Site icon Baladena.ID

Berubah atau Punah!

Dilema Edukasi Bahasa Inggris di Indonesia
Pixabay

Musibah Covid-19 menuntut kita untuk melakukan perubahan atau pembenahan atas apa-apa yang kita lakukan selama ini. Pertama, gaya hidup bersih. Sebelum Covid-19 menyerang negara-negara di dunia, juga Indonesia, kebersihan, sekalipun sudah banyak dianjurkan dan dipraktekkan oleh masyarakat, namun tidak semassif saat ini. Kita bisa saksikan betapa berubahnya cara hidup masyarakat di era pandemi ini.

Mendadak hampir di seluruh tempat-tempat keramaian bahkan di depan rumah terdapat bak untuk mencuci tangan. Artinya, Covid-19 ini mendorong kita untuk berbenah; mulai menggalakkan kebersihan diri dan lingkungan setiap saat. Kesadaran akan hidup sehat sudah mulai terketuk. Semoga pola hidup bersih ini terus berjalan dan menjadi gaya hidup meskipun Covid-19 sudah berlalu.

Masyarakat dengan penuh kesadaran menerapkan protokol pencegahan Covid-19 dengan mencuci tangan secara rutin, terutama saat habis melakukan kegiatan.

Kedua, mempersiapkan diri dan menggunakan potensi diri secara maksimal. Sebagai sebuah keniscayaan dalam hidup, semua dari kita (manusia) pasti akan mengalami ujian. Namun, sementara orang pesimis terhadap ujian yang menimpanya, bahkan ada yang menyerah. Padahal, Allah berfirman bahwa Allah menguji hambanya sesuai dengan kemampuannya—tidak melampui kemampuan yang diuji (Lihat misalnya, QS. Al-Baqarah [2]: 286).

Adapun yang gagal dalam menghadapi ujian-Nya adalah mereka yang tidak mempersiapkan diri atau tidak menggunakan potensi yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya. Jadi, Covid-19 ini sesungguhnya memberikan ‘pelajaran; kepada kita semua untuk selalu mempersiapkan diri dan menggunakan potensi diri secara maksimal guna meraih kemenangan dan kesuksesan dalam segala medan atau keadaan. Dalam bahasa lain, mau berubah (berbenah) atau punah?

Agar tidak punah, maka harus berbenah dan berubah. Terkait berbenah dan berubah, manusia sudah dibekali Allah segala bentuk potensi diri sebagai modal mencapai tujuan dan mempertahankan hidup secara bermartabat, salah satunya potensi akal. Melalui akal dan daya berfikir inilah, sejatinya manusia bisa sukses melewati segala ujian dan persoalan hidup di dunia ini.

Ketiga, sabar. Dalam banyak kesempatan, penulis sering menjumpai orang, bahkan fiqur yang dikenal sebagai ulama’ muballigh, mengartikan sabar sebagai bertahan hidup dalam kemiskinan dan kemalangan atau sikap ‘terpaksa’ menerima musibah. Dengan kata lain, sabar berkonotasi pasif, lembek (melempem), menyerah (pasrah).

Pemaknaan sabar tersebut juga banyak diterapkan dalam menghadapi Covid-19. Bahkan sikap sabar semacam itu juga diiringi dengan sikap fatalistik. Diantaranya tercermin dalam pernyataan yang sudah umum diyakini masyarakat berikut. Bahwa Penentu hidup mati adalah Allah, dan karena itu jika ditakdirkan belum mati, maka tidak akan mati disebabkan Covid-19. Mohammad Nasih (2020) mengingatkan bahwa sikap fatalistik dan pemaknaan sabar sebagai sikap pasif sangat membahayakan atas keselamatan umat Islam sendiri.

Jika kita telisik lebih dalam dan detail tentang konsep sabar dalam Alquran, maka akan kita temukan bahwa sabar justru mendorong sikap aktif dan produktif. Makna ini disarikan dari petunjuk dalam Alquran tentang sabar, diantaranya perintah Allah untuk meminta pertolongan dengan sabar dan shalat (QS. Al-Baqarah [2]: 45). Demikian diantara kesimpulan studi yang dilakukan oleh Sopyan Hadi dalam Konsep Sabar dalam Alquran (Jurnal Madani, Vol.1, No. 2 tahun 2018).

Jadi, makna hakiki sabar di era pandemi saat ini adalah mengerahkan segala daya dan upaya untuk membentengi diri dari Covid-19 dan hal-hal yang membahayakan lainnya dengan cara meningkatkan imunitas tubuh (ketahanan fisik), ketahanan mental dan disiplin menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Setelah berusaha sekuat tenaga untuk membentengi diri dengan cara ini ini, baru tawakkal (pasrah) kepada Allah dengan doa dan shalat. Dengan demikian, sikap menyerahkan hidup atau mati di tangan Allah tanpa diiringi dengan sabar dan ikhtiar, berdasarkan petujuk Alquran, adalah sebuah kekeliruan.

Keempat, mengedepankan ilmu pengetahuan. Wabah Covid-19 yang telah melanda Indonesia beberapa waktu lalu hingga saat ini tidak hanya membuat tiarap berbagai aktivitas berbangsa, bernegara dan beragama, melainkan juga menjadi tamparan bagi kita semua, terutama umat Islam, untuk membangkitkan kembali tradisi ilmu pengetahuan yang dulu telah dipraktekkan oleh ulama kita seperti Ibn Sina (980-1037 M yang dikenal dunia sebagai “Bapak Kedokteran Modern”, berkat karyanya yang menjadi rujukan dunia, yakni al-Qânûn fî at-Tibb (Lihat: Wikipedia dan Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, 1990: 116).

ILMUAN MUSLIM/IST

Mestinya umat Islam, dengan agama Islam yang rasional, dalam menghadapi virus yang memiliki efek kausal yang jelas dan sebagai entitas biologis yang tidak kasat mata, harus mengedepankan paradigma saintifik dalam menghadapi dan mengatasi wabah Covid-19. Namun, fakta lapangan berbicara sebaliknya. Masih banyak penceramah yang menganggap Covid-19 adalah anugerah Allah yang tidak perlu ditakuti, cukup hanya berdoa saja niscaya virus tersebut akan hilang.

Begitu kelompok ini menyikapi Covid-19, cenderung anti-sains. Sikap antisains ini, dibarengi dengan anakronisme yang membuncah menjadi semacam ‘kengototan’ (Masdar Hilmy, Sikap Ilmiah Menghadapi Pandemi Covid-19, Kompas, 04 April 2020). Padahal, sebagaimana yang diungkapkan dalam Alquran surat Al-Maidah ayat 77, bahwa umat Islam dilarang bersikap berlebihan dalam beragama dengan tanpa ilmu pengetahuan (ngotot).

Exit mobile version