“Zahro…………..Zahro…….,” panggil Sari. Tak ada jawaban yang di dengar, Sari mengulanginya, “Zahro putriku..Zahro.” Merasa tidak ada jawaban dari putri bungsunya setelah memanggil tiga kali. Cepat tapi pasti Sari menginjakkan kaki ke tangga satu demi satu menuju kamar Zahro.
Tanpa basa basi, Sari langsung membuka kamar Zahro. Dilihatnya Zahro sedang tertidur dimeja belajarnya. “Zahro Zahro, bikin kawatir Ibu saja kamu ini,” Gumam Sari dalam hati sambil bejalan mendekati Zahro. Sesampainya Sari disana, senyum Sari berubah menjadi kesedihan secara tiba-tiba. Dia melihat dan membaca tulisan deary Zahro yang terbuka didekatnya.
Ayah
Oh Ayah
Aku Rindu padamu
Aku kangen padamu
Salahkah aku merindukanmu?
Anehkah aku bila kangen padamu?
Haruskah aku pendam semua ini?
Haruskah aku kubur dalam dalam semua ini?
Ayah
Apakah engkau juga merasakannya?
Apakah engkau bisa memahaminya?
Apakah engkau bisa mengetahuinya?
Ayah
Aku tak tahan
Aku bingung
Aku lelah
Aku hancur
Ayah
Hati kecilku menolak kenyataan ini
Diriku berontak dengan semua ini
Darahku terasa beku bagai batu
Mataku padam dari indahnya pelangi hidup
Beban berat harus kupikul dalam bahu
Tanggung jawab harus kupangku
Kerja keras harus ku tempuh
Bahkan senyum Ibu harus kujaga tanpa mengeluh
Terkadang aku ingin marah padamu
Karena rinduku selalu menyebabkan luka Ibu
Namun apa yang bisa aku lakukan?
Aku hanya manusia biasa
Manusia yang mempunyai rasa
Tanpa sadar dan tanpa diminta cairan putih bening mengalir di pipi Sari. “Maafkan Ibu ya, nak,” Ucap Sari sebelum meninggalkan kamar Zahro.
“Zahro…..Ayo bangun sayang, makanan sudah siap,” Kata Sari sambil mengusap kepaala Zahro.
“pukul berapa Bu sekarang?” tanya Zahro.
“Sudah pukul 16.00 sayang. Ayo bangun lalu mandi dan sholat. Setelah itu kita makan sore bersama ya.” Pinta Sari.
“Iya, Bu,” Jawab Zahro.
Kini Sari dan Zahro sudah duduk di meja makan. Ketika Sari membuka tutup makanan, Zahro terbelalak. Makanan yang disajikan pada sore hari ini semua kesukaan Zahro dan Ayahnya.
Zahro bertanya tanya dalam hati, “Sebenarnya apa yang telah terjadi. Semenjak Ayah pergi untuk selamanya, Ibu tidak mau mengingat kesukaan Ayah. Namun kenapa hari ini seolah Ibu ingin mengenang Ayah?”
“Jangan-jangan Ibu melihat puisiku siang tadi. Aduh kenapa aku selalu menyakiti Ibu sih kalau Aku rindu Ayah. Bodoh kamu Zahro, bodoh,” Kata Zahro.
Selesai makan, Zahro meminta maaf kepada Sari.
“Ibu, Zahro minta maaf ya,” Pinta Zahro.
“untuk apa sayang?” tanya Sari.
“Ibu memasak ini semua karena Ibu tahu kalau Zahro lagi rindu Ayah kan? Ibu, mohon jangan siksa diri Ibu sendiri. Zahro tidak sanggup untuk bertanggung jawab pada Ayah, Bu kalau Ibu seperti ini,” Ucap Zahro.
“Zahro sayang, harusnya Ibu yang meminta maaf kepada Zahro karena Ibu sudah egois dan tidak memikirkanmu,” Jawab Sari.
Tangis melanda keduanya. Zahro menghamburkan diri ke pelukan Ibunya. Setelah ini Zahro sering mengungkapkan kerinduannya untuk Ayahnya kepada Sari. Begitupun sebaliknya. Hingga pada akhirnya, Ayah Zahro selalu melekat pada keduanya.
Oleh: Lia Puji Lestari

