Site icon Baladena.ID

Azka : Prolog

Cempaka Putih, 18 Oktober 1945

Bumiputra senantiasa dalam hegemoni elok kesejahteraan. Dapat ditilik dari mentari raksasa yang menyiram kulit eksotis pribumi dengan cahaya emas ciamiknya. Jakarta sedang ramai, masyarakat setempat tengah berlalu-lalang di jalan raya Ibu Kota begitu cekatan. Becak, bemo, mobil, bahkan beberapa dari mereka lebih memilih untuk berjalan kaki menuju tempat mereka bekerja. Berpacu dengan waktu demi memperoleh secuil konsumsi untuk perut, untuk keluarga tercinta yang tengah menanti di rumah.

Masih terasa segar huru-hara kemerdekaan di kota ini, semenjak Bung Karno menggemparkan Nusantara dengan naskah proklamasi yang beliau deklarasikan kepada dunia. Agustus membara, aku menjulukinya. Merepresentasikan semangat nasionalisme para pejuang Tanah Air yang kadung bertaruh dengan jiwa dan raga mereka, sehingga enggan mereka menunda barang sebentar. Akhirnya, Indonesia merdeka jua.

Kini, sang proklamator tengah menjajaki kursi kekuasaan tertinggi di Indonesia, Bung Karno sebagai presiden, dan Bung Hatta sebagai wakilnya, sebagaimana mufakat riil dari sidang terakhir PPKI dua bulan silam. Hadirnya menteri-menteri di Indonesia, memberi secercah harapan akan melejitnya nama Indonesia menuju dunia, terutama dalam faktor perekonomian dan manufakturnya. Melimpah ruahnya sumber daya alam Indonesia yang berkualitas tinggi dapat dimanfaatkan sebagai komoditi ekspor utama untuk memapah negeri ini menuju kemajuan.

Di tengah roda perekonomian Jakarta yang sangat sibuk, masih dengan panas terik matahari di dirgantara, seorang pemuda berkulit putih, kekar badannya, memasuki jalan utama pemakaman kota sembari membawa seikat bunga melati di tangannya. Langkah demi langkah gagah berpijak pada ratusan blok paving. Tak gentar, lurus lugas pandangan matanya, lantas berbelok ke arah kanan, dan terhenti di samping sebongkah nisan bersalibkan beton.

Perlahan, ia dekatkan badannya ke arah salib itu, mengecupnya, mendekapnya. Lebih dari satu menit ia bertahan dengan posisi seperti itu. Diakhiri dengan senyum sedikit pelik yang terlintas di bibir tipisnya, bergetar, hanya satu kata yang dapat terucap darinya,

“Bapak..”

***

Azka namanya, seorang bocah blasteran lokal dan Belanda. Tidak eksotis, malah berkulit putih kemerah-merahan, mengikuti genetik parental Bapak kandungnya. Mata birunya indah, wajah selaras dengan ibu yang berkelahiran Jakarta. Berambut pirang, bibirnya pucat, tidak seranum bibir penduduk asli Nusantara. Walau bukan pribumi seutuhnya, tidak menutup kemungkinan bagi sikap nasionalisme lenyap begitu saja dalam jiwanya.

Berlatar belakang nasrani absolut, menjadikan keluarganya jemaat kristen yang alim dan patuh. Bahkan Bapak dan ibunya adalah pegiat di salah satu gereja simalungun di daerah Cempaka Putih. Dengan mengikuti langkah Bapaknya yang tengah menyandang titah sebagai putra altar oleh pastor setempat.

Kemarin, Azka baru saja mengecat ulang tembok kamarnya dengan warna merah putih, ditambah dengan simbol burung garuda cukup besar yang terpaku tepat di atas ranjangnya berkuasa. Tidak cukup dengan itu, bahkan lemari berukuran besar di kamarnya didominasi oleh setelan merah putih. Nasionalisme Azka telah mengakar hingga menyentuh setiap sudut kamar pribadinya.

Petang ini, Azka tercenung menatap tiang bendera yang terpancang di halaman depan rumahnya, di mana bendera merah putih bebas berkibar bersama sepoian angin ia bermain, juga apit-apit liar yang kerap bersimpang siur di hadapan, sesekali bertengger di dahan pohon mangga yang tertutup rembusai daun lebatnya. Betapa bangganya Azka, bisa hidup di negeri yang penuh dengan keindahan. Indah alamnya, indah budayanya, juga indah sikap penduduknya.

