Site icon Baladena.ID

Belajar dari Sang Ratu

Ratu Balqis adalah salah satu perempuan yang kisahnya diabadikan dalam al-Qur’an. Menilik lebih jauh dalam kisah tersebut, ia adalah seorang perempuan pemimpin hebat pada zamannya. Ratu Balqis bukanlah sembarang perempuan, ia keturunan raja masyhur dan menjadi satu-satunya pewaris tahta kerajaan. Ia dikenal sebagai pemimpin yang demokratis atas sikapnya yang selalu sering mengajak rakyatnya berdiskusi dan berpartisipasi terkait penyelesaian persoalan kemasyarakatan dan kenegaraan. Salah satu contohnya adalah ketika mengambil keuputusan terhadapan balasan surat untuk Nabi Sulaiman. Dalam QS An-nahl ayat 32, dijelaskan bahwa Ratu Balqis mengumpulkan para pembesar kerajaan untuk membahas balasan apa yang harus ia tulis untuk Nabi Sulaiman. 

Al-Qur’an surah al-Nahl: 32

قَالَتْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمَلَؤُا۟ أَفْتُونِى فِىٓ أَمْرِى مَا كُنتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّىٰ تَشْهَدُونِ

“Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”.

Dalam tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab, ayat tersebut menggambarkan betapa Ratu Balqis begitu arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Ia memilih untuk bermusyawarah dengan rakyatnya daripada menggunakan kekuasaanya sebagai ratu untuk langsung menentukan pilihannya.

Setelah melakukan musyawarah dengan para pembesar kerajaan yang menghasilkan bahwa balasan atas surat tersebut adalah peperangan, dengan segala pengetahuannya Ratu Balqis memilih membalas surat tersebut dengan Bahasa yang lembut serta memberikannya hadiah. Sungguh contoh yang harus dicontoh oleh pemimpin dizaman ini untuk tetap mengontrol emosi ketika mendapat perlakuan yang dirasa tidak baik.

Walaupun dalam tafsiran al-Thabari yang mengatakan bahwa Ratu Balqis berlaku demikian karena surat yang diterima dikirim oleh Nabi Sulaiman, seorang raja dari negeri seberang yang kekuasaanya tak diragukan lagi. Namun hal tersebut tentu tak mengurangi eksistensi seorang Ratu Balqis dalam memberikan contoh sebagai pemimpin yang demokratis.

Kepemimpinan Ratu Balqis dalam al-Qur’an menjadi contoh nyata bagi para perempuan untuk bergelut di dunia politik. Pemimpin tidak lagi ditentukan oleh perbedaan gender, namun bagaimana kualitas dari masing-masing seseorang.

Perempuan dan politik, dalam pandangan steorotip masyarakat adalah dua hal yang bertentangan. Bukan hanya adari faktor eksternal, faktor internal yang ada dalam diri perempuan mengenai politik menjadi salah satu penyebab kurangnya sumbangsih perempuan bagi dunia politik. Kebanyakan perempuan tentu tidak tertarik dengan dunia politik karena politik selalu digambarkan dalam bentuk maskulin yaitu keras, rasional, kompetitif, tegas, bahkan sering digambarkan serba kotor dan menakutkan, sehingga hanya pantas disandingkan dengan dunia kelaki-lakian. Berbeda dengan ranah domestik atau rumah tangga yang selalu dikarakterkan dengan feminimitas yaitu lembut, emosional, pengalah, dan penurut.

Hal tersebut menggambarkan seakan perempuan adalah makhluk yang memang diciptakan hanya auntuk mendapat tugas dalam ranah domestik, baik sebagai anak, istri, atau ibu. Apalagi dengan randahnya kualitas pendidikan politik di negara ini, maka tak heran jika jarang sekali ada perempuan yang berambisi untuk berebut kekuasaan sebagai sang penentu kebijaksanaan. Padahal roda kehidupan ini diatur oleh hukum yang seharusnya diputuskan oleh laki-laki dan perempuan dengan persfektif dari kedua belah pihak sehingga tidak ada yang merasa dirugikan, tidak dihargai dan bisa terpenuhi antara hak dengan kewajiban.

Ada satu hal lagi yang menjadi penghalang bagi perempuan dalam mengayomi dunia poltik, yaitu pandangan masyarakat terhadap perempuan yang memenuhi tiga aspek perilaku politik yaitu kemandirian, kebebasan berpendapat dan memiliki tindakan yang agresif, dipandanga sebagai perempuan yang tidak ideal. Berbanding terbalik dengan sifat-sifat perempuan, dalam fikiran masyarakat, yaitu lemah, menjadi beban dan hanya sebagai objek seksualitas untuk memenuhi hasrat laki-laki.

Namun hari ini, zaman telah berubah. Para penggagas feminimisme dan kesetaraan gender benar-benar berusaha memberikan presfektif bagi dunia politik dari sisi feminitas. Ciri-ciri kekuasaan tidak lagi harus bertolak belakang dengan sifat-sifat feminism. Sebaliknya, dunia politik terasa lebih hidup dan kaya akan karakter sehingga akhirnya laki-laki menghargai perempuan sebagai mitra, bukan sebagai musuh.

Ini menjadi wajah baru bagi dunia poltik, karena konsep kekuasaan yang dibawakan perempuan merupakan kekuasan yang penuh dengan kasih sayang juga arif dan bijaksana, sebagaimana Ratu Balqis memimpin kerajaannya di Negeri Saba’. 

Inilah waktunya bagi perempuan untuk ikut terjun mengurus politik di negeri tercinta untuk berbagi peran demi Ibu Pertiwi. Sebagai perempuan muslim, semestinya kita perlu banyak belajar spirit dan gaya kepemimpinan dari Ratu Balqis. Ini adalah kesempatan emas untuk terus mempertahankan derajat dan kehormatan perempuan di ranah domestik maupun publik.

Exit mobile version