Site icon Baladena.ID

Benarkah Senyawa Hisperidin Mampu Menghambat Pertumbuhan COVID-19? Ini Penjelasannya

Benarkah Senyawa Hisperidin Mampu Menghambat Pertumbuhan COVID-19 Ini Penjelasannya

Pada ahir Desember tahun lalu, dunia dihebohkan kemunculan virus bernama corona virus zoonosis, dimana virus tersebut mirip dengan SARS dan MERS. Oleh WHO, virus ini kemudian disebut dengan COVID-19. Virus ini asal muasalnya dari Wuhan, China. Pada tanggal 8 Febuari 2020 di Wuhan, China lalu, setidaknya ada 33.748 orang yang positif menderita virus ini dan ada 811 orang yang meninggal sebab penyakit tersebut, hal itu terjadi di Tiongkok.

Tidak selang lama, tepatnya pada tanggal 16 Februari 2020 terjadi tren kenaikan cukup signifikan, yakni ada 70.548 orang terinfeksi virus ini. Sementara 1.770 orang meninggal di daratan China dan ada 413 orang terinfeksi di Jepang. Penyebaran virus ini sangatlah cepat, tidak perlu memakan waktu yang lama virus ini akan berkembang begitu cepat. Tidak hanya di Cina bahkan virus ini telah menyebar ke berbagai negara. Ada tiga negara dengan kasus terbesar, yakni Italia, Spanyol, dan China.

Italia merupakan negara tertinggi dalam pertumbuhan Covid-19, ada 101.739 orang yang terjangkit virus ini, 11.591 mengalami kematian, 3.981 pasien kritis, dan 14.620 pasien yang dinyatakan sembuh. SARS-CoV-2 pneumonia merupakan sebuah masalah besar yang memprihatinkan di berbagai negara. Pada tanggal 1-11 Maret 2020 di Italia telah memprediksi melonjaknya pasien sebesar 9-11% yang datang akibat penyakit tersebut, sehingga ada 1028 tempat tidur telah disiapkan untuk pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2.

Karena pertumbuhan virus ini sangat cepat maka telah diprediksi bahwa seluruh kasur yang ada dirumah sakit akan terpakai oleh semua pasien, namun mengingat jangka waktu virus yang begitu mematikan dalam hitungan beberapa hari maka dengan sangat terpaksa tim medis memilih untuk siapa yang harus diselamatkan terlebih dahulu. Spesialis perawatan intensif akan diberikan pada orang-orang yang mempunyai tingkat kemungkinan untuk bertahan hidup, sedangkan untuk pasien kritis tidak akan diberi ventilasi.

Hal itu disebabkan karena kematian pasien kritis dengan pneumonia SARS-CoV-2 yang tinggi dan waktu bertahan hidup hanya sekitar 1-2 minggu saja. COVID-19 bukanlah sebuah penyakit yang jinak, seluruh dokter dan perawat telah berusaha memerangi virus tersebut dengan sekuat tenaga. Bahkan ada juga tim medis yang meninggal karena terkena virus tersebut, sehingga tidak ada pilihan lain selain itu.

Pemerintah Italia telah menyiapkan 20.000 tenaga medis yang terdiri dari dokter dan perawat, selain itu disediakan pula 5000 ventilator untuk pasien yang datang. Di Lombardy kurangnya tempat tidur untuk pasien Covid-19 dapat diatasi dengan mengirimkan seluruh pasien yang tidak terinfeksi ke rumah sakit lain yang berada di wilayah bebas virus, supaya pasien yang lain tidak terpapar oleh virus ini.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi penyebaran virus tersebut yaitu menghindari kontak dengan orang lain dan menghindari keramaian yang ada. Bahkan pada tanggal 8 Maret 2020 Pemerintah Italia menyebutkan bahwa untuk meminimalisir suatu kemungkinan supaya tidak tertular dengan virus ini yaitu dapat dilakukan dengan cara tidak bersentuhan dengan orang yang terinfeksi.

Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk memutus tingkat sebaran virus yang ada, karena telah ada prediksi bahwa jumlah pasien yang berdatangan akan lebih banyak dari hari ke hari. Sehingga untuk memberikan perawatan yang maksimum maka diperlukan adanya bangsal dan obat yang memadai, mungkin di Indonesia hanya bisa memuat ribuan pasien untuk satu Rumah Sakit namun jika pasien yang berdatangan lebih dari angka diluar dugaan maka sangat diperlukan penanganan yang lebih mencukupkan.

