SEMARANG – HMI Korkom Walisongo Semarang mendukung sikap kritis Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) kepada Presiden Republik Indonesia Jokowi. Halimah Sa’diyah, Ketua Umum HMI Korkom Walisongo, menganggap bahwa kritik merupakan bagian dari wujud cinta tanah air mahasiswa.
“Mahasiswa, yang mengaku cinta tanah air, sudah selayaknya mengingatkan dan mengkritik pejabat terkait. Ingat yah, kritikan dan hinaan itu berbeda. Kritikan itu megarah kepada kinerjanya, sementara hinaan mengarah kepada fisiknya,” tanggap Halimah.
Sebelumnya, melalui akun instagram @bemui_official, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) mengupload poster yang bertuliskan foto Presiden Republik Indonesia Jokowi dengan julukan “The King of Lip Service”. Konten ini pun seketika menjadi viral dengan berbagai tanggapan para netizen.
Pihak Rektorat Universitas Indonesia ikut menanggapi konten tersebut. Melalui surat nomor 915/UN2.RI. KMHS/PDP.00.04.00/2021, BEM UI diundang oleh pihak rektoratnya untuk memberikan klarifikasi postingan viral yang dilakukan oleh BEM UI tersebut. Dalam agenda klarifikasi tersebut, Ketua BEM UI Leon mengakui bawah pihaknya diminta takedown konten yang berisi kritikan kepada Jokowi tersebut.
“Kemarin baru minta klarifikasi dari rektorat ke BEM. Sama tanya apakah bisa di-takedown, dan akan bahas kelanjutannya sesuai peraturan Universitas,” terang Leon saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin (28/6/2021).
Namun, Leon mengatakan bahwa dalam pertemuan itu, pihaknya menolak permintaan untuk menghapus unggahan terkait kritik kepada Jokowi tersebut.
“Kita menolak,” tulisnya singkat.
Penolakan BEM UI untuk menghapus konten yang mengkritik Jokowi tersebut juga didukung oleh HMI Korkom Walisongo. Fajri Rafly, Sekretaris Umum HMI Korkom Walisongo, membenarkan sikap BEM UI untuk tidak menghapus konten yang mengkritik Jokowi tersebut.
“Sudah benar. Konten tersebut menyajikan fakta. Ada pernyataan yang pernah dilontarkan Pak Presiden, tapi ternyata tidak sesuai dengan realita. Maka, layak pernyataan seperti itu hadir,” ucapnya.
Tidak hanya itu, tindakan rektorat UI dinilai oleh HMI Korkom Walisongo sebagai bentuk pembungkaman ekspresi kebebasan berpendapat. Ketua Umum HMI Korkom Walisongo menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi ruang intelektual untuk menyuarakan kebenaran.
“HMI Korkom Walisongo menyayangkan atas hilangnya demokrasi di kampus UI. Civitas akademika, termasuk rektor, seharusnya menjaga mimbar akademik dengan memberi kebebasan ruang intelektual agar tetap bersuara dan berpihak pada kebenaran,” tegas Halimah perempuan asal Semarang tersebut.