Masa kelam Bapak Azka terukir sebagai seorang kompeni Belanda yang gagah dan baik hatinya, sehingga memungkinkan baginya untuk meminang gadis penglaju ketoprak cantik kelahiran Jakarta. Menurutnya, kemanusiaan berada jauh di atas emas, pewarta rahayu, dan keagungan yang merupakan motif utama bangsanya menjajah Nusantara. Bertekad kukuh untuk membangun rumah tangga di negara jajahan, akhirnya ia berhasil membeli sepetak rumah di daerah Rawasari. Tempat keluarga Azka hidup dalam damai.

“Ini kopi luwak untuk Bapak, juga bakwan untuk Bapak dan Azka,” tutur ibu Azka yang sekonyong-konyong datang dari dalam rumah, sembari menaruh sepiring bakwan hangat di meja depan, untuk mereka.

“Terima kasih, sayang,” sahut Bapak Azka tulus, dibalas dengan gelak kecil dari ibunya. Kepala Azka menggeleng, sebelum tersita dengan sepotong bakwan hangat prakarsa tangan ibu yang ajaib.

“Seperti itu kisah pertemuan antara aku dan ibumu, Azka. Banyak yang harus dikorbankan di jalan suci ini, termasuk dengan ketoprak sedap ibumu yang pernah diambang rugi dalam sekejap tersebab kedatanganku,” jelas Bapak, menyeruput secangkir kopi luwak masih berasap. Menilik Azka yang masih antusias menyimak kisahnya, Bapaknya kembali melanjutkan.

“Kami sempat berseteru tentang kerugian ini. Terpaksa aku harus mengambil jarak darinya, namun tidak selamanya. Hati Bapak terketuk untuk menyuarakan pesan kebaikan dengan memanfaatkan peranku sebagai putra altar di gereja kecil dekat desanya. Usai dengan perayaan misa, waktu yang tepat bagiku untuk menyuarakan tentang dahsyatnya toleransi di atas altar,” Bapak berhenti sejenak.

“Lantas, apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Azka bingung.

“Sebagaimana ramah tamah Indonesia yang sudah membudaya, dengan mudah mereka menerima keberadaanku di antara mereka. Yang silam, biarlah hilang terluput gemerlap malam. Gereja kecil itu menjadi saksi bisu akan sumpah suci akan cinta yang pernah kami langitkan. Sejauh ini, Bapak tidak mencium adanya kendala serius dalam hubungan harmonis kami.”

Bapak kembali menyeruput kopi luwaknya hingga tetes terakhir, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya, masuk ke rumah dengan niat untuk menambah secangkir kopi lagi kepada istrinya. Azka kembali termenung, mencoba merenungkan maksud dari hikayat singkat Bapak tadi. Sepelemparan batu dengan pemikirannya, bahwa toleransi itu menjelma kekuatan kayu dalam merakit sebuah sampan menuju haribaan welas asih Tuhan.

Ya, benar-benar indah jika segala perkara dirundung manisnya buah toleransi. Andai saja kenyataan tidak senahas ini. Sebetulnya, siapa yang salah?

***

“Woi, si pucat datang, si pucat datang!” pekik beberapa murid di kelas 5A, kelas Azka, membuatnya tertunduk takut. Sudah menjadi rutinitas harian bagi Azka untuk tercaci maki tersebab rupa dan ras yang sangat minoritas. Sambil melilau sekeliling. Sunyi, tiada pihak yang hendak membela barang seseorang. Apa boleh buat, ia terus melangkah masuk ke dalam kelasnya.

Wajah sumringah licik mereka tampak mengintip Azka dari balik transparannya jendela kelas, banyak air muka mengejek bersitatap dengan wajah melasnya. Sebelum pintu kelas yang tertutup setengah Azka sibak perlahan.

GEBYURR

Hening sejenak, seiring dengan basah kuyupnya tubuh Azka oleh seember air yang ditaruh di atas pintu kelasnya tadi. Tiba-tiba gelak tawa menggema keras, seraya menyudutkan mental Azka. Sorak sorai hina mereka menggaungi gedung sekolah. Tidak secara langsung mengundang guru BK yang kebetulan lewat.

