Keberagaman memang sebuah bentuk kekayaan yang melekat erat pada tiap-tiap kebiasaan masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk budaya sehingga menjadi ciri khas suatu kelompok manusia yang memiliki pola hidup dan keadaan sosial yang sama. Menurut Tylor, seorang antropolog Inggris mendeskripsikan budaya adalah sistem kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian , moral, hukum, adat istiadat, kemampuan, serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Di Nusantara tercinta ini memiliki beribu-ribu budaya yang tumbuh sejak zaman nenek moyang masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Budaya tersebut dapat berupa tarian adat, rumah adat, pakaian adat, bahasa daerah, ritual-ritual keagamaan, sampai cara berpikir.
Keragaman budaya tersebut harus patut disyukuri keberadaanya dan juga perlu diperhatikan isinya. Salah satu budaya Indonesia yang perlu diperhatikan adalah budaya berpikir masyarakat yang masih kental dengan roman-roman mistis mitologis. Pengaruh mistis mitologis berawal dari cerita nenek moyang yang kemudian dimatangkan sejak masuknya agama Hindu-Buddha ke Nusantara yang dapat diamati dari berbagai mitos lokal yang ada di Indonesia. Hampir seluruh suku di Indonesia memiliki kisah baik itu legenda ataupun tokoh mitologis. Uniknya, tokoh tersebut memiliki nama yang sama tetapi memiliki jalan cerita atau versi bawaan yang berbeda. Contoh tokoh mitologis yang paling masyhur dikalangan masyarakat Indonesia adalah Nyi Roro Kidul. Nyi Roro Kidul dianggap sebagai sosok ghaib cantik nan dermawan. Dia akan menolong siapa saja yang memohon kepada dirinya.Selain itu, masyarakat masih mempercayai kekuatan dukun-dukun yang jelas-jelas islam memandang itu adalah perbuatan syirik yang dosanya sulit diampuni oleh Allah SWT. Tentu cara berfikir seperti ini tidak boleh dibiarkan terus berkembang dikalangan masyarakat karena akan berpengaruh kepada ketidakinginan masyarakat berfikir secara kritis dan rasionalis. Hal ini akan sangat berpengaruh kepada keadaan Indonesia beberapa tahun kedepan disebabkan kejumbutan berfikir sumber daya manusianya sekarang. Parahnya lagi, mereka akan berlenggang-lenggang tidak berbuat apa-apa karena percaya dukun atau hal ghaib lainya akan menolong mereka dan menjaga mereka. Islam sendiri memang mewajibkan umatnya untuk mempercayai hal-hal ghaib seperti mengimani adanya malaikat dan mukjizat yang diturunkan kepada rasul-Nya, bukan malah mempercayai perkara ghaib yang mengarah kepada hal yang mengarah untuk mempersekutukan Allah dan efek kemunduran negara.
Bukan berarti kita harus meninggalkan budaya, tapi ambil sisi baiknya dan ambil budaya baru yang lebih baik. Dalam buku Quraish Shihab, seorang ahli tafsir al-Qur’an Indonesia yang berjudul “Islam Yang Saya Pahamai” ada beberapa tipe manusia yang dalam menyikapi sebuah masalah dan keadaan. Dan kita dianjurkan untuk menjadi orang yang yang menyelesaikan masalah dengan cara baru tetapi tetap memperhatikan budaya-budaya lama. Maksudnya adalah sesuaikan masalah baru dengan cara penyelesaian baru dan mepertimbangkanya dengan cara lama yang telah dikemukakan oleh orang sebelum kita yang masih baik dan bisa digunakan. Namun, kembali lagi, problem terbesar kita adalah pola pikir yang sangat sulit diubah. Umumnya orang akan sangat berat meninggalkan kebudayaan yang telah mereka agungkan dan kembangkan secara turun menurun oleh nenek moyang.
Apalagi, budaya mistis mitologis. Umumnya masyarakat Indonesia sangat tertarik dengan hal-hal mistis, yang secara kebetulan sesuai dengan perhitungan keadaan nasib mereka. Faktor inilah yang mendukung untuk tidak ada alasan tidak mempercayai hal yang berbau mistis. Jika saya melihat dari sempitnya pandangan saya, sebenarnya hal ini adalah hanya terkait prasangka manusianya saja. Islam sendiri telah memberi teks lewat hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Ahmad Nabi Muhammad ﷺ mengabarkan bahwa Allah berfirman, “Aku sesuai persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau”
Sebagian masyarakat tidak menyadari tentang seberapa besar penting cara berfikir rasional, karena didalam otak mereka telah terdoktrin oleh kepercayaan-kepercayaan yang sifatnya mistis mitologis. Hanya ada sebagian kecil saja yang sadar bahwa hal itu akan berpengaruh kepada kemajuan bangsa. Maka solusi terbaik bagi sebagian kecil itu untuk memperkuat pola pikir rasional dengan cara memberi aksi dan argumen yang bersuafat faktual dan relevan guna mematahkan kepercataan mistis mereka.
Jika memang sekarang kita belum mampu untuk mengubah cara pikir orang yang lebih dewasa dari kita untuk berfikir secara rasional, maka minimal kita harus bisa mempengaruhi orang-orang yang sepantar atau lebih muda untuk bisa berfikir secara rasional. Mempersiapkan orang-orang baru yang siap dan berkeinginan mewujudkan bangsa yang gemilang dimasa depan.

