Baladena.ID

Setiap manusia memiliki cita-cita dan keinginan tersendiri. Termasuk keinginan untuk mencintai. Menjalin kasih dengan pujaan hati.

Manusia dan cinta adalah dua hal yang tidak akan pernah dapat dipisahkan. Sejak lahir, naluri untuk mencintai dan mengasihi tertanam dalam diri manusia. Sesaat setelah turun ke bumi, bayi tidaklah dapat melihat dunia. Namun ia dapat merasakan cinta sang ibu mengalir deras dalam nadinya.

Dalam proses kehidupan manusia, rasa cinta itu mengalir semakin deras. Cinta itu muncul bukan tanpa sebab. Cinta itu berbanding lurus dengan kebaikan, kekaguman, dan kebersamaan. Apalagi saat manusia mulai mengenal Tuhan. Rasa cinta itu, akan bertambah dan bertambah. Hingga pada saatnya, ia merasakan bahwa aliran cinta Tuhan ia dapati pada mahkluknya. Dan ia mulai mencintai mahkluk yang sejatinya Tuhan kirimkan untuk membersamai proses kemanusiaannya.

Beberapa dari mereka mengatakan jatuh cinta adalah hal yang biasa. Seperti jatuh pada umumnya, mencintai juga berarti rela sakit. Rela berkorban demi yang ia cintai dan siap menanggung resiko patah hati. Sejatinya manusia adalah mahkluk yang sering mengecewakan dan dikecewakan.

Cinta berawal dari sebuah pertemuan. Baik itu secara dzahir mata memandang atau secara batin hati merasa. Pertemuan adalah keharusan universal. Kita mungkin lebih mengenalnya dengan istilah takdir.

Tuhan menggoreskan tinta takdir pada buku yang tersimpan di dalam kuasa-Nya, untuk selanjutnya ditindaklanjuti manusia. Dari sanalah, pertemuan awal mula dua insan yang saling mencintai.

Aku masih percaya pada ungkapan “cinta pada pandangan pertama”. Sejenak ku melirik, hatiku terusik. Entah dari parasnya yang cantik, atau tingkahnya yang menarik. Walau tatapan itu kurasa sepertinya tak lebih dari tujuh detik.

Cinta berawal dari sebuah pertemuan. Baik itu secara dzahir mata memandang atau secara batin hati merasa. Pertemuan adalah keharusan universal. Kita mungkin lebih mengenalnya dengan istilah takdir.

Pertemuan tersebut terjadi secara tidak sengaja. Ia mengatakan kalau semestalah yang membuat aku dan dirinya bertemu. Entah apa yang ia maksud dengan semesta. Apakah itu Tuhan beserta Kuasanya? Atau alam bawah sadar manusia yang menggiringnya? Ataukah ia bermaksud menjelaskan bahwa semesta itu adalah rancangan susunan kehidupan manusia yang berdampak pada masa depan seseorang?

Baca Juga  Cinta dan Energi

Dari sorot matanya ia berhasil memenjaraku dalam lingkup asmara yang dalam. Senyumnya mengukir bayangan di relung hati yang terdalam.

Seperti tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, hari berikutnya aku coba bertegur sapa. Melontarkan beberapa pertanyaan. Entah kenapa, aku merasa ada rasa yang mendorongku untuk lebih mengenalinya lebih jauh.

Sebagai manusia, wajar saja jika aku mempunyai hasrat untuk memiliki. Tentu yang aku lakukan adalah menyusun rencana supaya cinta itu tak luntur dikekang masa.

Sejak itulah aku mulai menulis. Ku luapkan segala hal yang ingin ku sampaikan di sebuah buku hijau bergaris hitam. Aku mulai membuat puisi. Merancang kalimat demi kalimat. Menggores kalam tinta demi tinta.

Rencana awal, akan ku buatkan puisi indah untuknya. Entahlah, mengapa akhir-akhir ini kata-kata puitis seringkali diidentikan dengan Bucin (Budak cinta). Padahal Bucin adalah istilah seseorang yang rela melakukan hal bodoh demi yang ia cintai.

