Site icon Baladena.ID

Betulkah Panen Tembakau juga Sama Berbahayanya dengan Merokok?

Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang tak terkira. Indonesia juga dijuluki sebagai negara agraris yang memiliki keberagaman komoditas pertanian, tak terkecuali tembakau. Menurut penelitian Rai dan Faisal (2022), di antara negara-negara di ASEAN pada tahun 2019, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara yang memiliki daya saing ekspor komoditas tembakau tertinggi, setelah Filipina. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi tembakau di Indonesia pada tahun 2021 adalah sebesar 236.900 ton. Sedangkan, menurut penelitian yang sama (Rai & Faisal, 2022), Indonesia juga melakukan impor tembakau yang besar guna mencukupi permintaan tembakau dalam negeri. Hal tersebut menunjukkan, meskipun produksi tembakau di Indonesia termasuk tinggi, tetapi jumlah produksi tersebut masih belum dapat memenuhi permintaan dalam negeri akan tembakau. Akibatnya, pemerintah mengupayakan petani tembakau untuk dapat meningkatkan produktivitas komoditas tembakau. Mengutip dari laman jogja.tribunnews.com (20/09/2022), upaya tersebut di antaranya adalah pemberian bibit gratis serta pinjaman modal tanpa bunga guna pembelian pupuk yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta bagi petani tembakau di Bantul.

Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai menanamkan persepsi bahwa pencegahan perilaku merokok merupakan salah satu bentuk penerapan gaya hidup sehat. Tren gaya hidup sehat mulai digalakkan oleh masyarakat karena adanya kesadaran akan kesehatan serta data statistik yang menunjukkan akibat dari penggunaan rokok. World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara tertinggi ketiga pengguna rokok. Bahkan, penelitian Global Youth Tobacco juga menambahkan bahwa tingkat prevalensi perokok remaja di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan (Suharyanto et al., 2018). Merokok diyakini dapat mendatangkan beberapa permasalahan kesehatan, baik bagi perokok itu sendiri maupun bagi orang di sekitar yang menghirup asap rokok dari seseorang. Salah satu dampaknya adalah pada kesehatan mulut seseorang yang mana pada rongga mulut merupakan tempat terjadinya penyerapan zat hasil pembakaran rokok yang bersifat toksik dan karsinogenik. Selain itu, merokok juga dapat menyebabkan penumpukkan tar pada gigi, diikuti oleh gingivitis, dan berlanjut menjadi periodontitis (Prasetyowati et al., 2022). Dalam asap rokok, terdapat senyawa yang memiliki peran sangat penting terhadap perilaku merokok yaitu nikotin. Nikotin merupakan senyawa yang bersifat aditif yang dapat mempengaruhi adaptasi otak akan kadar nikotin dan menyebabkan toleransi dosis farmakologis nikotin yang dapat berlanjut menjadi ketergantungan (Oktaverina et al., 2021).

(Sumber: http://www.farmworkercliniciansmanual.com/index.php/patient-farm-type/tobacco/common-tobacco-hazards/skin-conditions/)

Paparan nikotin akibat tembakau ternyata tidak hanya dapat terjadi akibat penggunaan rokok (merokok), tetapi juga dari kontak secara fisik dengan tembakau basah. Kontak secara fisik dengan tembakau basah dapat terjadi pada proses pengolahan dan juga proses pemanenan tembakau oleh petani (Rizki et al., 2021). Nikotin memiliki berat molekul yang rendah serta memiliki kelarutan terhadap lemak dan air yang cukup baik sehingga dapat dengan mudah terserap ke dalam tubuh dari permukaan kulit (Reddy & Ashok, 2019). Ketika tembakau yang mengandung nikotin yang tinggi berkontak dengan kulit, nikotin tersebut dapat terserap dan terdistribusi ke seluruh tubuh, tak terkecuali ke otak. Penyerapan nikotin tersebut memicu kemoreseptor emetik di medula oblongata dan menghasilkan refleks muntah. Selain itu, nikotin juga dapat merangsang saraf sensorik dari usus dan saraf parasimpatis pada saluran pencernaan sehingga menyebabkan peningkatan sekresi dan terjadi mual serta kram perut. Penyerapan nikotin secara kontak langsung dengan tembakau basah biasa disebut dengan insiden Green Tobacco Sickness (GTS). Efek jangka panjang GTS salah satunya dapat menjadi kanker. Di Indonesia sendiri, insiden GTS terdeteksi pada 79,2% dari 120 buruh tani tembakau di Jember serta 63,7% insiden GTS pada buruh tani tembakau di Temanggung (Rizki et al., 2021). Hal tersebut dapat diasosiasikan dengan iklim di Indonesia yang mana pada kondisi panas, basah dan kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan nikotin keluar dan berada pada permukaan daun, serta suhu lingkungan yang tinggi dapat menaikkan absorbsi permukaan kulit dan menaikkan konsentrasi nikotin dalam plasma darah hingga 30-40% (Reddy & Ashok, 2019).

Upaya dalam peningkatan produktivitas tanaman tembakau harus diimbangi dengan penanggulangan dampak sekunder yang dapat merugikan, seperti insiden GTS seperti yang sudah dijelaskan di atas. Upaya penanggulangan GTS juga memiliki tingkat kepentingan yang sama dengan upaya penanggulangan merokok. Bentuk pencegahan GTS bagi petani tembakau dapat dilakukan dengan menggunakan alat pelindung diri selama proses pemanenan dan pengolahan tembakau seperti menggunakan baju lengan panjang, sarung tangan, masker, sepatu boots, baju tahan air, serta kaus kaki. Selain itu, bekerja di lahan tembakau tidak terlalu pagi juga diyakini dapat mencegah terjadinya GTS. hal tersebut dikarenakan, pada pagi hari, tembakau yang berada di lahan memiliki permukaan basah dan dapat meningkatkan proses penyerapan nikotin ke dalam permukaan kulit. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mencegah GTS adalah dengan mencuci tangan, mandi, mengganti baju dan mencuci baju setelah bekerja (Rizki et al., 2021).

 

Referensi

Badan Pusat Statistik. (2021). Produksi Tanaman Perkebunan (Ribu Ton), 2019-2021. Badan Pusat Statistik. Retrieved September 22, 2022, from https://www.bps.go.id/indicator/54/132/1/produksi-tanaman-perkebunan.html

Oktaverina, S., Yetti, H., & Irawati, L. (2021). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Nikotin Dependen pada Mahasiswa Laki-Laki Perokok di Kota Padang. Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia, 2(3), 172-180.

Prasetyowati, S., Puspitasari, E. P., & Seosilaningtyas. (2022). Systematic Literature Review: Pengaruh Kebiasaan Merokok terhadap Penyakit Jaringan Periodontal pada Masyarakat di Indonesia. JKGM, 4(1), 35-39.

Rai, A., & Faisal, A. (2022). Daya Saing Komoditas Pertanian Unggulan Indonesia: Perbandingan dengan Negara Lain di ASEAN dan Potensinya. SEPA, 19(1), 72-81. https://dx.doi.org/10.20961/sepa.v19i1.53322

Reddy, M. N. T., & Ashok, N. (2019). Green tobacco sickness – A brief review. World News of Natural Sciences, 24, 210-215.

Rizki, A. F., Wahyuningsih, N. E., & Budiyono. (2021). Faktor Risiko Kejadian Green Tobacco Sickness (GTS) pada Buruh Tani Tembakau: Literature Review. Jurnal Sains dan Kesehatan, 3(3), 366-374.

Oleh: Nada Hanifa Larasati, Mahasiswa Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Universitas Gajah Mada

Exit mobile version