Menurut Nature virus ini dinyatakan sebagai pandemi, karena sebaran penyakit Covid-19 sudah mencapai kriteria epidemiologis yang diperlukan dan pertumbuhanya tak terhentikan. Ada 100 negara yang sudah mengalami pandemi ini dan ada 100.000 orang yang dinyatakan terpapar virus tersebut. Indonesia termasuk salah satu dari negara itu, sehingga terjadinya virus ini dinegara lain yang lebih dahulu terpapar bisa dijadikan sebagai suatu pelajaran untuk bangsa ini.

Oleh sebab itu perlu adanya koordinasi dan respon global yang berguna untuk mempersiapkan sistem kesehatan yang memadai guna memenuhi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pasien yang meninggal dalam pandemi ini rata-rata berusia 81 tahun dan sebagian dari mereka mempunyai riwayat penyakit yang cukup serius, diantaranya diabetes, kanker, kardiovaskular, dan bahkan perokok.

Selain itu ada juga pasien yang mengalami riwayat penyakit gangguan sistem pernafasan akut (ADRS) yang disebabkan oleh sindrom pneumonia coronavirus maka untuk bernafas diperlukan adanya suatu alat yang berfungsi untuk membantu pernafasanya, jika tidak menggunakanya maka pasien tersebut tidak akan tertolong. Dari data pasien yang telah meninggal di Italia, didapatkan data bahwa sebanyak 42,2% berusia 80-89 tahun, usia 70-79 tahun sebesar 32.4%, usia 60-69 tahun sebesar 8,4%, usia 50-59 tahun sebesar 2,8%, sedangkan untuk usia diatas 90 tahun sebesar 14,1%.

Biasanya usia wanita yang rentan karena terpapar virus ini yaitu 83,4 tahun dan pria berumur 79,9 tahun. Maraknya wabah pandemi Covid-19 diberbagai negara telah menarik perhatian dari beberapa para peneliti yang ada, peneliti selalu mencari tau sebab dan obat apa yang mampu digunakan untuk menghambat pertumbuhan sel dari virus tersebut.

Ada juga penelitian yang meneliti tentang karakteristik patologis pasien yang meninggal karena terjadi infeksi berat yang mengganggu sistem pernafasan akut SARS-CoV- 2 oleh biopsi postmortem. Hal ini dilakukan karena pada sebelumnya ada pasien paruh baya yang dirawat pada tanggal 21 Januari 2020 sebab terkena demam, gejala lain yang dimilikinya yaitu batuk, sesak napas, dan kelelahan.

Ternyata bapak tersebut telah melakukan perjalanan ke Wuhan pada tanggal 8-12 Januari 2020, dia juga memaparkan bahwa sebelumnya pada tanggal 14 Januari 2020 ia menderita batuk kering dan menggigil ringan. Namun ia mengabaikan gejala awal yang timbul, bapak itu tetap bekerja seperti biasa dan tidak berobat ke rumah sakit terdekat.

Hingga pada ahirnya ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter pada tanggal 21 Januari 2020, hasil rontgen menunjukkan bahwa dada pria tersebut ada banyak bayangan yang tidak merata dikedua paru-parunya (apendiks p2). Sehingga dokter memutuskan untuk mengambil sampel usap di tenggorokannya. Pada tanggal 22 Januari 2020 pusat pengendalian penyakit di Beijing mengkonfirmasi hasil uji PCR real-time terbalik bahwa pasien tersebut positif mengindap penyakit Covid-19, pada ahirnya pasien tersebut mendapat perawatan intensif di bangsal isolasi dan menerima oksigen tambahan melalui masker wajah.

Pasien tersebut diberi obat interferon α-2b (sebanyak 5.000.000 unit perhari dengan takaran dua kali sehari dan dilakukan penghirupan atomisasi), lopinavir plus ritonavir (sebanyak 500 mg dengan takaran dua kali sehari per oral), floxacin (sebanyak 0,4 gr dengan takaran satu hari sekali, intravena) yang digunakan untuk mencegah infeksi sekunder. Setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit (14 hari dari gejala awal) pria tersebut meninggal karena mengalami serangan jantung mendadak, ahirnya tim medis mengambil sampel biopsi yang berupa paru-paru, hati, dan jaringan jantung dari pasien tersebut.

