Di Himpunan Mahasiswa Islam terdapat sistem kaderisasi yang baku dan berjenjang mulai dari formal, non-formal, dan in-formal. Kaderisasi ini diharapkan menjadi wadah untuk menyatukan visi serta misi kader HMI yang basis keilmuannya berbeda dan memiliki latar belakang organisasi massa Islam (NU, Muhammadiyah, Persis, dll) yang berbeda pula. Untuk menyamakan visi misi tersebut diperlukan orang-orang yang secara keilmuan memiliki kapasitas untuk menjelaskan 5 materi wajib HMI secara jelas dan luas. Maka dari itu, dibuatlah sistem perkaderan khusus menyeleksi orang-orang yang dianggap memiliki kapabilitas sebagai seorang guru di HMI. Forum itu dinamakan dengan Senior Course (SC) atau TOT (Training of Trainer) atau TI (Training Instruktur
Tradisi belajar mengajar di HMI ditunjukan dengan adanya sistem Senior Course (SC). SC merupakan pelatihan bagi kader-kader HMI yang berminat menjadi Instruktur dalam pelatihan formal di HMI seperti Basic Training, Intermediate Training, dan Advanced Training. Orang yang lulus SC dinyatakan menjadi anggota BPL (Badan Pengelola Latihan) di Cabangnya masing-masing. Di forum forum formal, instruktur disapa dengan sebutan master.
Sapaan master (orang yang mengelola forum latihan) tidak ditemukan kapan pertama kali dipakai di HMI. Hanya saja, istilah master untuk instruktur HMI ini bermula dari pembagian tugas di forum latihan. Salah satu bagiannya disebut dengan Master of Training (MOT). Hampir di semua organisasi dalam sistem perkaderannya ada yang namanya MOT dan ini menjadi pengetahuan umum. Di beberapa cabang, orang menolak disebut master karena seolah-olah ada ketimpangan besar antar guru (Instruktur) dan murid (kader). Yang pada dasarnya di forum hanyalah berbagi sedikit ilmu karena telah lebih dulu berkader
Hal yang juga sering menjadi diskursus HMI di beberapa cabang adalah terkait kriteria kader yang diikutsertakan dalam forum SC. Secara tertulis, syarat formalnya hanya telah mengikuti latihan kader 2 (intermediate training). Karena kapabilitas yang dimiliki oleh seorang instruktur nantinya tidak jauh dengan ilmu yang didapatkan saat berdebat panjang di forum Lk2. Dinamika saat forum Lk2 menjadi bekal untuk mendewasakan diri baik secara emosional maupun intelektual. Tapi disisi lain, ada faktor faktor yang menjadi pertimbangan seperti usia, kematangan emosional, kemandirian intelektual, dll. Sehingga untuk mengekspresikan bahwa ada kader yang sudah lulus SC tapi belum matang secara intelektual, biasanya diungkapkan dengan istilah “master prematur.
Istilah master prematur pertama kali saya dengar saat saya hendak melaksanakan SC diusia yang relatif muda yakni semester 2 peralihan menuju semester 3. Saat itu, penulis mendapat beberapa penolakan dari berbagai pihak (terutama Cabang) karena masih terlalu dini. Tradisi di Cabang Semarang (juga cabang-cabang lain), saat kader hendak melaksanakan forum Lk2/SC ada yang namanya pembekalan. Itu menjadi modal dasar untuk unjuk gigi berdialektika dihadapan screener. Salah satu hal yang menjadi semangat adalah kalimat yang diucapkan pembekal kepada penulis seperti, “kamu ini akan jadi master prematur!!”. Jika ditarik masuk ke dalam hati, tentulah orang akan malas dan putus asa. Belum apa apa sudah dibuat down. Tapi justru itu yang membuat penulis yakin dan semangat untuk menunjukan bahwa “saya bukan master prematur. Saya akan buktikan bahwa saya bisa”.
Bagaimanapun, istilah master prematur kurang layak disematkan pada orang yang sudah ada kemauan untuk membantu dalam proses kaderisasi. Di beberapa cabang, ada yang kesulitan melaksanakan pelatihan hanya karena kurangnya orang yang lulus SC. Sehingga untuk membantu terlaksananya pelatihan itu, beberapa Cabang mengundang instruktur/BPL dari Cabang lain. Sampai-sampai ada cabang yang menjadikan kader lulusan Lk1 atau Lk2 untuk mengelola forum sebagai instruktur.
Menurut beberapa penuturan, ada semacam sistem yang dibuat oleh BPL di beberapa Cabang yang membuat kader lulusan Lk2 belum diperbolehkan berangkat SC. Alasannya perlu ada penggemblengan di Cabang oleh BPL dengan materi tertentu namun dengan jangka waktu yang tidak ditentukan. Akibatnya sedikit sekali kader yang berangkat SC karena terkungkung sistem yang dibuat-buat entah demi kepentingan apa. Yang jelas kalau itu demi kepentingan kualitas master agar tidak prematur tentulah salah besar. Karena ber-HMI artinya berproses di HMI. Proses di HMI sama dengan proses belajar menurut Nabi Muhammad yakni seumur hidup. Tidak ada batasan. Selama mau belajar dan memperbaiki diri, kualitas tidak akan pernah menjadi masalah. Daripada BPL menghalang-halangi kadernya berangkat SC, lebih baik memikirkan bagaimana caranya setelah SC kader itu bisa sempurna keilmuannya, misalnya dibuatkan forum-forum peningkatan kualitas.
Jika BPL menganggap kadernya tidak layak SC karena kapasitas intelektualnya yang belum mumpuni, artinya BPL gagal dalam mengkader. Tujuan mengkader pada dasarnya menciptakan manusia manusia unggul untuk bertarung di masa depan. Seperti hakikat orang sukses adalah dia yang mampu menciptakan manusia yang lebih sukses darinya. Begitupun pemimpin terbaik adalah pemimpin yang mampu menciptakan pemimpin yang lebih baik darinya. Menghalang-halangi kader untuk SC artinya menghalangi kaderisasi berjalan. Sama halnya dengan tidak percaya bahwa HMI ini mampu menciptakan manusia canggih dengan sistemnya. Artinya, sebelum meyakinkan mahasiswa lain untuk ikut lk1, yakinkan dulu kader-kader kita untuk terus maju meningkatkan intelektualitasnya dengan mengikuti perkaderan-perkaderan yang ada di HMI. Kalau dirasa sangat belum layak, ada sistem screening di tiap cabang yang melakukan pelatihan. Fungsinya adalah untuk menyaring orang orang yang harus belajar lagi di Cabangnya masing masing karena belum layak masuk forum. Dan jika itu terjadi, kembali lagi adalah salah BPL.
Untuk mengatasi masalah yang terjadi di internal HMI baik tingkat komisariat, Cabang, atau PB haruslah dimulai dari hal yang sederhana yakni memperbanyak kader HMI bukan hanya soal kuantitas tapi juga kualitas. BPL di Cabang bertugas untuk mengawal dan memastikan kualitas kader di Cabangnya. Untuk memastikan itu, perlu ada perhatian khusus. Meskipun orang yang sudah SC tidak lebih baik dari yang sudah Lk2, tapi pada dasarnya seorang guru akan selalu menjadi yang terbaik saat dihadapan muridnya. Untuk itu, dukunglah kader untuk Lk2 dan SC dengan cepat. Semakin cepat berkader, semakin cepat membentuk kedewasaan. Wallahu a’lamu bi al-shawwab.

