
Faktor hidup hedonisme ini dipengaruhi oleh beberapa hal misalnya pengaruh keluarga atau teman, faktor bacaan, tontonan dan lain sebagainya. Walaupun tak selamanya hedonisme bermakna negatif, akan tetapi karena pemahaman seseorang yang lebih berorientasi mengedepankan kebahagiaan dan mengutamakan kesenangan semata, maka hal tersebut menyebabkan adanya pandangan negatif. Contohnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup, seorang mahasiswa lebih memilih Booking Out untuk memenuhi kebutuhan dan memperoleh kenikmatan duniawinya saja. Ada juga seseorang itu lebih memilih untuk menghamburkan uangnya demi memperoleh kesenangan sesaat, atau seseorang menggunakan uangnya untuk membeli pakaian yang tidak berlandaskan kebutuhan dan fungsinya, akan tetapi untuk kesenangan saja. Gaya hidup sepeti itu dapat mengakibatkan seseorang mencintai dirinya terlalu berlebihan, sehingga ia akan hidup individual dan tidak perduli sekelilingnya (egoisme) dan menimbulkan sikap materialis, ia beranggapan bahwa harta benda merupakan tujuan hidup serta dapat menjurus kepada seks bebas.
Sejatinya, paham hedonisme sangat bertolak belakang dengan akhlak yang diajarkan Rasulullah kepada kita, yaitu gaya hidup sederhana dan zuhud. Hal itu diperparah oleh fakta bahwa sebagian muslim sendirilah pelakunya. Muslim sendiri yang mengaku anti westernisme malah tanpa sengaja maupun tidak sengaja telah mengikuti dan memuja hedonisme yang merupakan produk globalisasi westernisme. Maka tak heran di negara Indonesia yang mayoritas Islam sangat banyak menerapkan paham hedonisme dalam hidup mereka. Mereka berkedok bahwa hedonisme merupakan hal yang harus dilakukan karena tuntutan dan perubahan zaman. Pencurian, penipuan, pergaulan bebas, korupsi, kolusi, nepotisme, anarkisme, individualisme, materialisme merupakan bagian kecil dari gaya hidup hedonis.
Nah, agar terhindar dari gaya hidup hedonis, maka perlulah mengantisipasinya dengan cara meneladani dan mengaplikasikan akhlak Rasulullah yang sederhana dan zuhud, memilih barang sesuai kebutuhan agar tidak terjebak dalam konsumerisme, dan adanya kedewasaan berpikir untuk membentengi diri dari pola hidup hedonisme, serta sadar akan dampak buruk yang timbulkan dari hedonisme. Berdasar kehidupan Rasulullah yang diselimuti oleh kesederhanaan hidup, maka sudah seharusnya menjadi bahan refleksi agar kita bisa meneladani salah satu sifat mulianya itu. Hal itu sangat penting kita jadikan teladan dan kita tanamkan dalam hati agar tidak terjebak dalam pola hidup hedonis yang menganggap bahwa kesenangan dunia merupakan akhir dari tujuan hidup. Untuk itu Hiduplah sederhana jangan memperbanyak gaya ketimbang daya. Ingat! Nabi kita pedagang, sedangkan kita pemalas. Nabi kita zahid dengan menghabiskan hartanya untuk dakwah, sedangkan sebagian besar kita mengklaim zahid karena miskin dan banyak juga yang menjadikan dakwah untuk kaya dan hidup mewah. Nabi kita melakukan rasionalisasi kepada umat, tetapi sebagian kita justru sebaliknya, menjadikan agama ini sebagai alat untuk membuat umat bergumul dalam takhayyul, begitulah pesan Abah nasih kepada para Disciples Monash Institut ini bahwa kita tidak boleh hanya mengandalkan orang tua. Kita tidak tahu usia orang tua kita sampai berapa, mau sampai kapan minta transferan? harus mulai mandiri. Kalo kita bukan dari keluarga kaya maka kerja keras kita harus sampai 150 kali lipat agar hasil yang kita peroleh bisa maksimal.