Ternyata setelah diperiksa secara histologi hasilnya menunjukkan adanya kerusakan pada alveolar bilateral difus dengan fibromyxoid seluler eksudat, hasil uji paru kanan menunjukkan bahwa adanya deskuamasi pneumosit dan terjadinya pembentukan membran hialin (hal itu menunjukkan adanya sindrom pernafasan akut), pada jaringan paru kiri menunjukan adanya edema paru dengan pembentukan membran hialin yang sugestif (fase awal ADRS), pada kedua paru terlihat adanya infiltrat inflamasi mononuklear yang didominasi oleh limfosit, adanya perubahan virus yang sitopatik ditunjukkan dengan adanya sel sinsitial dengan pneumosit diperbesar, dan hatinya terdapat aktivitas lobular dan portal ringan serta steatosis mikrovesikuler.

Cidera hati yang terjadi bisa disebakan karena adanya obat yang dikonsumsi pasien dalam jangka waktu ini, sedangkan pada jaringan jantung tidak menghasilkan perubahan apapun. Fitur pantologis dari Covid-19 menyerupai sindrom pernafasan SARS dan MERS yang terjadi pada beberapa tahun yang lalu. Hasil temuanya tingkat keparahan dari penyakit ini berupa limfopenia, sehingga sebelum mencapai titik kritis tersebut pasien diharapkan mendapatkan pertolongan tepat waktu dan kortikosteroid serta ditambah dengan ventilator untuk mencegah pengembangan ADRS. Penemuan ini membantu para dokter untuk merumuskan strategi terapi yang tepat untuk pasien  parah supaya mengurangi angka kematian yang ada pada suatu negara.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk melawan virus ini, namun obat yang paling efektif masih bias untuk diterapkan. Pada tanggal 17 Febuari 2020 di Tiongkok mengumumkan bahwa senyawa klorokuin fosfat dapat digunakan untuk virus ini, obat ini merupakan obat malaria yang telah digunakan sejak zaman dahulu.

Di China senyawa ini duji cobakan pada klinik multicenter dan ternyata hasilnya positif bahwa klorokuin fosfat mempunyai khasiat serta keamanan untuk digunakan dalam mengurangi kasus pneumia Covid-19. Obat temuan ini diuji pada 10 rumah sakit yang ada di Cina, yakni Shanghai, Wuhan, Beijing, Guangzhou, Jingzhou, Chongqing, dan Ningbo. Hasilnya senyawa ini menunjukkan respon lebih efektif jika dibandingkan dengan pengobatan yang menghambat eksaserbasi pneumonia, meningkatkan paru, memperpendek penyakit, dan mengkonversi virus.

Namun sayangnya tidak dicatat kerugian yang ditimbulkan dari efek penggunaan senyawa tersebut, yang dilihat hanyalah hasil ahir bahwa ada 100 pasien yang sembuh dengan obat itu. Hingga ahirnya 15 Febuari 2020 diumumkan pada publik bahwa senyawa klorokuin fosfat berpotensi untuk menghambat aktivitas dari virus tersebut, sehingga senyawa ini masuk kedalam daftar rekomendasi obat yang dapat digunakan untuk pencegahan, diagnosis, dan pengobatan pneumonia yang disebabkan oleh Covid-19.

Klorokuin fosfat merupakan salah satu obat yang sudah digunakan sejak 70 tahun yang lalu, obat ini ternyata berpotensi sebagai anti inflamasi dan anti virus. Pada zaman dahulu senyawa ini digunakan untuk mencegah bahkan mengobati penyakit malaria, obat ini berfungsi sebagai agen anti inflamasi yang dapat digunakan untuk pengobatan rheumatoid arthritis dan lupus erythermatosus.

Selain itu senyawa ini mampu digunakan untuk agen anti virus yang dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pH endosom, hal ini bertujuan untuk meningkatkan fusi virus maupun sel yang dapat mengganggu glikosilasi reseptor SARS-CoV-19. Potensi dari anti virus dan anti inflamasi inilah yang dapat menyebabkan senyawa tersebut digunakan dalam kasus pneumonia Covid-19.

Selain itu ada juga beberapa senyawa lain yang diduga mempunyai potensi untuk mencegah pertumbuhan dari virus Covid-19, senyawa ini yaitu hisperidin. Hisperidin merupakan senyawa metabolit sekunder yang termasuk dalam golongan flavonoid atau yang lebih dikenal dengan sebutan flavonon, senyawa ini dapat ditemukan pada berbagai buah, sayur, kacang, biji-bijian, dan minuman. Senyawa ini dapat menyebabkan beberapa aktivitas biologis, diantaranya dapat digunakan sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti kanker, menghambat sintesis prostaglandin, anti mutagenik, modulasi metabolisme obat enzim, dan anti pro-liferatif pada beberapa sel kanker.