“Hei! Jangan ribut-ribut sendiri di kelas!” ujar Pak Tanto, guru BK yang murka, tebersit merah padam di wajah seramnya. Melihat Azka dalam keadaan basah, juga ubin kelas yang senasib, menambah merah wajahnya semakin kentara.

“Hei, bocah bule! Apa yang telah kau perbuat?” tanya Pak Tanto mengintimidasi. Azka tertegun saking takutnya.

“Dia habis main air, Pak,” tukas Andi, teman sekelas Azka yang populer karena penindasannya yang kejam terhadap kaum lemah. Azka menatapnya panas, lalu menyangkal komentar Andi.

“Tidak, Pak. Andi berbo-“

“Bule selalu menjadi dedengkot permasalahan di dunia. Bereskan sampai tuntas, sebelum saya jemur kamu di tengah lapangan, segera!” Pak Tanto menggertak Azka yang kemudian mengangguk kaget.

Senyum sinis terpasang di wajah guru BK itu saat pergi meninggalkan ruang kelas 5A dalam sepi. Gesekkan pel dengan lantai seraya mengusir air-air penuh penghinaan keluar dari ruang kelas yang senasib, lalu pergi ke kamar mandi untuk membilas lapnya.

Mata pelajaran pertama dimulai dengan bimbingan konseling yang langsung diajar oleh Pak Tanto. Jejak kakinya berbunyi nyaring karena alas sepatu pantofel hitam mengkilap bergesekkan dengan ubin suci yang baru saja di pel oleh cleaning service sekolah. Gagang pintu yang masih basah tersentuh oleh tangan Pak Tanto, tanpa sepengetahuan Azka yang tadi membersihkan.

“Hei, bule biadab! Mengapa kau juga tidak membersihkan gagang pintunya? Masih ingat dengan peringatanku tadi?” tanya Pak Tanto kembali menakut-nakuti Azka. Teringat jelas perintah Pak Tanto kepadanya barusan, namun lagi-lagi, semua itu di luar sepengetahuan Azka.

“Ha, lupa? Baiklah, hormat kepada sangsaka merah putih sampai jam pelajaran saya selesai. Paham?” Pak Tanto kembali mengintimidasi, rasis. Azka berjalan menuju lapangan sekolah dengan kepala tertunduk pasrah. Pak Tanto menyaksikan Azka yang tengah berjalan dengan tatapan benci. Jauh dari kelas, sehingga sorak sorai di kelasnya tak lagi terdengar.

Sang mentari belum menunjukkan panasnya yang membakar, sehingga Azka masih bisa menikmati cahaya itu sebagai penguat jiwa raganya. Badannya tegap, tangan kanan terangkat gagah bertahan pada posisi hormat paripurna. Tiada rasa ragu dalam nuraninya, malah mengagungkan cintanya pada Tanah Air Indonesia, bahkan melipur lara dari cacian mereka.

Bel sekolah berbunyi satu kali, pertanda jam pelajaran pertama usai terlaksana. Azka beranjak dari posisi hormatnya pada sangsaka, lalu masuk ke kelas dengan renjana yang masih tabah. Air telah beranjak dari seragam putih merah Azka, kemudian

“Woi! Si anak pucat datang lagi!” sahut Andi di balik dinding kelas. Azka tak lagi gentar, langsung melangkahkan kaki cekatan menuju bangkunya.

“ANGKAT KAKI DARI NEGERI KAMI, DASAR PENJAJAH!”

Azka terpaku melihat rangkaian kata-kata sarkas di atas mejanya. Senyum manisnya kuncup seketika. Dongkol dan amarah kadung tertahan dalam benaknya. Wajahnya semrawut laksana bertanya-tanya kepada Tuhan tentang nasib peliknya yang konsisten berderai bak ombak di samudra. Ditulis dengan kapur, memudahkan Azka untuk menghapusnya kembali.

Tas yang basah, terpaksa ia sandarkan di kursi lembabnya, daripada di jemur lalu hilang oleh tangan-tangan jahat mereka. Matanya melongok pada papan tulis kotor kelasnya. Syukurlah, kosong melompong. Hanya ada bekas tinta yang tertinggal di sana. Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat ke arahnya perlahan. Otomatis kepala Azka melongok pada sumber suara itu, sebelum ia melihat seorang anak tampan, berperawakan kecil, dan mengenakan peci di kepalanya. Salhan, satu-satunya teman sekelas Azka yang tidak pernah mengusiknya.

