Site icon Baladena.ID

Badai Puan Telah Berlalu

Akhir-akhir ini, aku sering menghabiskan beberapa waktu luang untuk sekadar berselancar di internet. Mulai membaca Twit-twit yang nyeleneh dari netizen Indonesia, juga menonton beberepa short movie yang sedang menjadi perbincangan dunia maya.

Setelah beberapa waktu mondar-mandir dan berselancar di Youtube, aku menemukan sebuah lagu yang nyaman di dengar telinga. Lagu tersebut berjudul “Sampai Jadi Debu“. Lagu ini sendiri dinyanyikan oleh grup musik Bandaneira.

Selain menyajikan perpaduan alat musik yang luarbiasa merdu, diiringi dengan suara dua vokalisnya yang asoy geboy, membuatku sejenak bernostalgia dengan seseorang yang telah dipanggil oleh Tuhan terlebih dahulu.

Iseng-iseng aku menampilkan kolom komentar yang ada. Dan betapa kagumnya diri ini menemukan beberapa komentar netizen yang bisa membuatku berkaca-kaca. Salah satunya komentar dari akun Youtube Arifianto Indrawan.

Tulisan tersebut akan saya tuliskan ulang, dengan beberapa perbaikan dan sedikit penyesuaian tanda baca agar pembaca lebih mudah mencerna makna yang terkandung di dalamnya. Selamat membaca.


Awal Januari lalu, aku pulang ke rumah. Selepas subuh, aku telah tiba. Hujan deras menyambut. Kuketuk pintu belakang. Alhamdulillah, bersyukur masih seperti dulu keadaan, melihat orang tua yang masih sehat, meski sudah memasuki usia senja, senyum mereka menyapa,

Hmm…Pagi yang terlalu sempurna untuk jiwa yang merindukan tempat bernaung. Bunga-bunga di depan rumah bermekaran digelayuti sisa sisa hujan, entah mengapa rasanya inginku abadikan momen itu, dengan penambahan latar lagu ini.

Beberapa hari libur serasa cepat berlalu, aku harus kembali lagi berkutat dengan pekerjaan. Aku berpamitan, memohon doa darinya, dan tetaplah sehat. Baik-baiklah dari penjagaan Sang Maha Kuasa.

Awal Bulan Februari, di sebuah Minggu pagi, telfonku berdering. Kabar duka terdengar di seberang sana. Ayahku meninggal. Beliau tiada, seakan semuanya berhenti begitu saja. Hati serasa dipatahkan. Getir namun nyata, kenyataan yang harus aku hadapi, secepat inikah semua seperti mimpi…

Aku akan pulang, Pak. Tak perlu menunggu aku, jarak dan waktu yang harus ku tempuh tak memungkinkan jasadmu menunggu. Segerakan saja pemakaman…

Sepanjang perjalanan pulang lagu ini tak henti membuat otak ku menampilkan deretan kisah balik ratusan momen terlewati sudah.

Yang kini ada dibenakku, “Apakah uang bisa mengembalikan momen yg terbuang ketika aku merantau?”

Apakah seharusnya aku mampu menyanggupi permintaan permintaan kecilnya jika aku mendampinginya di rumah ?

Apakah aku cukup membuatnya bahagia hingga akhir hayatnya ?

Pertanyaan yang harusnya aku tahu jawabnya…

Jasadnya pun tak sempat aku lihat untuk terakhir kalinya…
Sesampainya jam 10, malam itu juga kudatangi tempat tidurmu.
Dengan penerangan seadanya , kudapati gundukan tanah merah. Sedikit basah, hujan telah mengguyurnya sejak sore.

Didalam dingin, Pak ? 😢
Di pusara ini semua berakhir. Semua perkara dunia terlepas sudah, tanggung jawab seorang ayah kini berpindah, tenanglah di sana, Pak. Kini hanya doa, media kita bicara.

Kepada-Mu Sang Maha Pengampun, aku titipkan Doa. Ampunilah segala kesalahannya sewaktu hidup, jadikan setiap perbuatan baik menjadi jalan terang baginya untuk menggapai ridhoMu, biarkan beliau memasuki surgaMu dari pintu mana saja yang beliau inginkan…

Badai tuan telah berlalu…
Beristirahatlah, Pak…

Exit mobile version