Sehingga senyawa ini lebih efektif digunakan untuk terapi limfedema dari pada terapi konvensional yang telah dilakukan sebelumnya, karena senyawa ini dapat menghambat poliferasi sel kanker yang ada di payudara dan prostat dan dapat mencegah pertumbuhan tumor. Pada penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa senyawa ini dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan tumorgenesis kulit dan kersinogenesis dikandung kemih.

Salah satu buah yang mengandung senyawa hisperidin yaitu jeruk. Jeruk yang mengandung banyak senyawa hisperidin yaitu jeruk nipis, pada jeruk nipis kandungan hisperidin terbanyak dapat ditemukan di kulitnya. Jeruk mengandung asam sitrat, asam amino, minyak atsiri, damar, glikosida, asam sitrun, lemak, kalsium, fosfor, besi, belerang, vitamin B dan C.

Selain itu juga mengandung senyawa flavonoid dan saponin, senyawa flavonoid yang ada didalamnya berupa hisperidin, tangeretin, naringin, eriocitrin, dan eriocitrocid. Sedangkan untuk kulit jeruk sendiri dapat berfungsi sebagai anti oksidan, anti per-lipid, dan anti bakteri, serta dapat meningkatkan sensitifitas sel. Namun karena penelitian tentang senyawa ini hanya digunakan dalam berbagai jenis kanker (payudara, prostat, dan paru-paru), sehingga perlu dilakukan sebuah treatment yang tepat. Treatment ini dapat dilakukan di laboratorium kering, kelebihan dari kimia komputasi sendiri yaitu dapat mengetahui potensi dari suatu senyawa yang belum diketahui sebelumnya.

Metode yang digunakan untuk mengetahui potensi dari suatu senyawa dapat dilakukan dengan cara screening molekul ataupun docking molekuler. Untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan dari senyawa tersebut dalam menghambat pertumbuhan aktivitas dari Covid-19. Molekural docking sendiri tujuanya untuk memprediksi spesifikasi dan afinitas dari obat dan protein, efek obat yang baik yaitu jika obat dan protein berikatan dengan spesifikasi dan afinitas yang tinggi. Semakin negatif nilai dockingnya maka semakin kuat afinitasnya, afinitas ligan ada yang berikatan dengan reseptor.

Hisperidin mempunyai beberapa manfaat, diantaranya untuk meningkatkan imunitas, anti inflamasi, dan anti oksidan. Hisperidin mampu menghambat replikasi virus influensa A pada model sel dan hewan uji, serta pernah digunakan juga dalam beberapa uji klinis lainya. Sehingga ada beberapa kemungkinan yang terjadi, yakni bahwa hisperidin lebih mudah berinteraksi dengan virus target (jika dibandingkan dengan senyawa lopinavir dan nafamostat), senyawa itu dapat mengikat protein target dengan kuat (dari virus maupun sel inangnya), dan mampu menciptakan sebuah blokade (sehingga dapat menghambat perkembangan virus untuk menginfeksi sel inang ataupun mereplikasikan diri).

Oleh sebab itu jeruk sangat direkomendasikan supaya diteliti lebih lanjut, karena ternyata jeruk memiliki potensi menjadi bahan dasar obat yang dapat mencegah masuknya virus kedalam tubuh manusia.

*Oleh: Pratistaning Rahmawati, mahasiswi UIN Walisonhgo Semarang.

 

Daftar Pustaka

Ika (2020), Peneliti UGM Ungkap Potensi Jeruk Untuk Tangkal Corona. Diakses Pada Tanggal 17 April 2020, Pukul 14.57.

Hairunnisa et al (2019). Jurnal Ilmiah Ibnu Sina. Vol: 4, No: 2.

Liu Y, et al (2020). Journal Of Travel Medicine. 1-4.

Gao J et al (2020). Bio Science Trends Advance Publication. DOI: 10.5582/bst.2020.01047.

Remuzzi Andrea dan Gluseppe (2020). Health Policy. Lancet 2020, 395: 1225-28.

Xu Z et al (2020). Lancet Respir Med 2020; 8:420-22.

Visnagri A et al (2014). Pharmaceutical Biology Informa Health Care.

Ahmad ST et al (2012). Toxicology Latters 208. 149-161.

Lee CJ et al (2010). Phytotherapy Research. Res. 24: S15-S19.

Kamaraj S et al (2009). Invest New Drugs. 27: 214-222.

Exit mobile version