“Az, gak apa-apa kan?” tanya Salhan dengan senyum meneduhkannya.

“Ah, santai saja. Sudah terbiasa dengan ini semua kok,” tukas Azka sedikit canggung.

Azka bergeming sejenak, seraya tak percaya dengan kata-kata Salhan barusan. Umumnya, Salhan tak pernah beranjak dari kursinya, seperti direkat oleh lem China umpamanya. Sembari membaca sebuah buku unik berisikan lantunan syahdu yang menyejukkan, Al-Quran.

“Oh, bagus dong. Salhan di sini hanya ingin memberitai sesuatu, bahwa Pak Tanto baru saja memberikan tugas kepada kita,” jelas Salhan pelan-pelan.

“Apa itu, Han?” tanya Azka serius.

“Jadi Pak Tanto menyuruh kita untuk menulis teks bebas yang bertemakan “indahnya toleransi”, Az.”

Toleransi? Apa telingaku salah mendengar? Raut wajah Azka seolah-olah menggambarkan kemustahilan akan pilih kasih gurunya. Siapa peduli? Lekas ia ambil buku tulis di tas sandangnya yang basah, syukurlah buku tulisnya tak tersentuh setetes air yang membercak.

“Sebelumnya, terima kasih banyak ya, Han,” balas Azka tersenyum bahagia. Sama baiknya dengan Salhan yang menangguk senang dan berlalu dengan sopan.

Andai saja warga negara Indonesia sejiwa, persis dengan Salhan yang acap menebar kedamaian di hati. Pasti hari akan selalu berseri. Halaman putih dan kosong tersibak bersih, bolpoin hitam terapit jemari bak terpeluk erat. Azka siap menuai segala gurat lukanya.

***

Pukul 12:00 tengah hari. Hawa panas di Jakarta mulai melanglang buana. Menerobos pori-pori kulit gesit, menggubris kelenjar keringat untuk bekerja lebih ekstra. Sekufu dengan ingar bingar Ibu Kota yang penuh bising. Kepulan asap kendaraan bermesin disel yang berhilir mudik menjadikan Jakarta sebagai kota polusi. Ya, rasa lokal ala Ibu Kota.

Sejalan pulang menjadi alasan Salhan mengekor pada Azka. Kembali dibuat bingung dengan gelagat aneh Salhan, Azka memberanikan diri untuk bertanya.

“Han, mengapa kau membuntutiku?”

“Bukan begitu, Az. Memang rumahku sejalan dengan rumahmu.” Terangnya pasti, Azka termanggut. Sepanjang perjalanannya di Jakarta, Azka tak pernah menelisik sosok seperti Salhan sebelumnya, bahkan teman seperjalanan layak Salhan. Bingung timbul dalam benaknya.

“Aku baru pindah beberapa hari yang lalu, Az. Entah apa alasan orangtuaku yang sekonyong-konyong menarik tanganku untuk berbenah dari bisingnya Grogol menuju damaInya Cempaka Putih yang terkenal damai.”

Masih satu lurah mereka hidup, hanya saja berbeda denah mereka tinggal. Salhan tinggal di dalam lingkungan yang dinaungi oleh hegemoni indah keislaman, sementara Azka tinggal di daerah majemuk penuh perbedaan. Menciptakan pola pikir baru dalam pikirnya, bahwa rasa nyaman tak sekadar terbatas soal kesenjangan agama, ras, dan budaya. Salhan penyebabnya.

Tersorot teriknya matahari di tengah hari, tebersit keinginan untuk meneduh barang sesaat. Warung bakmi menjadi lokasi transit paling dekat dengan stamina kaki mereka untuk melangkah. Pada akhirnya, segelas es teh manis menjadi pelipur lelah dan gerah. Kesempurnaan Tuhan untuk mengatur segala kesempatan tersibak lebar bagi mahluk-mahluknya.

“Azka, kira-kira bagaimana perasaanmu setelah diperlakukan tak pantas oleh mereka?” tanya Salhan begitu heran. Azka hanya tersenyum simpul setengah hati, malas kadung menjamah hati.

“Serius?” Salhan semakin tak yakin. Aku gusar.

 

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

Exit mobile version