Ku rasa, puisi bukanlah hal bodoh. Ia adalah serangkaian kata yang tersusun akibat perasaan manusia. Ia memiliki karakteristik sesuai dengan kondisi hati seseorang. Bila ia sedih, kata-kata penyesalan dan kekecewaan muncul dalam bentuk status WA atau Facebook.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, baru ketemu kok sudah melontarkan kata-kata puitis? Sebenarnya tidak demikian. Sebelum ada rasa untuk memiliki, terdapat proses yang sangat panjang. Mengungkapkan perasaan mungkin bisa hanya dalam waktu satu hari bertemu. Namun membuat dia percaya kalau hal tersebut bukan sekedar bualan belaka perlu meyakinkan selama berbulan-bulan. Dimulai dengan pendekatan secara emosional sampai pada pendekatan interqolbu.

Baca Juga  [Pesona 1]: Dua Gelas Kopi; Satu Untukku, Satu Lagi Untukmu (?)

Sesulit itukah? Ya, mendapatkan mutiara di dalam laut perlu menunggu berpuluh-puluh tahun. Karena ia begitu berharga dan unik. Dia itu menurutku unik. Ia pendiam namun tak bisa diam. Ia cuek namun perhatian. Ia pintar namun masa bodoh. Ia cantik namun ia jarang berfoto ria. Dan satu hal yang membuatku terpana, ia tidak bisa di tebak. Kadang aku berfikir ia mencintaiku, namun ternyata ia biasa-biasa saja.

Kadang ku berfikir ia merasa bodo amat namun ternyata di belakang ia sangat perhatian. Itulah sebagian misterinya yang membuat diriku tak dapat meninggalkannya. Aku ingin menjadi sebagian misteri kehidupannya.
Sejak pertemuan yang pertama, kami tak pernah bertemu kembali. Entah berapa bulan diriku tak pernah bertemu dengan dirinya. Sejak itu, aku dan dirinya hanya bertatap lewat layar chat WA. Video call pun adalah suatu kemustahilan.

Setiap ku bertanya kabar, ia menjawab ala kadar. Ku bersapa jam 8 pagi, ia membalas jam 8 malam. Baru saja beberapa menit bertegur sapa, tiba-tiba centang dua biru pada layar chat WA. Ia tidur tanpa memberi tahu, ia pergi tanpa sedikitpun berfikir ada orang yang mencari.

Untuk menghindarkanku dari sifat bucin, aku tak pernah berharap ia membalas pesanku. Sesekali mungkin aku bertanya mengapa ia tak lantas membalas pesanku. Jawabannya singkat, “emang kamu siapanya aku?” katanya. Aku hanya tersenyum kecil membaca pesan itu. Bukan karena ia tak menginginkan adanya ikatan hati, namun seringkali ia menguji kebesaran hatiku dengan melontarkan kata-kata yang sedikit agak menyakitkan.

Baca Juga  Jalan Kuliah untuk Anak Buruh Sawah

Begitulah gambaran awal alur cerita yang ingin aku sampaikan. Secara detail akan ku ceritakan dalam naskah berikutnya. Tentu yang jadi pertanyaan, siapakah dia? Siapakah perempuan itu? Apa ia begitu istimewa? Di manakah awal kita bertemu? Dan segelintir pertanyaan-pertanyaan lain yang akan terungkap pada lembaran cerita berikutnya.

Alwi Husein Al Habib
Ketua Umum HMI Korkom Walisongo Semarang dan Mahasiswa Jurusan Tafsir Qur’an di UIN Walisongo Semarang

    Pemuda Berdikari, Pemuda Berorganisasi

    Previous article

    Akibat Berislam Tidak Fundamentalis: Bisa Tak Tahu Rukun Khuthbah

    Next article

    You may also like

    5 Comments

    1. mantap dek alwi, di tunggu novel versi lengkapnya

    2. Greget bacanya

    3. Loh kok gak pernah di lanjut, para pembaca nunggu niiih

    4. Mana nih lanjutannya. Fans menunggu

    5. bang, ini cerita asli lu apa bukan? serius nanya

    Ruang Diskusi

    More in Kisah