Site icon Baladena.ID

Bagaimana Kabar Pertanyaanku?

 

“Kehadiranmu selalu melukiskan cerita baru. Cerita yang bukan hanya sekedar cerita. Cerita mampu membuatku bertolak untuk menjadi lebih baik dalam menjemput serta meyambut masa depan.”-Rangkaian Kata Dalam Bentang Jarak, Aina Fahma

Derap kaki terdengar kencang di lorong-lorong kelas, pemilik kaki itu tersengal di depan salah satu kelas . Setelah nafasnya mulai teratur ia mengetuk pintu tak ada respon dari dalam. Ia mengetuk kembali pintu coklat di hadapannya, kali ini lebih keras dari sebelumnya dan tetap tak ada jawaban. Tak biasanya dosen hari ini tak membukakan pintu saat mahasiswanya telat. Tangannya merogoh ponsel di tote bag di bahu kirinya. kecurigaannya benar, ia lupa jika kelas kali ini ternyata libur. Dengan langkah gontai, ia berbalik arah menuju tempat yang sering ia gunakan untuk menekuni hobi-hobinya.

Ia memilih duduk di bawah kanopi yang menutupi kursi. Sebenarnya, hari ini ia hanya ada satu mata kuliah yang ternyata libur, tapi ia malas kembali ke rumah. Meletakkan tas dan minuman dingin yang ia beli saat menuju ke tempat ini. Tangannya kembali mengambil buku yang ia bawa agar bisa dibaca kapanpun ia mau.  Selembar kertas jatuh ke tanah bersamaan dengan keluarnya buku yang ia ambil. Tangan kanannya memungut kertas tersebut dan air mukanya terlihat sedikit membaik dari sebelumnya.

Aila, begitu teman-temannya menyapa. Gadis yang selalu menebar keceriaan untuk orang di sekitarnya. Aktivis cantik juga aktif di salah satu komunitas menulis di kotanya. Gadis pemillik lesung pipi dan gigi gingsul itu sedang menempuh pendidikan strata satu jurusan komunikasi di salah satu kampus ternama di Semarang.  Hingga saat ini, Aila masih bingung mengapa ia bisa ada di tempat ini.

Berawal dari keisengannya memilih kampus saat mendaftar kuliah melalui salah satu jalur masuk perguruan tinggi, membuat Aila harus berjuang menguatkan hati dan pikirannya. Sebagai satu-satunya anak perempuan dari tiga bersaudara sekaligus anak terakhir, Aila terbiasa hidup berdampingan bersama orang tuanya sejak kecil. Meskipun berat, Aila yang selalu dibantu oleh kedua kakaknyapun mampu bertahan.

Hari-hari sukar masih sering mendatanginya. Meskipun begitu, semuanya tetap bisa berjalan dengan baik. Saking baiknya terkadang membuat Aila terlena. Sebelum masuk ke berbagai komunitas yang menunjang skillnya, Aila adalah mahasiswa yang hanya kuliah kemudian pulang. Sangat tidak produktif. Selain menjadi mahasiswa kupu-kupu, Aila juga tak serius menekuni kuliah di semester awal dan akhirnya ia mendapat ip kurang dari 3,50. Aila sadar ia sudah mengecewakan seluruh keluarganya.

Setelah mendapat cambukan keras di semester awal Aila berjanji untuk serius kuliah. Aila pun tertarik ikut menjadi salah satu kader di organisasi mahasiswa. Tak hanya itu, Aila juga mengikuti komunitas menulis untuk sekadar menekuni hobi lamanya dalam dunia tulis menulis. Grafik kehidupan Aila semakin berubah lebih baik.

Aktivitas baru tentu membuat Aila semakin banyak teman, baik laki-laki maupun perempuan. Sekian banyak teman, Aila penasaran pada salah satu temannya. Laki-laki yang tak banyak bicara, begitu kesan pertama Aila.  Aila tak pernah memiliki keberanian untuk menyapanya. Meskipun Aila adalah gadis yang banyak bicara, tapi ia tak pandai membuka pembicaraan dengan orang yang baru ia kenal.

Laki-laki itu terlihat biasa saja, tapi hari kian bertambah menjadi bulan dan intensitas pertemuan semakin bertambah membuat pandangan Aila berubah. Laki-laki yang terlihat sederhana itu terlihat istimewa. Meskipun bicaranya masih irit, tapi jika sudah berbicara, maka semua orang akan memperhatikannya.

Aila tahu ada sisi yang lain dari laki-laki tersebut. Laki-laki itu Syauqi An-Najmi, Laki-laki yang beberapa bulan terakhir ini sudah membersamainya. Najmi yang lebih suka memanggil Aila dengan nama Lail adalah pemerhati hal-hal kecil yang Aila lakukan.

Mengenal laki-laki itu membuat Aila tertantang untuk belajar lebih serius demi masa depannya. Najmi membawa energi positif dalam kehidupan Aila. Mereka saling mendukung satu sama lain dengan melakukan sebuah permainan yang memacu mereka mejadi lebih baik dan menghilangkan kebiasaan buruk mereka.

Melihat kertas surat di tangannya membuat ia teringat akan pertanyaan yang ia tulis dalam suratnya. Aila meraih ponselnya, membuka aplikasi dengan ikon berwarna hijau dan mengetik nama Najmi.

“Sudah baca suratku? Jika sudah, apa kamu ada niatan untuk menjawabnya?” Tulis Aila tanpa basa-basi.

Sembari menunggu jawaban, Aila membaca buku yang ia ambil dari tasnya. Kali ini Aila tak membaca buku Tere Liye, Aila sedang fokus mengulas materi mata kuliah psikologi perkembangan untuk persiapan kui esok pagi.

Hingga ia selesai membaca bab kedua, Najmi belum juga membalas pesannya. Aila kesal, ia pun menutup buku dan memasukkannya dalam tas lalu menuju parkiran untuk mengambil motor. Aila sudah tidak ada acara lagi memutuskan untuk pulang.

Sampai di kamar, Aila membuka ponselnya dan terlihat ada notifikasi pesan balasan dari Najmi.

“Sudah” Tanyanya singkat

“Lusa ada acara? Jika tidak, saya tunggu di Taman Batu pukul 09.00.” Lanjutnya

“Iya.” Balasku jengkel

Setelah mengirimkan balasan, Aila beranjak dari kursi belajarnya untuk berganti pakaian.

 

Oleh: Eine Kluge Frau

Exit mobile version