Site icon Baladena.ID

Berdialog gaya Sokrates di Tengah Zaman yang Bising

*Oleh: Mansurni Abadi, mantan pengurus divisi riset Perhimpunan pelajar Indonesia se dunia / Mahasiswa filsafat universitas Avondale.

Saat artikel ini ditulis, tengah viral perbincangan apakah jurusan filsafat masih penting atau tidak ? yang bermula dari pernyataan Ferry Irwandi, founder Malaka Project yang seperti Ted Talks itu yang mengatakan , “Jurusan filsafat dihapus saja!” diakun Instagram pribadinya pada 15 Juli.

Sontak pernyataan ini menimbulkan perdebatan dari para pengiat filsafat termasuk mereka yang sedang menempuh pendidikan filsafat di perguruan, meskipun muncul pula hujatan dan pembenaran terhadap pernyataan Ferry Irwandi. saya sendiri lebih memilih menanggapinya dari sudut pandang yang positif karena dari pernyataan Fery Irwandi tersebut perbincangan seputar Filsafat kembali bergema, setidaknya Ferry irwandi bertanggung jawab dengan pernyataan lewat kesanggupannya mengikuti perdebatan maupun diskusi perihal masih penting atau tidaknya jurusan filsafat.

Filsafat sebagai tempat dimana segala macam pemikiran beradu memang akan selalu menghadirkan banyak hal yang menarik, dan dalam filsafat pula segala macam pertentangan itu dikenal dengan “Dialektika”, yang dapat memantik pembudayaan ilmu di Masyarakat.

Dialektika sendiri yang dianggap dipopulerkan oleh karl marx dan hegel sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani Kuno, adalah Sokrates yang merupakan pemikir filsafat ternama di era Yunani Kuno yang pemikirannya masih menjadi pembahasan hingga kini , bisa dibilang adalah yang terawal memantik publik untuk mengembangkan gaya berpikir dialektik yang bagi saya sangat aplikatif karena bisa kita gunakan di tengah zaman yang menuntut adanya percepatan dalam proses untuk menerima informasi tanpa memberikan jeda bagi kita untuk berpikir apalagi refleksi .

Tapi sebelumnya mari kita berkenalan dulu dengan apa yang disebut sebagai konsep dialektika.

Apa itu dialektika ? ​

Jika merujuk pada hegel, Dialektika merupakan wacana untuk membicarakan suatu ide melalui 3 proses, yaitu
1.⁠ ⁠Thesis: Ide tengah kita bicarakan
2.⁠ ⁠Antitesis: Idea yang berlawanan terhadap ide yang tengah kita bicarakan di awal
3.⁠ ⁠Sintesis: gabungan atau bisa jadi ide baru sebagai resolusi akhir

Tetapi sokrates memiliki pola pendekatan lain terhadap dialektika yang kita kenal sebagai dialog sokrates.

Berbeda dari dialog pada umumnya yang seringkali berakhir dan berawal dengan kesesatan berpikir, kekosongan isi, atau pada sebagian kasus berakhir dengan perkelahian. Dalam dialog sokrates yang dibangun adalah kesadaran berpikir secara bijaksana.

Apa dan bagaimana itu dialog sokrates ?

Metode Socrates adalah suatu bentuk dialog argumentatif yang kooperatif antar individu, berdasarkan proses bertanya dan menjawab pertanyaan untuk merangsang pemikiran kritis dan untuk menarik ide dari serangkain praduga yang mendasari ide itu .

Ada tiga langkah sederhana untuk menerapkan dialog Sokrates, yang Pertama, Sokrates bertanya terus-menerus untuk menguji pendapat orang yang berdialog denganny Misalnya, jika seseorang itu bilang “keberanian berarti tidak takut apapun”, Sokrates akan tanya: “Apa jika nekat melawan buaya tanpa persiapan? Itu merupakan keberanian atau kebodohan?” ; Kedua, Socrates akan pura-pura tidak tahu agar lawan bicara berpikir mandiri dan sadar bahwa pendapatnya belum tentu benar; dan ketiga, Sokrates membantu lawan bicara “melahirkan” jawaban sendiri lewat pertanyaan terara.

