kali lipatnya. Ini buang-buang usia. Maka saya evaluasi. Dan saya mengingat kembali bagaimana cara saya dulu menghafalkan al-Qur’an, sehingga mendapatkan kemudahan. Saya dulu menghafalkan al-Qur’an pada saat kelas 1 MAN dan selesai saat kelas 2. Tidak sampai dua tahun. Bahkan tidak sampai 600 hari. Sebab, saya ingat betul, saat liburan puasa, saya menghafalkan juz 6 pertengahan sampai akhir surat al-A’raf di juz 9. Tiga juz lebih bisa saya selesaikan. Tapi ini memang capaian tertinggi saya. Selainnya tidak bisa. Sebab, saya harus membagi waktu untuk sekolah dan juga ngaji di pondok.”

Baladena.id: “Lalu apa hasil dari evaluasi itu?”

Abana: “Saya kemudian mengingat kembali apa yang membuat saya mengalami perubahan dari malas menghafalkan al-Qur’an menjadi sangat bersemangat dalam menghafal. Jangan salah, bapak saya sebenarnya sudah memotivasi saya untuk menghafalkan al-Qur’an sejak saya SD. Tapi, karena belum bersemangat, ya tidak bisa. Bahkan sekedar menghafalkan surat Yasin saja tidak bisa selesai. Saya ingat betul, saat kelas VI MI, guru saya mengadakan lomba menghafalkan surat Yasin. Yang berhasil hafal, diberi hadiah buku tulis batik yang tebal itu. Tapi karena saya tidak tertarik, karena saya sudah punya banyak buku, saya tidak termotivasi. Yang menang adalah teman saya, karena dia anak terbatas, dia semangat sekali dan berhasil mendapatkannya. Saya sepertinya nomor dua atau tiga bahkan. Dan sekarang, teman saya itu saya tanya tentang hafalannya, katanya sudah hilang tertimpa batu bata. Hahaha. Dia sekarang jadi kuli bangunan. Dari mengingat masa sulit sampai mendapatkan kemudahan itu, saya menarik simpulan bahwa kemudahan yang saya dapatkan disebabkan oleh setidaknya dua hal: Pertama, saya mulai mengerti makna literal al-Qur’an, karena saya mengaji beberapa kitab tafsir dan mendapatkan pengetahuan baru di dalamnya. Kedua, bapak saya baru saja meninggal, dan saya teringat betul tantangan beliau.”

Baladena.id: “Kenapa kedua hal itu sangat berpengaruh kepada kecepatan menghafal?”

Abana: “Saya kemudian melakukan riset kecil-kecilan. Hasilnya adalah menghafal kalimat yang kita tidak tahu artinya, tingkat kesulitannya sampai tujuh kali lipat. Saya sering melakukan uji ini berkali-kali di forum-forum kajian dan pengajian. Kalimat yang saya gunakan adalah “kamu akan pergi, kamu akan mati di medan perang”. Seluruh peserta yang saya jadikan sebagai “kelinci percobaan” ternyata bisa mengulangnya dengan baik. Namun, ketika saya minta mengulang dalam bahasa aslinya “ibis redibis numquam peribis in armis”, ternyata rerata mereka perlu pengulangan tujuh kali. Padahal dalam bahasa asli hanya enam kata, sedangkan dalam bahasa Indonesia Sembilan kata. Ini yang kemudian membuat saya harus berpikir untuk menciptakan cara yang bisa membuat santri bisa menguasa bahasa Arab terlebih dulu.”

Baladena.id: “Tapi kalau harus menguasai bahasa Arab terlebih dulu, apa tidak malah lebih sulit?”

Abana.id: “Pertanyaan yang sangat bagus. Bahasa adalah soal kebiasaan habit saja. Saya sering mengatakan tentang kemudahan berbahasa apa saja jika dibiasakan dengan ungkapan “orang gila di Arab bisa berbahasa Arab” dan “anak balita di Inggris mampu berbahasa Inggris”. Semua itu terjadi karena kebiasaan saja. Untuk mencari lingkungan berbahasa Arab, apalagi bahasa Arab fushhah yang digunakan oleh al-Qur’an, tentu saja tidak mudah. Bahkan kita di Arab pun tidak menggunakan bahasa Arab sebagaimana digunakan oleh al-Qur’an. Saya kemudian menemukan cara. Saya mengingat-ingat, mana surat yang paling mudah dipahami oleh semua orang, bahkan juga oleh anak kecil. Maka saya menemukan surat Yusuf. Coba perhatikan, surat Yusuf itu sejak awal kalimatnya sederhana. Mulai ayat 4 isinya cerita sederhana yang bisa dipahami atau bahan disukai oleh anak batita. Anak-anak saya sejak mereka bisa diajak cerita, saya kasih cerita tentang Nabi Yusuf. Lalu benar-benar saya uji coba, dan hasilnya sangat memuaskan.”

Baladena: “Teknisnya bagaimana, sehingga santri atau murid bisa mendapatkan kebiasaan itu?”

