Site icon Baladena.ID

Bebas Dari Toxic Parenting : Langkah Awal Pembentukan Konsep Diri Remaja

Nama : Aulia Dwi Lestari, Peserta LKK HMI Cabang Bogor 2024 asal Cabang Karawang

Hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada Oktober 2022 menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja berusia 10-17 tahun di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Jumlah ini setara dengan 15,5 juta remaja di Indonesia.

Masa remaja adalah fase perkembangan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pada tahap ini, remaja mengalami krisis identitas yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik, emosional, dan sosial. Lingkungan keluarga, khususnya orang tua, memegang peranan penting dalam pembentukan konsep diri remaja. Gaya pengasuhan yang diterapkan orang tua menjadi pondasi bagaimana seorang anak berkembang di masa depan.

Toxic parenting mengacu pada pola asuh orang tua yang memberikan dampak negatif terhadap anak, baik secara verbal, nonverbal, maupun fisik. Menurut Forward & Buck (2002), toxic parenting sering kali terjadi dalam sebuah “siklus kehidupan” yang terus berulang di generasi berikutnya. Dampaknya bisa sangat panjang, terutama pada kesehatan mental anak, karena dapat menyebabkan trauma yang sulit diatasi.

Sebagai lingkungan pertama tempat anak bertumbuh dan berkembang, orang tua seharusnya menjadi sumber rasa aman. Namun, toxic parenting justru memberikan efek sebaliknya.

Toxic parenting dapat dibagi menjadi tiga jenis:

Pertama, kekerasan fisik seperti memukul, mencubit, menampar, atau mendorong anak. Dampaknya adalah anak merasa takut dan tidak nyaman di rumah, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan utama.

Kedua, kekerasan verbal. Bentuknya dapat berupa kritik berlebihan atau negatif, seperti menghakimi dan mencemooh anak. Dampaknya adalah anak kehilangan rasa percaya diri dan cenderung merasa tidak pernah cukup baik.

Ketiga, kekerasan emosional. Bentuknya dapat berupa sulitnya mengapresiasi keberhasilan anak, tidak memberikan dukungan atas minat atau keinginan anak. Dampak adalah anak merasa tidak dihargai, kesepian, dan kehilangan motivasi untuk berkembang.

Toxic parenting memiliki dampak yang besar terhadap pembentukan konsep diri remaja. Oleh karena itu, orang tua harus menghindari perilaku-perilaku negatif dan lebih berfokus pada menciptakan lingkungan keluarga yang aman, penuh kasih sayang, dan mendukung perkembangan anak. Dengan begitu, anak dapat tumbuh menjadi individu yang percaya diri, mandiri, dan memiliki kesehatan mental yang baik.

Exit mobile version