Bulan Ramadhan 1441 Hijriyah, tidak terasa sudah memasuki 19 (sembilan belas) hari, berarti tinggal 10 hari lagi Ramadhan berakhir dan meninggalkan kita semua. Nuasa Ramadahan tahun ini memang sangat berbeda dengan tahun lalu, tahun ini dunia mengalami kejadian luar biasa, yaitu adanya wabah Virus Corona atau Covid 19. Termasuk Indonesia, juga dilanda virus yang berasal dari China tersebut.
Virus Corona masuk pada situasi atau kategori kejadian luar biasa, sehingga kebijakan Pemerintah pun luar biasa dalam menanggulanginya, social distancing atau phsical distancing, pembatasan sosial atau jaga jarak yang ditetapkan dan diterapkan bagi seluruh lapisan masyarakat. Hal ini yang membuat masyarakat sulit untuk beradaptasi, karena bertentangan dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang senang berkumpul dan bersilaturamhmi secara fisik.
Semua aktivitas yang mengundang massa atau banyak orang di batasi bahkan ditiadakan, mulai dari kegiatan pendidikan, bekerja sampai pelaksanaan ibadah. Himbauan Pemerintah semua dijalankan di rumah, stay at home (tinggal di rumah).
Selain Pemerintah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengeluarkan fatwa untuk mencegah dan mengurangi wabah Virus Corona, termasuk mengeluarkan panduan ibadah selama masa Pandemi Covid 19. Semuanya dijalankan sesuai dengan syariat tanpa mengurangi nilai ibadah. Dampaknya sangat terasa, Masjid dan Mushala banyak yang ditutup dari aktivitas ibadah pada umumnya.
Memasuki bulan Ramadhan kali ini, semua bentuk ibadah ritual, seperti shalat wajib, shalat sunnah, termasuk shalat sunnah tarawih dilaksanakan di rumah bersama keluarga. Semuanya dilandasi demi kemaslahatan ummat. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: Dari Aisyah Radhiallahu ‘anha, bahwasanya dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wabah (tha’un), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadaku: “Bahwasannya wabah (tha’un) itu adalah adzab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (tha’un) dia tinggal di rumahnya, bersabar dan berharap pahala (di sisi Allah) dia yakin bahwasanya tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka dia akan mendapatkan seperti pahala syahid”. (Al-Bukhari, (3474), An-Nasa’i dalam As Sunan Al-Kubra (7527), Ahmad, 26139).
Oleh karena sebab itu, tidak adala lagi alasan untuk bermalas-malasan untuk beribadah, semangat untuk beribadah di bulan Ramadhan tetap harus ditingkatkan, lebih-lebih kita memasuki 10 (spuluh) terakhir di bulan Ramadhan.
Setiap amal tergantung pada akhirnya, hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw yang artinya: “Sesungguhnya setiap amalan terggantung pada akhirnya” (HR. Bukhari). Hadits ini memberikan motivasi kepada kita semua untuk senantiasa bersemangat dalam beribadah, konteks ibadah di sini adalah sangat luas, baik spiritual maupun sosial.
Kemudian kita diingatkan dalam kehidupan di dunia ini, pilihan pertama, berakhir buruk (su’ul khotimah) atau pilihan kedua, berakhir baik (husnul khotimah). Hidup kita senantiasa bergerak ke depan, bukan mundur, artinya hendaklah kita hidup untuk masa depan bukan untuk masa lalu.
Janganlah kita merasa cukup dengan segala amal yang telah diperbuat dan kemudian bermalas-malas melakukan kebaikan pada masa sekarang, padahal kita belum mengetahui apakah amal kita diterima atau ditolak oleh Allah Swt.
Dalam konteks Ramadhan yang sudah memasuki 10 terakhir bulan yang mulia ini, hendaknya kita meningkatkan semangat untuk beribadah, tidak hanya diawal saja semangatnya, tapi kendor kebelakangnya. Tidak ada kata terlambat dalam beribadah, mari kita bangkitkan kembali ghirah untuk menggapai manisnya ibadah di bulan Ramadhan kali ini.
Rasulullah bersungguh-sungguh di 10 hari terakhir dalam bulan Ramadhan semasa hidupnya. Sebagaimana hadits yang dirwayatkan oleh Aisyah RA yang artinya: “Pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan Rasulullah Saw lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya” (HR. Muslim).
Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhhan menjadi sangat istimewa, karena belum tentu kita akan mendapatinya pada waktu yang akan datang, atau tahun berikutnya. Selanjutnya, merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah diberikan Allah kepada manusia dan terakhir di sepeluh terakhir Ramadhan ada malam yang nilainya lebih dari seribu bulan, yaitu malam lailatul qadar.
Janganlah kita merasa cukup dengan segala amal yang telah diperbuat dan kemudian bermalas-malas melakukan kebaikan pada masa sekarang, padahal kita belum mengetahui apakah amal kita diterima atau ditolak oleh Allah Swt.
Sarana mendapatka lailatul qadar, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan menjadi waktu yang istimewa untuk memperbanyak ibadah. Ini karena pada malam tersebut terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu malam lailatul qadar. Malam lailatul qadar atau malam turunnya Al Qur’an adalah pada bulan Ramadhan, pada malam-malam tersebut, Rasulullah Saw menganjurkan untuk memperbanyak zikir dan membaca Al Qur’an.
Itikaf merupakan kegiatan berdiam di dalam Masjid dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah Swt. Rasulullah Saw selalu rutin ber-itikaf di 10 hari terakhir Ramadhan. Namun, di tengah pandemi virus corona yang melanda Ramadhan 1441 H tahun ini, tampaknya pelaksanaan itikaf akan sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, maksimalkan ibadah lainnya di sepuluh hari terakhir, agar bisa tetap menggapai keutamaan bulan Ramadhan harus kita jalankan dengan semangat tinggi dan berharap ridho Allah dengan mendapati malam lailatul qadar.
Memperbanyak qiyamullail adalah salah satu dalam menghidupkan malam-malam selama sepuluh terakhir di bulan Ramadhan, hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw yang senantiasa menunaikan ibadah shalat malam. Diriwayatkan oleh An Nasa’i, Aisyah RA berkata, “Aku tidak melihat Rasulullah Saw membaca Al-Quran atau salat sepanjang malam sampai pagi selain bulan Ramadhan.”
Cara yang mudah agar kita memiliki semangat dalam melaksanakan ibadah adalah dengan cara mengajak keluarga untuk beribadah dan mengisi waktu selama Ramadhan. Hal ini pun telah nabi Muhammad Saw terapkan kepada kelurganya. Sebagaimana diriwayatkan Bukhari dari Aisyah RA: “Rasulullah SAW membangunkan keluarga di malam hari bukan khusus pada bulan Ramadhan saja, melainkan pada 10 hari terakhir beliau lebih rajin dan bersegera untuk membangunkan keluarga.” Sufyan ats-Tsauri menambahkan, “Apabila memasuki 10 hari terakhir beliau bertahajud, bersungguh- sungguh, dan membangunkan keluarganya dan anak-anaknya untuk salat bila mereka mampu.”
Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan menjadi waktu yang istimewa untuk memperbanyak ibadah. Yang mana ketika mendirikan salat pada malam itu, maka Allah akan menghapus segala dosanya yang telah lalu. “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Dan siapa yang menegakkan (shalat pada malam) pada lailatul Qadr dengan keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Al-Bukhari no. 34 dan Muslim no. 1268).
Berjuang dalam menghadapi segala bentuk godaan inilah yang harus kita lawan, godaan tersebut diantaranya adalah hasrat untuk hidup bermewah-mewah, dengan sengaja menyediakan waktu untuk menghamburkan uang dengan memenuhi kebutuhan yang tidak ada manfaatnya, sehingga diwaktu malam kecapean dan enggan untuk beribadah, kemudian bermalas-malasan, godaan-godaan inilah yang sesungguhnya menyebabkan, di sepuluh terakhir bulan Ramadhan terlewatkan begitu saja, tanpa mendapatkan hikmah dan berkah di bulan Ramadhan.
Belum ada kata terlambat, marilah kita kencangkan ikat pinggang, untuk bersegera sadar dari siumaan, untuk kembali bangkit dan bergerak dalam rangka mengisi bulan Ramadhan kali ini dengan semangat beribadah dan semoga kita dapat menikmati, mensyukuri dan mengakhiri Ramadhan dengan husnul khotimah.
Sepuluh terakhir di bulan Ramadhan kita manfaatkan dengan maksimal, walaupun dalam kondisi pandemi covid 19, bukan berarti ibadah berkurang, justru sebaliknya, ibadah menjadi lebih khusu lagi. Berdo’a semoga wabah virus corona segera diangkat oleh Allah Swt, sehingga kita dapat beraktivitas dengan normal. Aamiin