Abana.id: “Saya menggabungkan antara menghafal dengan memaknai ayat dengan i’rab secara lengkap. Hafalkan maknai! Dengan tahu arti setiap kata dalam sebuah kalimat atau ayat, maka akan mudah bagi murid untuk mengetahui i’rab atau subjek, predikat, objek, keterangan, dan lain-lain yang di antaranya tidak ada di dalam bahasa Indonesia. Satu ayat dihafalkan, satu ayat itu dikuasai arti kata dan i’rabnya. Dengan demikian, murid akan mudah menghafalkannya. Dan dengan mendapatkan pengetahuan yang selalu baru ketika mereka menambah hafalan, maka akan bertambah semangat untuk menghafal. Ini yang perlu dicatat, bahwa menghafalkan al-Qur’an memerlukan tidak hanya kecerdasan, tetapi yang juga sangat penting adalah semangat yang akan menghasilkan istiqamah dalam menambah hafalan dan muraja’ah. Kecerdasan yang diperlukan juga tidak tinggi-tinggi amat. Berdasarkan data yang saya punya, IQ cukup 105 saja. Kalau di bawah 105 biasanya tidak bisa hafal 30 juz. Ini data yang ada pada saya. Karena itu, saya tidak setuju dengan pandangan bahwa orang hafal al-Qur’an pasti cerdas banget. Tidak. Hanya perlu 105 saja. Tapi semangat untuk istiqamah itu yang tidak dimiliki semua orang. Orang dengan IQ sampai level jinius pun ternyata banyak yang tidak hafal. Kenapa? Karena tidak memiliki konsistensi. Saya punya banyak teman yang ketika baru saja pulang dari luar negeri kajian keislaman, ingin menghafalkan al-Qur’an dan minta saran dari saya agar bisa cepat menghafalkannya. Saya beri tipsnya. Sepekan pertama, mereka mampu menghafal signifikan. Bahkan ada yang empat halaman dalam sehari. Namun, kemudian mereka tidak istiqamah karena harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan mereka yang sudah terlanjur banyak dan tak terhindarkan. Akhirnya ya gagal lagi.”

Baladena.id: “Bisakah saya mendapatkan gambaran tentang kemudahan mengartikan ayat al-Qur’an ini?”

Abana.id: “Kita ambil contoh surat Yusuf ayat empat ya.

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سَٰجِدِينَ

Langsung kita artikan dengan idz qaala = ketika berkata; siapa yang berkata? Yusufu = Yusuf; li abiihi = kepada bapaknya; berkata ing yaa abati = wahai bapakku; inni = sesungguhnya aku; khabar inna iku ra’aytu aku melihat; melihat ing ahada asyara = sebelas; apanya yang sebelas? kawkaban = bintang; wa al-syamsa = dan matahari; wa al-qamara = dan bulan; ra’aytu = aku melihat; hum = ing mereka; lii = kepadaku; saajidiina = sebagai orang-orang yang sujud.

Awalnya tentu saja anak-anak perlu menggunakan daya hafalnya saja. Seiring bertambahnya ayat, mereka akan mulai memahami maksud kalimat dan kemudian memahami status kata dalam kalimat itu. Misalnya, ketika mereka mengucapkan “siapa yang berkata?” sebagaimana dalam ayat di atas, mereka akan mulai merasakan bahwa setiap kata kerja atau fi’il memerlukan fa’il, juga sebagiannya memerlukan objek atau maf’ul. Dan seterusnya. Kemampuan mereka memahami status setiap kata dalam kalimat itu ternyata sangat membantu mereka dalam berlogika. Nah, jadilah menghafalkan dan memaknai ini sebagai jalinan atau satu kesatuan. Menghafal perlu memaknai arti, dan dengan menghafalkan seluruh ayat al-Qur’an, makna yang berlapis-lapis dalam al-Qur’an juga akan bisa ditangkap sehingga pemahaman akan menjadi lebih baik. Awalnya mungkin masih dangkal dan parsial, namun lama kelamaan seiring dengan seringnya perenungan, pemahaman akan makin komprehensif dan mendalam. Dengan kata lain kebenaran yang sesungguhnya akan tertangkap. Dengan hafalan yang dipahami maknanya, kita bisa berharap lahir ulama’ baru di masa depan. Harapan saya, paling lambat kelas II SMU mereka sudah beres menghafal, lalu kuliah di fakultas-fakultas non keislaman, terutama sekali fakultas-fakul sains dan teknologi. Sebab, yang nama ulama’ itu sesungguhnya adalah yang menguasai hukum-hukum alam yang dikonvergensikan dengan ayat-ayat Allah. Alam dan ayat, keduanya adalah tanda-tanda Allah. Yang mampu memahami dan mengimplementasikan dalam kehidupan, itulah yang berhak menyandang gelar ulama’. Bukan hanya beretorika dan memutar-mutar kata-kata. Ayo yang punya anak-anak lulus SD dan SMP sekarang, kirim ke Planet NUFO. Asal IQ di atas 105, saya akan bantu memandu mereka menghafalkan al-Qur’an dan menguasai sains dan teknologi. Umat Islam harus maju. Jangan lagi tertinggal seperti sekarang terjadi. Kita harus sadar dan melakukan ikhtiar konkret.

Exit mobile version