Dalam konteks dialog sokrates Tujuannya memang bukan “menang” debat, tapi membersihkan pikiran dari asumsi keliru yang dianggap benar (doxa) dan menemukan pengetahuan sejati (episteme) lewat logika.

Tujuan tertinggi dari metode sokrates ini bukanlah untuk menjatuhkan lawan bicara tetapi membawanya dan diri kita juga disitu untuk sama –sama menyadari ketidaktahuan karena fokus dari dialog sokrates bukan perdebatan namun dialog dimana Dialog tidak harus menjadi perdebatan.

Semuanya tergantung pada tujuan yang ingin anda capai dan cara Anda mengejar titik akhir itu. Dialog sokrates memunculkan beberapa Tanya seperti apakah Anda berusaha menyelesaikan perselisihan atau hanya sekadar memenangkannya?;
Apakah Anda ingin membenarkan kebenaran versi Anda atau kebenaran itu sendiri? ; apakah Anda berusaha mencapai hasil terbaik yang sesungguhnya atau sekadar apa yang Anda anggap terbaik? ; atau Apakah Anda mencari pemahaman, atau ini hanya soal ego ?.

Artinya Jika Anda sungguh mencari pemahaman tentang suatu gagasan dan hasil terbaik bagi semua pihak, maka dialog bisa menjadi proses yang benar-benar kreatif. Kata Socrates kita dapat memiliki pengetahuan dan informasi tetapi itu tidak berarti Anda memiliki kebijaksanaan,dan cara untuk memperoleh kebijaksaan adalah dengan memahami ketidaktahuan kita.Oleh karena itu dialog sokrates amat berguna untuk membangun budaya berpikir yang sehat di tengah-tengah masyarakat yang seolah-oleh menyerupai pakar dalam semua bidang. Sekali lagi,tujuan dari dialog sokrates bukan untuk menjatuhkan pihak lawan tapi membetulkan ide dari pihak lawan terhadap definisi, konsep, ataupun taktis dari ide mereka sendiri.

Dialog sokrates mendorong lawan untuk tidak buta atau terlalu percaya diri terhadap ide yang mereka bawa dan sebarkan, ada contoh menarik dari dialog sokrates ini dalam dialog berjudul Euthyphro,yang mengisahkan saat sokrates membetulkan ide terhadap makna “ ketakwaan” oleh euthypro, seorang sophis yang alim di masa itu.

Jadi Euthyphro menyatakan bahwa “ketakwaan” adalah apa yang disukai oleh Tuhan-Tuhan. Tapi kemudian Socrates membalas bahwa Tuhan-Tuhan Yunani artinya akan seperti manusia, karena ada pertentangan di antara mereka, dan secara logika setiap kali ada pertentangan pastilah ada sifat “suka” dan “benci” akan sesuatu.

Menariknya Euthyphro pun setuju,kemudian sokrates menambahkan lagi jika definisi “ketakwaan” oleh Euthyphro itu sebenarnya mendekati tepat hanya saja memunculkan masalah yang jika dibuat akan dikira “bertakwa” dan “tidak bertakwa” secara serentak oleh sebagian tuhan tapi tidak dengan sebagian tuhan yang lain.

Meskipun Euthyphro, kemudian mengatakan bahawa ayat Socrates tersebut adalah salah tapi dia menyadari bahwa makna “ketakwaan” yang dibawanya selama ini adalah kurang tepat dan sangat sempit. Demikianlah bagaimana Dialog Sokratik dipakai untuk menolak pendapat pihak lawan, dengan menunjukkan kelemahan ideanya.

Namun begitu, Dialog Sokrates hanya mampu menunjukkan kesalahan lawan tanpa membawa ide tambah dalam wacana tersebut, maka perlu ada penggalian lebih dalam dari dialog yang berpola filsafat lainnya, tapi setidaknya mempelajari mendalam metode dialog ini membuat kita memiliki perbincangan yang tidak sekadar bunyi tetapi berbobot.

Exit mobile version